MPHI 1: KAJIAN METODE PENELITIAN DALAM PANDANGAN KAMARUZZAMAN BUSTAMAM AHMAD
KAJIAN METODE PENELITIAN
DALAM PANDANGAN KAMARUZZAMAN BUSTAMAM AHMAD
Oleh: Muhammad Habibi,S.Hi
PENDAHULUAN
Tulisan ini akan me-review tentang Materi Kuliah Metodologi Penelitian Tesis yang disampaikan pada Channel Youtube Bapak Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Ph.D.[1] Hal ini dilakukan, untuk memenuhi tugas final dalam matakuliah Metodologi Penelitian/ Penulisan Tesis, Konsentrasi Fiqh Modern, Pascasarjana UIN Ar-Raniry angkatan 2019. Data yang akan di-review merupakan semua materi (video) yang menjadi bahan kuliah dan telah disampaikan melalui Channel Youtube Bapak Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Ph.D, secara berurutan dimulai dari pertemuan kedua (ke-2) sampai dengan pertemuan yang kelima belas (ke-15).[2]
Judul masing-masing materi (video) yang menjadi bahan perkuliahan dari pertemuan kedua sampai pertemuan kelima belas adalah sebagai berikut:
1. Pertemuan kedua; tentang Cara Mengkaji Agama Melalui Ilmu Sosial.
2. Pertemuan ketiga; Seputar Metode Penelitian (Part I) tentang Level Riset.
3. Peretemuan keempat; Seputar Metode Penelitian (Part 2) tentang Spirit Keilmuan.
4. Pertemuan kelima; Seputar Metode Penelitian (Part 3) lanjutan tentang Spirit Keilmuan.
5. Pertemuan keenam; Seputar Metode Penelitian (Part 4) tentang Theory dan Meta Theory.
6. Pertemuan ketujuh; Seputar Metode Penelitian (Part 5) tentang 5 Persiapan Menulis Proposal.
7. Pertemuan kedelapan; Seputar Metode Penelitian (Part 6) tentang Pengalaman Membimbing Skripsi.
8. Pertemuan kesembilan; tentang Cara Berpikir Konseptual.
9. Pertemuan kesepuluh; tentang Cara Memahami Rasa dalam Kebudayaan.
10. Pertemuan kesebelas; tentang Cara Menulis Karya Ilmiah (Part I).[3]
11. Pertemuan kedua belas; tentang Metode Penelitian: Telaah Pustaka (Literature Review).
12. Pertemuan ketiga belas; tentang Metode Penelitian: Cara Membedakan antara Proposal dengan Bab Pendahuluan (Bab 1).
13. Pertemuan keempat belas; Metode Penelitian: Apa yang Anda Lakukan Setelah Proposal Anda Disetujui.
14. Pertemuan kelima belas; Webinar: Covid-19 dalam Studi Masa Depan.
Metode penulisan yang digunakan untuk me-review materi (video) yang menjadi bahan matakuliah Metodologi Penelitian/Penulisan Tesis yang diasuh oleh Bapak Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Ph.D, yaitu dengan cara “menarasikan dan merangkum” hal-hal yang dianggap penting hingga menjadi sebuah tulisan yang komprehensif dan sesuai dengan teknis penulisan karya ilmiah.
Kerangka penulisan dalam review ini, akan menjelaskan dengan dua bagian penting pada setiap materi (video) yang disampaikan. Pertama, terkait dengan “Deskripsi Materi” yang memuat enam poin, yaitu; 1) Judul materi, 2) Tanggal publikasi materi, 3) Tanggal materi ditonton, 4) Link video Youtube, 5) Tingkat pertemuan,[4] 6) Durasi video. Model susunan ini penting untuk dijelaskan mengingat perlunya pembaca untuk mengetahui tulisannya berkaitan “tentang apa”, “kapan publikasi dan ditonton”, “di mana video ini dapat ditemukan”, dan “materinya dijelaskan pada pertemuan yang keberapa”. Dengan mencantumkan link Youtube pada poin ini, pembaca dapat langsung mengecek keaslian video yang memuat tentang materi kuliah Motodologi Penelitian/Penulisan Tesis yang disampaikan oleh Bapak Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Ph.D.
Kedua, terkait dengan “Substansi Materi” yang dijelaskan dalam materi (video). Jadi, dalam model kedua ini, penulis akan berusaha semaksimal mungkin untuk menarasikan hal-hal yang dianggap penting ketika Bapak Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Ph.D, menjelaskan isi materi (video) yang menjadi bahan kuliah mahasiswa Fiqh Modern semester genap tahun 2019-2020, dalam Channel Youtube-nya.
Dalam usaha menguraikan review ini agar menjadi lebih sistematis, penulis telah menyusun dan membaginya ke dalam beberapa uraian dengan rincian sebagai berikut:
Pendahuluan, yaitu mendeskripsikan tentang tujuan dan signifikansi mengapa review materi (video) yang menjadi bahan kuliah dilakukan.
Pembahasan, yaitu pemaparan yang berkaitan dengan topik inti dalam review ini, yang meliputi empat belas (14) bagian, di antaranya; 1. Pertemuan kedua; Cara Mengkaji Agama Melalui Ilmu Sosial. 2. Pertemuan ketiga; Seputar Metode Penelitian (Part I) tentang Level Riset. 3. Pertemuan keempat; Seputar Metode Penelitian (Part 2) tentang Spirit Keilmuan. 4. Pertemuan kelima; Seputar Metode Penelitian (Part 3) lanjutan tentang Spirit Keilmuan. 5. Pertemuan keenam; Seputar Metode Penelitian (Part 4) tentang Theory dan Meta Theory. 6. Pertemuan ketujuh; Seputar Metode Penelitian (Part 5) tentang 5 Persiapan Menulis Proposal. 7. Pertemuan kedelapan; Seputar Metode Penelitian (Part 6) tentang Pengalaman Membimbing Skripsi. 8. Pertemuan kesembilan; tentang Cara Berpikir Konseptual. 9. Pertemuan kesepuluh; tentang Cara Memahami Rasa dalam Kebudayaan. 10. Pertemuan kesebelas; tentang Cara Menulis Karya Ilmiah (Part I). 11. Pertemuan kedua belas; tentang Metode Penelitian: Telaah Pustaka (Literature Review) 12. Pertemuan ketiga belas; tentang Metode Penelitian: Cara Membedakan antara Proposal dengan Bab Pendahuluan (bab 1). 13. Pertemuan keempat belas; Metode Penelitian: Apa yang Anda Lakukan Setelah Proposal Anda Disetujui. 14. Pertemuan kelima belas; Webinar: Covid-19 dalam Studi Masa Depan.
Penutup, bagian ini berisi kesimpulan yang telah dirangkum dari penjelasan pada bagian pembahasan secara lebih ringkas dan sistematis.
PEMBAHASAN
Sebagaimana telah disebutkan pada pendahuluan, bagian ini akan menguraikan setidaknya empat belas (14) bagian penting yang menjadi bahan kuliah dalam Matakuliah Metodologi Penelitian/Penulisan Tesis, semester genap tahun 2019-2020, di unit Fiqh Modern, Pascasarjana UIN Ar-Raniry. Berikut akan dijelaskan pembahasannya secara sistematis.
A. Pertemuan kedua: Cara Mengkaji Agama Melalui Ilmu Sosial.
1. Deskripsi Materi (Video)
a. Judul Materi : Cara Mengkaji Agama Melalui Ilmu Sosial
b. Tanggal Publikasi : 18 Maret 2020
c. Tanggal ditonton : 18 April 2020
d. Link Youtube : https://www.youtube.com/watch?v=zYwQEue22es
e. Tingkat Pertemuan : Pertemuan Kedua.
f. Durasi Video : 29.04 menit
2. Substansi Materi
Materi ini berusaha mengkaji agama melalui ilmu sosial, atau lebih tepatnya apa saja yang dapat dikaji dalam agama melalui perspektif ilmu sosial. Hal ini nantinya bisa terkait dengan hukum, terkait dengan perubahan masyarakat, tidak menutup kemungkinan terkait dengan apa yang sering dikenal dengan ritual, dan lebih dari itu juga terkait dengan model bangunan-bangunan dalam masyarakat.
Beberapa literatur yang dapat digunakan (dapat bertambah sesuai dengan bahan bacaan peneliti), tentang agama dikaji secara ilmu sosial. Pertama, tulisan yang menarik sebagai bahan utama yaitu buku yang berjudul Antologi Studi Islam (Teori dan Metodologi) yang menjadi editornya adalah Prof. Amin Abdullah. Dalam buku ini ada satu bab khusus tentang pendekatan sosiologi dalam studi Islam yang ditulis oleh Prof. Atho Mudzar yang merupakan guru besar di UIN Sunan Kalijaga, dan salah satu bab dalam buku ini adalah pidato pengukuhannya yang sangat bagus ketika beliau mencoba menarasikan bagaimana pengaruh ilmu sosial dalam studi agama. Dalam buku tersebut Prof. Atho Mudzar menceritakan bagaimana keterkaitan antara ilmu Sosiologi atau mungkin juga Antropologi ketika memahami hukum Islam. Namun sebelum itu, Prof. Atho Mudzar menarasikan lima hal yang distudi oleh ilmu sosial dalam Agama.
a. Studi tentang naskah
Dalam hal ini, para peneliti dapat mengetahui apa saja simbol-simbol yang ada dalam suatu agama. Dalam bidang ini juga dapat mengkaji tentang naskah-naskah dan sumber ajaran. Jadi, dalam poin ini topik kajiannya lebih menjurus kepada bentuk-bentuk pengetahuan yang ada dalam sistem berfikir pada suatu agama.
Ada beberapa contoh kajian tentang simbol-simbol agama, di antaranya;
1) Sebagai contoh, dapat diambil dari orang Aceh yang kajiannya telah diterbitkan di Malaysia yang dikaji oleh Hermansyah Muhammad Yahya dan Muhammad Efendi. Jadi para pengkaji dapat menggunakan ilmu sosial ketika melihat naskah-naskah kuno, atau kitab-kitab yang muncul dalam masyarakat. Misalnya kitab yang ditulis di Aceh, selanjutnya di klaim sebagai kitab pembuatan Melayu dengan judul Ar-Rahmah Fi aṭ-Ṭib Wa al-Ḥikmah yang ditulis oleh Syeikh Abbas Kutakarang dari Aceh Darussalam. Artinya peneliti dapat mengkaji secara Ilmu Sosial tentang “apa” dan “bagaimana” bentuk-bentuk pengetahuan atau isi dari kitab tersebut yang ternyata berbicara lebih banyak tentang perobatan dan ini menjadi pengetahuan lalu bagaimana pengetahuan yang ada dalam kitab tersebut muncul pada masyarakat dan waktu itu.
2) Peneliti juga dapat mengkaji tentang bagaimana proses munculnya kitab Tajul Muluk dalam masyarakat Aceh. Ataupun pengkaji juga dapat meneliti tentang nasakh-naskah yang ada dalam masyarakat tradisional dan menghimpun sekian pengetahuan.
3) Contoh lain, para peneliti juga dapat mengkaji lebih jauh, misalnya buku yang ditulis oleh Nurkhalid Ridwan dengan judul Kajian Kritis dan Komprhensif Sejarah Lengkap Wahabi (Perjalanan Panjang Sejarah, Doktrin, Amaliah dan Pergulatannya), jadi juga dapat dilihat dari segi ilmu sosial bagaimana istilah atau ajaran yang disebut sebagai Wahabi kemudian dikaji secara ilmu sosial, contohnya tentang pergerakan ajaran Wahabi yang mesti dirujuk kepada sumber yang kompeten yang kemudian dimunculkan bentuk pengetahuan dalam ajarannya.
4) Contoh selanjutnya, mengkaji buku yang ditulis oleh KH. Sirajuddin Abbas, tentang ‘I‘tiqad Ahlu Al-Sunnah Wa Al-Jamá‘ah, yang selanjutnya dapat dilihat lebih jauh bagaimana rujukan yang digunakan atau bentuk pengetahuan yang ditawarkan dalam buku tersebut. Selanjutnya juga dapat dilihat apakah praktiknya sesuai dengan penjelasan-penjelasan yang telah dikaji oleh para sarjana. Jadi, menimbang melihat dari segi hitam putih, mengapa tidak dilihat dari segi ilmu sosial misalnya dari aspek sejarah, dari aspek sosiologisnya, antropologisnya, filologisnya. Artinya, peneliti dapat menarasikan kedua hal tersebut secara lebih mendalam.
5) Contoh lainnya seperti kajian yang telah ditulis oleh Muhammad Zuhra dengan judul Tradisi Intelektual NU. Ketika ingin mengkaji NU, peneliti harus mengetahui bagaimana sebenarnya praktik pemikiran NU yang dapat digunakan pendekatan sejarah. Atau juga dapat dikaji misalnya buku dengan judul MUHAMMADIYAH yang ditulis oleh Alfian.
Berbagai contoh yang telah disebutkan di atas merupakan bahan-bahan kajian yang dapat dilakukan ketika melihat simbol-simbol ajaran dan keagamaan dari segi ilmu sosial.
b. Studi tentang Peganut
Bidang ini dapat dilakukan untuk mengkaji sikap, prilaku dan penghayatan. Ilmu Sosial, Sosiologi dan Antropologi sangat membantu dalam mengkaji dan melihat tingkah laku penganut agama. Contoh kajian ini yaitu: Kajian yang dilakukan oleh Nurkhalid Ridwan yang menulis tentang Islam Borjuis dan Islam Proletan (Kontruksi Baru Islam di Indonesia) tahun 2001, tulisan ini adalah sebuah gugatan yang ditulis secara sosiologis tentang prilaku, sikap, pemikiran atau kehidupan kelompok muslim kelas menengah di Indonesia.
Tema yang kedua lebih banyak melihat tindakan nyata dalam sebuah masyarakat terkait ajaran dalam pelaksanaannya. Contoh lain, yaitu sebuah buku yang ditulis oleh Prof. Nuruzzaman As-Siddiqin menulis tentang pemikiran ayah beliau Teungku Muhammad Hasbi As-Siddiqi dengan judul Fiqh Indonesia. Artinya dalam kajian ini, ingin melihat apa pola pikir, dan bagaimana aspek sosiologisnya hingga memunculkan istilah Fiqh Indonesia.
Dari sini, dapat dipahami bahwa Agama dapat dikaji dari perspektif ilmu sosial. Sebagai contoh para peneliti juga dapat mengkaji bagaiamana rasa keberagamaan dalam masyarakat.
c. RITUS (Ritual, Ibadah dan Lembaga)
Selanjutnya, cara mengkaji agama melalui ilmu sosial juga bisa dilukan untuk menelusuri RITUS, seperti salat, puasa, dan lain-lain. Di sini ilmu sosial tidak mengkaji dalam aspek normatif, namun lebih kepada kajian sosiologis. Bagaimana sebenarnya perubahan masyarakat, bagaimana gejala sosial, bagaimana gejala budaya dalam suatu masyarakat, misalnya dalam bulan puasa, secara sosiologis masyarakat akan berubah polanya, secara sederhana, kita dapat melihat banyak iklan yang bernuansa islami, iklan, berita dan acara gosip akan bernuasa religi. Artinya nilai-nilai religi dimasukkan karena ada bulan Ramadhan. Di Aceh ada seribu jenis kuliner ketika bulan Ramadhan datang, bahkan terjadinya Tren buka bersama yang terkadang dapat membuat salat terawih berjamaah tidak dilakukan. Kemudian kita menemukan jenis menu minuman dimana-mana, air kelapa dan lain-lain. Namun ketika satu (1) Syawal datang, semua tren yang tadinya terjadi sebulan penuh tiba-tiba hilang dengan sendirinya, dan masyarakat kembali ke aktivitas seperti sebelum Ramadhan.
Diri sini, dapat dipahami bahwa ilmu sosial berusaha untuk mengetahui “mengapa” masyarakat berubah-rubah berdasarkan ritual yang dilakukan dari masa ke masa.
d. Alat (Simbol yang digunakan dalam masyarakat)
Contoh kajian ini adalah berusaha menelusuri tentang alat yang digunakan oleh umat beragama, misalnya bentuk masjid, kopiah/peci. Kajian tentang masjid misalnya bagaimana bentuk masjid “Pancasila” di Aceh yang dipengaruhi oleh faktor sosiologis yang terjadi. Masjid bernuasa timur tengah seperti yang ada di Banda Aceh, bahkan ada Masjid yang dinamakan dengan Masjid Kupiah Meukeutóp di wilayah Setui Banda Aceh. Kita dapat mengkaji bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam bentuk masjid tersebut.
e. Gerakan-gerakan keagamaan yang muncul dalam masyarakat.
Seperti telah disebutkan sebelumnya, yaitu gerakan Wahabi, Aswaja, NU, Muhammadiyah, dan ini adalah kajian yang sangat sosiologis terhadap fenomena yang terjadi. Para sosiolog dapat menarasikan peristiwa dan kejadian tersebut dengan sistematis keterkaitan antara tokoh, aksi, struktur sosialnya, gratifikasi sosialnya dalam sebuah organisasi ormas. Dalam Masyarakat Nusantara hari ini, banyak sekali Organisasi Kemasyarakatan yang berbasis keagamaan, yang dapat dikaji selanjutnya tentang “Ideologi” suatu ormas, “sejarah dasar” munculnya sebuah ormas, bagaimana ormas dipahami oleh masyarakat tertentu dalam komunitas Islam.
Inilah lima hal yang menjadi peta bagaimana agama dikaji melalui ilmu sosial, yaitu; kajian terhadap naskah, tentang para penganut (sikap, prilaku dan penghayatan), RITUS (Ritual, ibadah, lembaga), Alat, Gerakan kaagamaan yang timbul dalam masyarakat.
B. Pertemuan ketiga; Seputar Metode Penelitian (Part I) tentang Level Riset.
1. Deskripsi Materi (Video)
a. Judul Materi : Seputar Metode Penelitian (Part I) tentang Level
Riset.
b. Tanggal Publikasi : 27 September 2019
c. Tanggal ditonton : 19 April 2020
d. Link Youtube : https://youtu.be/4KE2Nuk-f6U
e. Tingkat Pertemuan : Pertemuan ketiga.
f. Durasi Video : 14.12 menit
2. Substansi Materi
Pada pembahasan ini akan dijelaskan hal-hal penting yang dapat digunakan ketika hendak melakukan penelitian. Ada beberapa penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang kemudian dipublikasi pada media tertentu yang mesti diperhatikan beberapa hal untuk melihat penelitian yang dilakukan itu berada pada tingkat berapa dalam dunia penelitian.
Dalam sebuah penelitian, enam level riset yang dapat dilakukan oleh peneliti:
a. Hanya mendeskripsikan data
Contoh model penelitian ini adalah karya ilmiah yang dilakukan oleh Mahasiswa Strata Satu (S-1). Pada level ini, tidak dperlukan menyajikan terlalu rinci dalam menguraikan karya ilmiahnya, tetapi cukup hanya menggambarkan data yang didapatkan dengan model analisa yang dianut/dipakai. Pada level ini, kajiannya sering dilakukan oleh mahasiswa s-1 karena mereka belum diminta menggunakan teori dalam penelitiannya tetapi hanya untuk mendeskripsikan data, menjelaskan data yang ditemukan selama dalam penelitian.
Nilai tambah yang didapatkan dalam karya ilmiah model ini adalah kekuatan data yang dihasilkan, bagaimana dia menyajikan data, serta (kalau ada) analisa yang digunakan untuk menganalisis data yang disajikan tersebut. Level ini hanya digunakan untuk para pemula saja.
b. Mendeskripsikan data dan muulai menggunakan teori di dalam penelitiannya.
Penelitian ini biasanya dilakukan oleh magister S-2, atau mahasiswa S-1 yang sudah mempunyai bahan bacaan yang mencukupi. Pada level dua, peneliti menyajikan data, tapi data yang disajikan tersebut sudah melalui kerangka teori atau teori yang digunakan pada saat menyajikan data. Biasanya narasi datanya dilakukan dengan narasi teori tertentu, namun biasanya kebingungan dalam menggunakan teori yang digunakan atau dipakai. Namun juga, terkadang dia tidak memiliki kemampuan untuk menganalisa lebih lanjut. Jika terdapat kendala seperti ini, maka peneliti membutuhkan latihan ekstra yang mesti dilakukan dalam penulisan karya ilmiah, terutama dalam bentuk tesis.
Pada level kedua ini, teori yang diambil dalam sebuah paradigma keilmuan atau sebuah mazhab kemudian dijadikan sebagai pisau analisa, dengan tujuan digunakan untuk menguji, atau menjadikan terori tertentu sebagai cara pandang dalam menyajikan datanya, atau dapat menemukan teori baru. Namun sebelum sampai pada tahap meemukan teori baru, peneliti harus naik pada level riset yang ketiga di bawah ini.
c. Mendeskripsikan daa dan mampu menelaah dengan beberapa teori.
Pada level ini, kajiannya sudah berbicara pada diskursus keilmuan, dimana peneliti mampu mendeskripsikan data dengan menelaah atau menganalisa dengan beberapa teori dari satu bidang ilmu. Level seperti disebut level riset wacana yang biasanya dibuat oleh mahasiswa magister yang kuat dalam bacaannya atau siapapun yang sudah mampu melihat satu permasalahan dengan dua atau tiga teori dan dapat dideskripsikan secara diskursus.
Pada level ini, biasanya sudah dilakukan oleh mahasiswa program s-3 (Doktor). Para calon doktor (S-3) biasanya akan diminta untuk mempelajari bidang keilmuan mereka secara speksifik dan kemudian setelah itu baru diminta untuk menggunakannya terhadap data yang ditemukan. Level ketiga ini baru dapat dilakukan jika seorang peneliti mampu menguasai suatu kerangka besar dalam keilmuan yang dia dalami kemudian dia mampu mencari atau menemukan berbagai teori dari kerangka keilmuan yang didalami. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh mereka yang sudah pada tahapan S-3.
d. Mendeskripsikan data plus teori, lalu memunculkan suatu teori baru. (S3)
Level keempat ini merupakan kegiatan yang sulit untuk dilakukan terlebih bagi peneliti yang tahu tentang apa yang sedang dilakukan. Biasanya mahasiswa S-3 sudah memiliki data yang bagus, namun tidak mampu memberikan nama terhadap apa yang sebenarnya sedang dilakukan. Ini merupakan hal yang membutuhkan latihan yang lebih giat dalam bidang Finding New Theory. Biasanya peneliti mampu berbicara tentang sebuah teori (Finding New Theory) dalam percakapannya, namun dia tidak tahu bahwa percakapannya tersebut adalah sebuah teori keilmuan.
Mahasiswa S-3 harus mampu mempelajari tentang bagaimana Finding New Theory, dan ini bukanlah pekerjaan yang mudah karena Teori adalah sebuah perenungan atau hasil kontemplasi dalam sebuah penulisan dan pendalaman terhadap data-data dalam penelitiannya yang bisa jadi telah dilakukan satu atau dua tahun.
Pada level yang keempat ini, sangat baik untuk dibaca buku-buku Filsafat Ilmu, kemudian bagaimana Critical Theory, Meta Fisika atau Meta Teori. Semua ini perlu dipelajari agar tidak memunculkan kebingungan pada mereka yang Kuliah Doktor, hingga tidak mampu mengantar pada sebuah wacana keilmuan dalam tesis atau desertasinya, ketika terutama ada beberapa kampsu yang masih mengatakan bahwa Pendahuluan merupakan bagian dari proposal, padahal pendahuluan adalah mengantar pembaca pada temuan-temuan teorinya/hasil kajian yang selanjutnya dielaborasikan dalam setiap bab dalam penelitiannya. Jika peneliti sudah selesai pada level keempat, maka pengkaji dapat terus meningkat pada posisi berikutnya, yaitu yang kelima, sebagaimana dijelaskan di bawah ini.
e. Mendeskripsikan data lalu memiliki dampak bagi suatu kebijakan
Level ini biasanya riset yang mampu membuat teori baru dan mampu mengubah cara pandang atau cakrawala masyarakat yang dimulai dengan apa yang biasa di sebut Social Engenering (Mereka yang sangat sosial).
f. Perenungan lalu muncul suatu teori.
Pada level ini biasanya dilakukan oleh para filosof atau para pemikir, dimana perenugan mereka atau kontemplasi mereka selalu menjadi sebuah teori dan mereka biasanya sudah melewati tahapan/level satu sampai dengan lima.
Dapat disimpulkan bahwa, level riset dari satu sampai dengan enam, merupakan perjalanan para peneliti ketika hendak menyelami dalam dunia penelitian.
C. Peretemuan keempat; Seputar Metode Penelitian (Part 2) tentang Spirit Keilmuan.
1. Deskripsi Materi (Video)
a. Judul Materi : Seputar Metode Penelitian (Part 2) tentang Spirit
Keilmuan
b. Tanggal Publikasi : 02 Oktober 2019
c. Tanggal ditonton : 19 April 2020
d. Link Youtube : https://youtu.be/-XUnYfl9Ht4
e. Tingkat Pertemuan : Pertemuan Keempat.
f. Durasi Video : 8.33 menit
2. Substansi Materi
Pada materi ini, akan dijelaskan tentang spirit keilmuan yang dipaparkan melalui sebuah skema yang sangat menarik. Secara historis, skema yang akan dijelaskan nantinya muncul setelah adanya perjalanan selama dua minggu di Jepang, yang seperti adanya kekuatan yang tertanam dalam jiwa masyarakat Jepang. Bagan ini dilahirkan setalah melihat orang Jepang yang mampu beradaptasi dengan dunia modern tetapi tidak melupakan aspek keyakinan mereka sebagai orang Sinto.
Bagan ini merupakan sebuah rangkaian yang dapat digunakan oleh para mahasiswa Pascasarjana, agar dapat mengetahui dimana posisi kajiannya, apa riset yang sedang dikaji dan bagaimana menghubungkan dengan dunia teori, skema inilah yang akan menguraikan lebih lanjut untuk mengetahui pada bagian apa kajian yang sedang dilakukan.
Berikut ini adalah penampakan Skema tentang spirit keilmuan:
|
_________________|_________________ | | |
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Penjelasan dari skema di atas adalah sebagai berikut:
Di Barat, kajian spirit pernah dikupas oleh Hegel. Sedangkan di Nusantara pernah dimunculkan oleh Hamzah Fansuri. Jadi, spirit dapat memberikan kekuatan keilmuan pada seseorang sehingga mampu menjadi seorang ilmuan atau filosof dalam tiga hal. Jadi mengapa seseorang menjadi berjasa dalam rimba ilmu pengetahuan? jawabannya karena mereka mampu memaknai spirit dan diturunkan dalam bentuk-bentuk keilmuan dan dalam bentuk kajian dan kemudian diteruskan oleh para peneliti berikutnya.
Para pemula juga dapat mencoba masuk dalam kajian seperti ini, dengan pendakian intelektual dalam sebuah penelitian, dan kemudian akan membentuk cakrawala peradaban sebuah bangsa. Jadi, jika ada ilmuan yang sampai pada persoalan spirit, maka dia akan mampu menerjemahkan dan memberikan wacana keilmuan sampai ke akarnya. Oleh karena itu, Hegel, Herder (Barat) dan Hamzah Fansuri (Nusantara) yang masih memberikan dampak sampai hari ini.
Dari Spirit akan muncul tiga hal penting:
a. Value (Nilai)
Hasil karya para ilmuan tersebut diturunkan dari konsep spirit tersebut ke dalam bentuk nilai, yang selanjutnya, jika diturunkan kan kembali menjadi kekuatan etika/ethics. Artinya, karya mereka menjadi kekuatan yang mampu memberikan arah yang lebih baik untuk generasi berikutnya yang membentuk moral baik dan buruk yang didasarkan atas spirit. Setelah Moral, biasanya menurunkan tingkah laku/Behavior yang kemudian memunculkan social action/aksi sosial, yang selanjutnya membentuk sebuah kebudayaan/Culture. Secara umum, kebudayaan memuat sistem makna, sistem berfikir dan di situ ada persoalan tentang simbol. Dari sini peneliti harus mampu melihat kajiannya tersebut masuk ke dalam kategori yang mana, apakah Behavior atau social action yang selanjutnya baru masuk dalam dunia teori dibalik konsep ini.
b. Religion
Maksud religion pada poin ini terserah peneliti ingin mengkaji tentang agama apa. Di bawahnya akan memunculkan Art, yaitu visualisasi agama melalui seni, yang hampir semua agama sangat menghargai seni. Dari Agama ini kemudian direkam dalam bentuk puisi, tarian, kaligrafi. Dari seni muncul Meaning/makna, yang selanjutnya melahirkan kajian tentang simbol, dan kemudian muncul Socio Cultural dan memunculkan Ritual.
Untuk poin selanjutnya yaitu (c) tentang Intellectual akan dijelaskan pada materi (video) setelah ini, karena mengikuti berdasarkan urut-urutan materi (video) yang menjadi bahan kuliah penulis.
D. Pertemuan kelima; Seputar Metode Penelitian (Part 3) lanjutan tentang Spirit Keilmuan
1. Deskripsi Materi (Video)
a. Judul Materi : Seputar Metode Penelitian (Part 3) lanjutan tentang
Spirit Keilmuan
b. Tanggal Publikasi : 07 Oktober 2019
c. Tanggal ditonton : 19 April 2020
d. Link Youtube : https://youtu.be/NbIbaQvlfpc
e. Tingkat Pertemuan : Pertemuan kelima.
f. Durasi Video : 13.16 menit
2. Substansi Materi
Materi ini merupakan lanjutan dari video sebelumnya yang membahas berkaitan dengan skema tentang Spirit untuk poin yang ketiga (c).
c. Intellectual
Dari Spirit, banyak para ilmuan banyak memfokuskan diri menjadi seorang Intelektual, yang melewati proses Reasoning (Usaha menggunakan kadar akal). Dalam beberapa literatur ada beberapa metode-metode Reasoning yang kemudian melahirkan apa yang disebut dengan Meditation atau kontemplasi, ada perenungan (proses teori), yang berikutnya akan memuncukan System of Ideas. Artinya, ide-ide para ilmuan sudah menjadi semacam sistem yang kemudian membentuk sebuah The Power Of Ideas (kekuatan sebuah pikiran/gagasan), dan akan memberikan diskusi dan cakrawala yang cukup mendalam, dalam kajian filsafat/Philosophy yang seterusnya melahirkan pola pikir atau Paradigm.
Spirit adalah kekuatan daya ledak dari pendakian spiritual dan intelektual para filosof dalam menurunkan apa yang mereka dapatkan. Ada mereka yang hanya bermain pada Values, ada yang mampu bermain pada Paradigm, ada yang mampu menjelajahi bidang Arts.
Bagi seorang peneliti, kemampuan menemukan ruang lingkup kajian yang sedang degeluti merupakan hal yang sangat penting, agar dapat memahami kajiannya sendiri sebenarnya berada pada kelompok bidang apa.
E. Pertemuan keenam; Seputar Metode Penelitian (Part 4) tentang Theory dan Meta Theory.
1. Deskripsi Materi (Video)
a. Judul Materi : Seputar Metode Penelitian (Part 4) tentang Theory
dan Meta Theory
b. Tanggal Publikasi : 12 Oktober 2019
c. Tanggal ditonton : 19 April 2020
d. Link Youtube : https://youtu.be/RW_k8zrymK8
e. Tingkat Pertemuan : Pertemuan keenam
f. Durasi Video : 15.58 menit
2. Substansi Materi
Teori dan Meta Teori merupakan dua hal yang dapat membuat peneliti kebingungan menyelesaikan penelitiannya. Namun dalam materi ini akan dikupas tentang “apa” dan “bagaimana” teori dan meta teori diaplikasikan dalam dunia penelitian.
a. Definisi Teori
Teori adalah If yout use the word ‘theory’ in the sense of theory, what you mean by it as a general proposition, or logically-connected system of general propositions, which establishes a relationship between two or more variables.[5] (teori adalah sebuah penjelasan yang menguraikan antara dua atau lebih dari variabel). Artinya disini Teori adalah ketika penulis dapat menjelaskan satu atau dua hal atau lebih dari itu dalam sebuah kalimat atau proposisi.
Makna lain dari teori yang sering digunakan oleh ahli sosial, yaitu menjelaskan fenomena sosial tertentu (A theory is an explanation of a particular social phenomenom). Walaupun dibahasakan dengan kalimat yang sederhana, sebuah teori akan menjelaskan hal yang cukup dalam, karena sudah melewati satu penelitian yang dilakukan oleh orang-orang tertentu.
Selanjutnya, arti yang ketiga dari teori adalah The main goal of a theory is ti say something about empirical phenomena in the social world (Teori bertujuan menjelaskan atau memberikan sebuah narasi terhadap fenomena empiris dalam dunia sosial). Artinya teori digunakan untuk menjelaskan fenomena yang terjadi dalam kegiatan sehari-hari yang dinarasikan dari hasil sebuah kajian penelitian. Artinya ketika kita mampu menjelaskan fenomena sosial secara detail, maka itu sebenarnya kita sedang melakukan proses teoritisasi. Hanya saja terkadang peneliti tidak menyangka bahwa dirinya sedang berteori.
Penjelasan teori yang keempat yaitu ketika seseorang merujuk kepada seseorang dalam bidang ilmu sosial dan menjelaskan analisisa dan melakukan kritik terhadap sebuah terori tersebut. Disini bisa saja melihat dan menguji kekuatan dari sebuah teori tersebut. Dari apa yang telah disampaikan oleh para ilmuan, peneliti biasanya juga berusaha menjelaskannya kepada pembaca tentang teori yang sedang ditulis.
Charles Taylor menjelaskan bahwa teori adalah hasil kontemplasi/perenungan manusia yang dapat mendekatkan diri manusia kepada suatu yang bersifat menyucikan seseorang. (Theoria, or contemplation of the unchanging order, is one of the highest activities of man, one which brings him close to the divine). Dari sini biasanya pendalaman ata perenungan seseorang terhadap apa yang telah dihasilkan, biasanya mereka melakukan upaya kontemplasi atau berfikir maka orang tersebut sebenarnya sedang melakukan proses Theoria.[6]
b. Persoalan teoritisasi
Ada beberapa persoalan yang signifikan antara teori, metodologi dan philosophy.
Teori berusaha mengkronstuksi sebuah model suatu persitiwa yang dengan itu dapat menjelaskan sebab atau akibat kejadian suatu peristiwa atau dapat menjelaskan sebab suatu kejadian secara konseptual. (Theory is concerned with constructing consepts and models and with making general but detailed explanations of certain types of events and processes which can be used to explain the cause of actual events and processes).
Metodologi lebih banyak berbicara prosedur/proses konstruksi teori dan mengujinya atau lebih banyak bicara tentang cara bekerja. (Methodology is concerned with the framework of general concepts, categories, model, hyphotheses, and prosedures which are employed in theory contruction and testing).
Philosophy is concerned with the epistemological, ontological, and semantical asumptions (often tacit) about the general structure of knowledge and the general stucture of the world which underpin and infuse the methodologies and theories of particular discourses.[7] Filosofi lebih banyak berbicara tentang epsitemologi, ontologi ddan kerangka semantik, dan penggabungan antara pekerjaan teori dan metodologi.
c. Meta-theory
Meta-Theory is matters of more general kind relating to ontology, epistemology, and methodology.[8] Meta teori penggabungan Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi, yang kemudian menyebabkan seseorang dalam melakukan proses teoritisasi.
Paling tidak ada empat hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan pengaplikasian meta-teori.
Pertama, melakukan reduksi terhadap fenomena sosial dalam bentuk satu teori yang dilakukan dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Misalnya para peneliti menggunakan teori-teori dari Barat untuk memahami fenomena sosial dan kebudayaan yang tidak sama dengan kehidupan sosial an kebudayaan para peneliti tersebut. Pola ini, dalam penelitian ini ingin melakukan kontruksi ulang terhadap hasil-hasil analisa terhadap pengetahuan masyarakat yang telah dianalisa melalui teori-teori ilmu sosial.
Kedua, esensialis dimana para peneliti membuat satu analisa dari kesamaan jenis fenomena sosial, seperti istilah tuha peut, tuha lapan, ureung tunong, ureung baroh, ureung Aceh, ureung pidie, ureung Gayo, ureung Batak. Dari sini pemahaman dari kelompok tersebut terkadang mewakili pengetahuan suatu komunitas. Kajian terhadap hal seperti ini kemudian menggiring peneliti pada kesamaan persepsi dan lokalitas. Namun persepsi kita tentu akan berbeda terjadi hubungan sosial antara masing-masing jenis fenomena sosial tersebut. Artinya, peneliti tidak serta merta melakukan penggiringan ide atau opini terhadap sebuah konsep yang muncul dalam masyarakat.
Ketiga, reifikasi yaitu persoalan ketika memberikan atribut pada prilakuk yang sebenarnya bukan pelaku utama. Dalam konteks ini kesalahan pada persoalan teoritisasi adalah karena tidak memahami siapa sebenarnya pelaku utama dalam suatu komunitas.
Keempat, selanjutnya adalah teleologi fungsional dimana terkadang peneliti tidak mampu membedakan antara pengaruh dan fungsi dalam kehidupan sosial masyarakat.
Kajian terhadap empat hal tersebut menjadi landasan awal ketika proses penyerapan pengetahun lokal diangkat di dalam sebuah penelitian. Hal ini karena pengetahuan lokal adalah sisi pemikiran yang muncul di dalam satu kemuditas, maka persoalan memahami reproduksi ilmu pengetahuan dan kebudayaan menjadi pra-syarat, sebelum analisa lanjutan dilakukan.
Dalam studi meta-teori, Ritzer (1996) membaginya ke dalam tiga model.
Pertama, Kajian meta teori yang lebih memfokuskan pada studi terhadap teori, ahli teori, kemunitas teoritikus.
Kedua, telaah terhadap teori yang telah ada lalu dimunculkan teori baru.
Ketiga, studi terhadap teori untuk membangun suatu perspektif atau paradigma keilmuan.
F. Pertemuan ketujuh; Seputar Metode Penelitian (Part 5) tentang 5 Persiapan Menulis Proposal.
1. Deskripsi Materi (Video)
a. Judul Materi : Seputar Metode Penelitian (Part 5) tentang 5
Persiapan Menulis Proposal
b. Tanggal Publikasi : 14 Oktober 2019
c. Tanggal ditonton : 19 April 2020
d. Link Youtube : https://youtu.be/9_nbtWTTRfE
e. Tingkat Pertemuan : Pertemuan Ketujuh.
f. Durasi Video : 17.25 menit
2. Substansi Materi
Materi ini akan mengupas tentang tahapan yang harus dilakukan oleh peneliti ketika ingin membuat sebuah penelitian. Berikut akan diuraikan lima persiapan menulis proposal penelitian;
a. Memahami betul akar filosofis kerangka keilmuan yang sedang digeluti.
1) Poin pertama ini merupakan ranah filsafat ilmu pengetahuan. Peneliti yang menggeluti satau atau beberapa disiplin ilmu diharuskan memiliki kemampuan untuk menjelaskan kedudukan ilmu pengetahuan.
2) Dari sini peneliti akan diperkenalkan dengan teori, filsafat, konsep, aliran pemikiran, perdebatan teori dan meta-teori, dan ilmu-ilmu dasar yang dapat menopang kerangka berpikir peneliti.
3) Kelemahan peneliti pada tahapan ini yaitu dapat menyebabkan mereka tidak mengetahui kedudukan ilmu yang sedang dipelajarinya.
4) Pola ini nantinya akan memberikan dasar-dasar bagi peneliti untuk mampu berpikir secara konseptual.
5) Karena tidak mengetahui akar-akar keilmuan, maka peneliti merasa tidak begitu akrab dengan ilmu yang sedang diminatinya.
6) Dampak yang ditimbulkan adalah mereka sering mengalami situasi yang stagnan atau bahkan merasa asing, ketika ada tugas di dalam perkuliahan.
b. Mempelajari dan memahami perkembangan ilmu
1) Pra-syarat ini merupakan suatu kewajiban yang harus dilewati oleh setiap peneliti pascasarjna. Mereka harus akrab dengan berbagai publikasi riset yang terbit baik di dalam negeri maupun luar negeri. Karena itu, kemampuan dalam bahasa asing sangat diperlukan. Hal ini disebabkan perkembangan ilmu pengetahuan di luar negeri berkembang setiap hari. Jurnal-jurnal ilmiah selalu menerbitkan teori atau data terbaru mengenai satu atau lintas-disiplin ilmu.
2) Kita tidak boleh hanya bergantung pada hasil-hasil penelitian yang ada di sekitar kita saja. Peneliti harus mampu berdialog secara keilmuan dengan masyarakat ilmu.
3) Karena itu, fasilitas teknologi informasi harus akrab dengan peneliti. Dengan demikian, peneliti akan mudah di dalam mengartikulasikan setiap perkembangan ilmu yang diminatinya.
c. Berupaya untuk memahami studi Islam dari sudut lintas dan multi disiplin ilmu.
1) Hal ini terlebih lagi ketika ilmu-ilmu sosial dan humaniora dagunakan dalam studi tersebut. Beberapa kampus di Indonesia telah menerapkan pola inter dan multi disiplin ilmu di dalam studi agama atau studi Islam. Karena itu, peneliti juga harus mampu mengakrabkan diri dalam diskursus keilmuan ini.
2) Sebab perkembangan studi Islam, khususnya pada level pascasarjana tidak lagi bersifat di dominasi melalui paradigma yang bersifat normatif. Namun, perkenalan antaraa studi Isalm dengan ilmu-ilmu sosial dan humaniora telah menjadikan disiplin studi Islam semakin diminati.
3) Oleh karena itu, ketika lulus peneliti program pascasarjana “siap” dengan berbagai fenomena kehidupan sosial kemasyarakatan. Hal ini disebabkan mereka mampu menganalisa berbagai fenomena melalui lintas disiplin ilmu.
d. Menguasai pendekatan
Menguasai pendekatan di dalam menyejadikan setiap konsep atau hasil penelitian merupakan hal yang cukup penting. Hal ini karena, harus diakui bahwa salah satu kelemahan peneliti program pascasarjana yaitu pada penguasaan pada cara mendekati (approaches) studi Islam. Fenomena ini tidak hanya monopoli kampus tertentu, namun hampir semua kampus di Nusantara. Karena itu, peneliti sejak dini sudah diperkenalkan dengan berbagai pendekatan di dalam studi Islam.
Pendekatan ini tidak ada hubungannya dengan persoalaan teologi, ettapi hanya membantu peneliti untuk menyajikan pandangan atau pemikiran yang hendak ditawarkan dalam penyajian data atau hasil berpikir secara kontemplatif. Harus diakui bahwa model-model pendekatan dalam studi Islam telah berkembang pesar. Di dalam hal ini, kita mungkin masih pada tahap sebagai konsumen, bukan pada produsen.
Artinya kita paham betul tentang pendekatan yang dilakukan, kemudian menguasai dan mengadalisa data yang ada. Dengan kegiatan tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa apa yang telah dilakukan akan membuat peneliti menjadi seorang pemikir yang berkompeten dalam bidang yang digelutinya.
e. Memahami cara menyajikan hasil karya ilmiah
Memahami cara menyajikan hasil karya ilmiah merupakan tahap akhir, di mana peneliti akan menghasilkan penelitian sebagai babakan dalam studi mereka pada program pascasarjana. Jika seorang peneliti telah melewati dan mengusai empat syarat di atas, maka praktiknya ada pada tahap terakhir ini. Dengan penguasaan menyajikan data dengan baik ditambah penguasaan terhadap syarat yang telah dijelaskan sebelumnya, maka peneliti akan mendapatkan hasil sebuah proposal akan sangat baik.
Walaupun peneliti mampu menguasai buku-buku metode penelitian, namun belum mampu menguasai empat hal di atas, maka yang muncul adalah kegamangan ketika mengartilkulasikan dalam bentuk penelitian. Terlebih saat ini sudah muncul istilah PSK (Penelitian Sosial Keagamaan). Karena itu, upaya untuk masuk ke dalam ranah penelitian ini memang selain memahami metodologi, juga perlu mempersiapkan dengan empat syarat di atas. Dalam hal ini, keterempilan penelitian merupakan latihan secara terus menerus, bukan dilakukan dalam seperti membalikkan telapak tangan.
Inilah lima hal yang harus dipersiapkan oleh seorang peneliti ketika hendak menyiapkan proposal penelitian.
G. Pertemuan kedelapan; Seputar Metode Penelitian (Part 6) tentang Pengalaman Membimbing Skripsi.
1. Deskripsi Materi (Video)
a. Judul Materi : Seputar Metode Penelitian (Part 6) tentang
Pengalaman Membimbing Skripsi
b. Tanggal Publikasi : 16 Oktober 2019
c. Tanggal ditonton : 24 April 2020
d. Link Youtube : https://youtu.be/IKs4Vv6ihuw
e. Tingkat Pertemuan : Pertemuan Kedelapan.
f. Durasi Video : 31.02 menit
2. Substansi Materi
Dalam materi ini, akan disampaikan terkait dengan proses bimbingan dalam penelitian, baik skripsi, tesis dan desertasi. Semuanya akan dijelaskan secara ringkas terkait dengan, apa dan bagaimana bimbingan penelitian dilakukan.
Bimbingan penelitian setidaknya memiliki beberapa tujuan, yaitu;
a. Mengarahkan,
b. Menaikkan level intelektual mahasiswa,
c. Memberikan informasi terkait dengan bahan atau data,
d. Memberikan motivasi,
e. Mengontrol emosi mahasiswa,
f. Proses belajar.
Selanjutnya, ada beberapa hal yang tidak menjadi kewenangan seorang pembimbing, yaitu;
a. Pembimbing bukanlah editor. Artinya pembimbing tidak akan mengoreksi bahasa yang digunakan dlam tulisan yang dibuat oleh mahasiswa.
b. Pembimbing tidak boleh menyalahkan mahasiswa.
Pengalaman pemateri dalam menjadi pembimbing dalam setiap penelitian skripsi mahasiswa;
a. Tupoksi Pembimbing Satu dan Dua
1) Pembimbing satu mengarahkan pada kerangka sedangkan pembimbing dua lebih mengarahkan pada metodologi dan tata cara penulisan.
2) Mahasiswa harus mengerti bahwa dosen memiliki kesibukan tersendiri yaitu dalam masalah karir, pendidikan, usaha diluar kampus. Artinya mahasiswa harus mengerti dengan keadaan dan kondisi dosen yang memiliki kesibukan di luar kegiatan akademik kampus.
3) Kesusahan membagi waktu antara dosen dan mahasiswa dapat diselesaikan dengan pemanfaatan teknologi informasi.
Ada beberapa hal yang dihadapi dari mahasiswa yang menjadi persoalan menulis skripsi.
a. Tidak tahu cara menulis karya ilmiah. Pembimbing memiliki tugas untuk mengarahkan mereka pada pola-pola penulisan karya ilmiah.
b. Cenderung melakukan plagiasi (kurangi kebiasaan ini). Terkadang mahasiswa tidak mengetahui cara mengutip suatu kalimat, sehingga terkesan plagiasi.
c. Memburu di waktu akhir masa.
d. Membayar orang lain untuk menulis skripsi.
e. Latar belakang emosinal mahasiswa.
f. Tidak paham apa yang sedang dilakukannya.
Biasanya mahasiswa memiliki trik-trik tertentu yang dilakukan ketika membuat proposal penelitian, berikut penjelasannya:
a. Google Based Knowledge.
b. Dulu pindah tempat dan ganti judul, namun substansinya masih sama. Kemudian dosen mesti mengarahkan mereka ke lapangan, kasus, atau riset-riset yang akrab dengan kehidupan mereka sehari-hari.
c. Bab I dan II biasanya diambil dari skripsi teman/ kakak kelas/ skripsi kampus lain.
Mahasiswa secara umum dapat dibagi ke dalam beberapa kategori:
a. Mahasiswa dengan IPK 3,0 ke bawah
1) Mereka hanya perlu ijazah, skripsi pelengkap penderitaan saja.
2) Jangan dipaksakan mereka masuk pada diskursus keilmuan yang terlalu tajam.
3) Mereka “lemah” karena “malas kuliah”, “asal selesai”, “nyambi pekerjaan”, dan hal-hal lainnya.
b. Mahasiswa dengan IPK 3,0 -3.49
1) Mereka semangat, namun perlu dijelaskan bahwa mereka memiliki potensi, jika mampu menulis secara baik.
2) Namun, ketika diuji di dalam sidang, biasanya cenderung susah atau memiliki faktor psikologi ketika berhadapan dengan penguji.
3) Mereka tidak bisa dijadikan sebagai “pesawat auto pilot” atau “mobil automatic”.
c. Mahasiswa dengan IPK 3,5 – 4.00
1) Mereka sudha mandiri, cuman dikawal emosi saja. Karena mereka sudah terbiasa dengan keadaan the best.
2) Mereka bisa auto pilot, namun tekankan untuk berpikir kritis, banyak membaca, dan menguasai teori-teori keilmuan. Jangan cepat puas dengan pencapaian akademik.
3) Tekankan riset/skripis mereka baru tahap permulaan, nanti di paska akan didalami kembali.
4) Rata-rata mereka melanjutkan ke jenjang master.
Seorang dosen mesti mengetahui bagaimana cara membimbing mahasiswa, berikut uraiannya;
a. Usahakan anda membaca terlebih dahulu seluruh draft.
b. Jangan hanya komen ketika berhadap dengan mahasiswa, karena mereka cenderung melihat lihat “coretan” di draft skripsi, ketimbang apa yang kita inginkan saat pertemuan.
c. Sebagai pembimbing dua, cenderung melihat teknis penulisan, koherensi, dan kesesuaiannya format dengan aturan atau stadarisasi fakultas.
d. Jangan mengadu ilmu, tetapi ambil hikmah. Karena itu, arahkan bukan perintahkan.
e. Jangan mau diadu oleh mahasiswa, berusaha secepat mungkin untuk konfirmasi, jika ada persoalan dengan pembimbing lainnya.
Hal-hal yang perlu diketahui ketika sesi bimbingan dimulai;
a. Buat janji dengan mahasiswa untuk bertemu, bukan saat finger print.
b. Tanya latar belakang mahasiswa (orangtua, saudara, kampung, situasi pembelajaran, kawan akrab, usaha yang ditekuni). Ini penting untuk sentuhan emosional.
c. Tanya tentang apa yang paling susah dalam kehidupannya?
d. Usahakan eye contact untuk membentuk hubungan yang akrab. Pembimbing bukan di atas menara gading.
e. Proposal bukanlah bab satu. (tentang ini akan dijelaskan dalam materi selanjutnya).
f. Tulis semua atau per-bab (lihat kualitas mahasiswa bimbingan)
g. Berusahalah anda tidak tahu, tetapi mahasiswa yang lebih tahu.
h. Jangan mau menulis kerangka/daftar isi, jika mahasiswa belum tahu apa yang hendak dikajinya.
Membaca draft skripsi;
a. Beda antara membaca skripsi dengan karya ilmiah lainnya.
b. Skripsi levelnya hanya berusaha mendeskripsikan data sebaik mungkin, bukan ajang penerapan teori-teori keilmuan secara advance.
c. Tip: “Saya tidak akan menerima skripsi, kalau masih ada salah ketik di dalamnya.” Dampaknya mahasiswa akan lebih teliti, karena biasanya setelah print, langsung diserahkan kepada pembimbing.
H. Pertemuan kesembilan; tentang Cara Berpikir Konseptual.
1. Deskripsi Materi (Video)
a. Judul Materi : Cara Berpikir Konseptual
b. Tanggal Publikasi : 21 April 2020
c. Tanggal ditonton : 24 April 2020
d. Link Youtube : https://youtu.be/4K-rop7YPi8
e. Tingkat Pertemuan : Pertemuan Kesembilan.
f. Durasi Video : 22.36 menit
2. Substansi Materi
Materi ini akan menjelaskan tentang cara berpikir secara konseptual. Pembahasan ini sedikit filosofis, namun hal ini harus dimiliki oleh calon sarjana. Pembahasan ini menjadi sangat menarik dibahas mengingat ada beberapa jenis orang dalam menarasikan isi pikirannya, contoh ada orang yang membaca 1 buku dan sudah mampu menarasikand ari satu buku yang dia baca, namun ada orang yang suka berbicara dengan melihat realitas sosial tertentu tetapi tidak dapat menjelaskan apa yang ada dibalik realitas sosial tersebut. Inilah masalah krusial dikalangan peneliti yang tidak mampu menteoritisasikan realitas/sebuah kenyataan yang ada dalam penelitian mereka, dan ini sangat terkait dengan metode berpikir.
Mengapa berpikir menjadi sebuah kegiatan yang sangat penting? Salah seorang sarjana yang bernama Isaiah Berlin mampu menarasikan pikiran berbagai individu, dia adalah orang yang telah meneliti tentang “Ideas” sejak lama, salah satu bukunya berjudul “The Powor Of Ideas” yang menjelaskan tentang kekuatan sebuah pemikiran. Dalam satu tulisannya mengatakan, pemikiran seorang profesor dapat mendestroid sebuah peradaban. Isaiah Berlin menulis berbagai buku tentang pemikiran, dan menjadi seorang narator di Barat.
Dari sini, dapat diambil kesimpulan bahwa pola pikir dapat menentukan keberadaan seseorang. “Kalau Anda tidak mampu berpikir secara konseptual, maka anda akan selalu menjadi orang yang tidak mampu berdiri di atas pemikiran sendiri”. Lalu bagaimana Anda dapat sampai pada tingkatan berpikir secara konseptual? inilah yang akan dijelaskan dalam materi kali ini.
a. Jangan mengukur ilmu sendiri dengan ilmu orang lain.
Seorang mahasiswa yang sedang belajar, jangan sesekali melakukan adu ilmu, namun gunakan pikiran anda secara terbuka, kemudian anda serap berbagai masalah atau isu yang datang. Ketika seseorang membuka horizon berpikir maka akan membuat kita menerima setiap ide yang ada, kita harus memiliki prinsip semakin saya membaca semakin saya tidak tahu apa-apa.
Dewasa ini, jarang sekali dijumpai para pemuda yang memanfaat waktu untuk membaca, memberikan vitamin untuk otak anda. Jangan pernah membaca dengan cara mengahafal agar tersimpan di dalam otak, namun jadikan membaca sebagai vitamin yang diresapi oleh otak untuk membuat otak semakin berkembang dan semakin terisi oleh informasi yang selanjutnya akan mampu merobah cara pandang terhadap suatu realitas sosial. Ada beberapa cara untuk dapat berpikir secara konseptual, yaitu belajar dan pahamilah filsafat ilmu, karena disana akan diajari bagaimana cara berpikir secara filosofis.
b. Mengetahui posisi Anda dalam rimba Ilmu Pengetahuan
Ini adalah hal yang penting, karena terkadang banyak orang yang “salah kaprah” karena tidak tahu posisinya sendiri dalam rimba ilmu pengetahuan, sehingga terkadang apa yang “menjadi kekuatan” pikiran harus dipahami secara komprehensif dan mendalam, tidak kemudian menjadi MSI (master segala ilmu). Mengetahui semua hal namun tidak mampu memahaminya secara mendalam. Di sini, hal yang paling penting untuk diketahui adalah pahami posisi anda ketika menjadi seorang pemikir.
c. Memahami siapa yang produsen pemikiran
Ketika kita mengkaji tentang tokoh ke tokoh dalam ilmu pengetahuan, maka akan memberikan cara pandang tentang bagaimana kita masuk kepada pemikiran seorang maha guru atau pujangga ilmu pengetahuan. Namun terkadang, disinilah letak kelemahan seseorang ketika hendak mengkaji lebih jauh tentang pemikiran-pemikiran seorang sarjana, yaitu malas untuk melanjutkan membaca.
d. Kenapa kita harus berpikir?
Jika sudah sampai sejauh ini, yaitu mencari produsen pemikiran/ide, maka hal yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa kita harus berpikir? Para filosof mengatakan, “aku berpikir maka aku ada” dan itu benar adanya. Ketika anda mampu berpikir, maka anda akan dianggap ada. Banyak sekali tokoh yang berpikir dimasa lalu, yang berpengaruh dan terus dikaji oleh umat sekarang karena mereka terus berpikir dalam setiap saat kehidupannya.
Dari materi ini dapat diambil pelajaran bahwa, seorang yang ingin mendapatkan pemikiran yang luas, harus mampu menggali dan terus mencari pengetahuan yang ada sebanyak mungkin. Ketika seseorang sudah dapat berpikir secara konseptual masa disanalah kita dianggap ada, dan menjadi diri anda yang sesungguhnya.
I. Pertemuan kesepuluh: tentang Cara Memahami Rasa dalam Kebudayaan
1. Deskripsi Materi (Video)
a. Judul Materi : Cara Memahami Rasa dalam Kebudayaan
b. Tanggal Publikasi : 03 Mei 2020
c. Tanggal ditonton : 16 Mei 2020
d. Link Youtube : https://youtu.be/x6sNy9ylqpo
e. Tingkat Pertemuan : Pertemuan Kesepuluh
f. Durasi Video : 22.18 menit
2. Substansi Materi
Materi ini akan mengupas satu tema yang penting untuk dipahami oleh mahasiswa yang ingin memperlajari tentang kebudayaan, tema yang dimaksud adalah cara memahami rasa dalam kebudayaan. Hal yang menarik dalam hal ini yaitu “rasa” ketika memahami sebuah kebudayaan, karena terkadang rasa tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata namun dapat dirasakan.
Sebelum mengupas secara mendalam, ada satu buku yang menarik untuk dibahas, yaitu karangan Shahnun Ahmad dengan judul Kesastrawanan, Kepolitikan, Kealaman, Kedirian, dan Kemanusiaan. Dalam buku ini menjelaskan tentang bagaimana rasa sebagai seorang sastrawan (rasa yang dimiliki oleh sastrawan) yang bergolak dalam dirinya yang diungkapkan dengan bahasa yang simbolik penuh perasaan. Buku ini penting untuk dibaca agar dapat diketahui bagaimana kebudayaan itu dapat diproduksi melalui rasa.
Memahami rasa dengan kuliner
Sebagai contoh, kita akan mengupas kondisi di daerah Banda Aceh, di mana kemudian rasa sebuah makanan dapat mewakili dari sebuah rekayasa sebuah kebudayaan. Misalnya di Banda Aceh sekarang ini banyak makanan import (jenis makanan yang datang dari luar Aceh) semakin buming dikalangan masyarakat Banda Aceh, dan cenderung untuk merasakan dan menikmati bagaimana rasa makanan atau kuliner dari luar. Sepuluh tahun yang lalu, tidak ada yang makan ayam penyet di kota Banda Aceh, tidak ada istilah pisang adabi. Mungkin beberapa tahun yang lalu tidak ada ayam geprek, jarang kita dengar makanan yang dibawa dari luar. Biasanya, beberapa tahun yang lalu, orang Aceh cenderung menikmati masakan yang ada dalam masyarakat Aceh.
Di Darussalam Banda Aceh, hampir semua warung menawarkan masakan dengan harga yang sangat terjangkau, biasanya adalah warung padang, bakso goreng, bakso bakar dengan harga murah meriah. Namun jika seseorang ingin merasakan masakan Aceh khas Aceh di Banda Aceh misalnya, jika ingin merasakan kari Kambing khas Aceh, maka paling tidak kita harus membayar satu porsi daging saja mencapai tiga puluh ribu, belum makanan, belum juga pesanan-pesanan lainnya. Makanya kalau kita makan makanan Aceh di Banda Aceh kalau berdua minimal uang yang harus dibawa mencapai seratus ribu rupiah. Sehingga kalau kita lihat di beberapa tempat seperti di Darussalam lebih memilih masakan Padang dengan harga yang sangat terjangkau dan dia sudah terbiasa dengan masakan tanah minang ketimbang masakan Aceh karena jauh dari saku baju seorang mahasiswa.
Dari sini, rasa, bau autentik yang ada di masyarakat Urban, tidak lagi rasa yang muncul dari masyarakat setempat. Misalnya muncul makanan dari luar yang harus dinikmati makan ayam dengan saus, yang tidak pernah dinikmati oleh masyarakat Aceh sejak dahulu. Kalaupun ingin memakan ayam, maka tahapan yang dilakukan yaitu dengan cara, dibakar terlebih dahulu kemudian baru dimasak dan baru dimakan. Namun belakangan ini, makan ayam pakai saus menjadi tren di kehidupan generasi muda dalam lima tahun terakhir, sehingga membuat mereka jauh dari masakan dari tradisional Aceh.
Memahami rasa dengan musik
Dapat dibayangkan dalam masyarakat Aceh pada tahun 1980-an hampir rata-rata memiliki musil-musik dari malaysia yang musik kesedihan dan kepiluan. Masyarakat saat itu lebih menyukai musik yang mendayu-dayu, dan ingin meluapkan rasa melalui musik. Kita juga bisa melihat sebagian orang Aceh yang meyukai musik India. Dia tidak paham liriknya, tidak paham artinya, tetapi dapat menikmati musiknya, dan gelombang yang ditimbulkan dari lagu tertentu dalam musik india dapat masuk ke dalam jiwanya, dan tentunya dapat dinikmati dengan sangat baik.
Yang ingin digaris bawahi dalam kajian rasa ini adalah sesuatu yang muncul dalam masyarakat, dan muncul dalam jiwa seseorang ketika dia mampu memahami apa yang terjadi di luar, kemudian dapat menginternalisasi bisa menafsirkan dalam diri mereka sendiri, sehingga itu menjadi rasa terkait dengan identitas.
Kemudian, jika kita berbicara terkait rasa, maka akan terkait pula dengan identitas, rasa terkait dengan simbol, rasa terkait dengan pola pikir. Contohnya orang Aceh yang suka makan kuah pliek U (bagi yang suka), ketika kuah pliek U dibawa ke daerah lain, misalnya pulau Jawa maka gaya makannya akan berbeda, misalnya dia akan memakannya secara langsung menggunakan sendok, kuahnya langsung disedot. Mengapa ini bisa terjadi? karena bagi dia (orang luar Aceh) pliek U merupakan sejenis jamu. Inilah kemudian “rasa” menjadi lokal sifatnya, di Aceh, orang makan Pliek U menjadi sebuah definisi identitas sesuai dengan pemahaman masyarakat setempat. Namun ketika dibawa ke daerah lain, lebih dimaknai dengan aspek berpikir masyarakat tempat yang di bawa tersebut.
Contoh lainnya, bagaimana kita memahami lidah seorang cheff (koki), ketika merasakan sesuatu, dia mampu menjelaskan tentang makanan yang dia makan dari A-Z? inilah yang disebut dengan kekuatan rasa. Kemudian dia (seorang cheff) dapat menjelaskan dengan detail dengan hanya merasakan secuil masakan yang digigit yang telah dimasak oleh seseorang. Namun sebaliknya bagi mereka yang tidak memiliki kekuatan “rasa” yang tinggi, cenderung memberikan definisi dengan dua kategori; “enak” dan “tidak enak”. Sedangkan bagi seorang cheff yang luar biasa paham dengan dunia makanan, dunia masakan, dia belajar ilmu tersebut, dia dapat menjelaskan rasa yang dia dapatkan dari makanan yang dia cicipi. Sehingga ketika dia jelaskan seakan-akan apa yang dia sampaikanlah yang benar, dan ini memiliki sedikit sifat subjektif di dalamnya.
Rasa yang telah dijelaskan di atas sangat terkait dengan persepsi masyarakat, persepsi individu yang sudah terjadi dalam proses pengalaman kesehariannya, pengalaman kebatinannya, pengalaman spiritualnya yang selanjutnya tidak dapat dijelaskan “rasa” tersebut kepada orang lain, sebelum orang lain tersebut merasakan.
Memahami Rasa dalam Spiritual
Rasa sangat terkait dengan perasaan spiritual seseorang, dan ini biasanya dimunculkan di kalangan para sufi. Pengalaman merasa, apa yang dirasa, bagaimana cara mencapai rasa, apa yang dirasakan saat mencapai pada satu titik, semua itu susah digambarkan, susah untuk dijelaskan, susah untuk memahamkan pada orang lain, kecuali orang yang mendengar, orang yang memahami tersebut pernah merasakan rasa yang sama. Namun rasa yang sama tersebut tidak akan memberikan dampak rasa yang sama pula. Sebagi contoh, bagaimana memberikan definisi rasa manis gula, rasa manis durian, rasa manis mangga, rasa manis madu, rasa manis kurma? Semuanya manis, namun tidak ada satupun manis yang sama antara yang satu dengan yang lainnya. Orang yang tidak pernah merasakan semua manis makanan di atas akan susah untuk dijelaskan bagaimana rasa manis pada masing-masing makanan tersebut. Inilah yang kemudian di bawa dalam kajian fenemenologi, bagaimana kemudian kita bisa merasakan, bagaimana kita memahami perasaan akan sesuatu. Ketika sesuatu tersebut menjadi sebuah bagian dari kebudayaan, bagaimana kemudian kita masukkan rasa dalam kebudayaan tersebut?
Akhir dari materi tentang Cara Memahami Rasa dalam Kebudayaan ini yaitu; pertama, siapapun yang ingin mempelajari teori kebudayaan, tentang hal-hal yang bersifat fenomena, harus membaca bukunya Gadamer yang menjelaskan bagaimana para filosof memahami rasa. Kedua, Jangan pernah meremehkan setiap sesuatu yang anda rasakan, sesuatu yang diberikan oleh aspek sebuah rasa, baik itu kuliner atau apapun yang ada dalam kehidupan sehari-hari anda. Karena setiap rasa itu memiliki keunikan. Ketiga, kalau anda sudah mampu memahami rasa, maka tidak akan sulit dalam memahami sebuah kebudayaan dalam masyarakat. Dan poin ketiga ini adalah hal yang sangat penting untuk dipahami oleh mereka yang ingin mendalami tentang kebudayaan.
J. Pertemuan kesebelas; tentang Cara Menulis Karya Ilmiah (Part I)
1. Deskripsi Materi (Video)
a. Judul Materi : Cara Menulis Karya Ilmiah (Part I)
b. Tanggal Publikasi : 09 September 2019
c. Tanggal ditonton : 17 Mei 2020
d. Link Youtube : https://youtu.be/rOoRQ6MArTI
e. Tingkat Pertemuan : Pertemuan kesebelas
f. Durasi Video : 12.29 menit
2. Substansi Materi
Materi ini akan menjelaskan tentang cara menulis karya ilmiah. Apa yang disampaikan merupakan pengalaman menulis yang pernah dilakukan pemateri sebagai penulis.
Ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh seseorang yang ingin menghabiskan waktunya untuk menulis, yaitu;
a. Membaca
Membaca menjadi penting, karena dengan itu kita dapat megupdate ilmu pengetahuan, dapat mengetahui sejauh mana vitamin dalam otak kita. Seorang mahasiswa harus menyediakan waktu untuk membaca, sehingga ketika pemateri menjadi mahasiswa di Yogyakarta, hanya ada segitiga emas yang dilakukan, yaitu; 1. Kos-kosan yang penuh dengan buku, 2. Perpustakaan yang menjadi pusat bahan bacaan, 3. toko buku yang menjadi pusat berkembangnya dunia akademik. Semua itu akan membantu ada untuk mengetahui cara berpikir dimasa yang akan datang.
Dalam hal ini, kita juga perlu mengetahui level membaca diri kita sendiri, sehingga kita dapat mengetahui kekuatan membaca yang kita miliki. Dengan membaca kita juga akan memiliki kawan, karena buku akan menjadi sahabat yang snagat baik, bisa mendengarkan dan selalu memberikan informasi yang penting.
b. Mengerti Pendekatan
Cara mendekati masalah sangat penting untuk diketahui dalam membuat sebuah tulisan, pendekatan ada banyak sekali yang dapat dilakukan, ada yang bersifat historis, ada dengan model sejarawan, ada yang melihat sesuatu dari sisi politik. Usahakan ketika anda menulis anda paham betul bagaimana cara anda mendekati sebuah masalah.
Metode Ilmiah
Penjelasan ilmiah dan tidaknya sebuah tulisan sangat tipis perbedaannya, namun materi tentang hal ini akan diuraikan secara khusus dalam materi yang lain. Namun apapun yang disajikan dalam tulisan kita, harus dipastikan dapat dipertanggungjawabkan secara baik, begitupula setiap kata atau kalimat mesti dapat dipertanggungjawabkan, hal ini terkait erat dengan cara merujuk sebuah rujukan.
Selanjutnya, pendekatan kepenulisan yang dilakukan oleh seseorang menjadi penting untuk dipahami karena dapat mengetahui bagaimana metode berpikir seorang pemikir yang kita rujuk, dengan kita pahami pendekatan kita juga akan paham bagaimana orang lain menyajikan ide-idenya. Semua ini perlu latihan yang ekstra untuk menjadi seorang penulis. Membaca menjadi syarat utama untuk mengetahui metode yang digunakan oleh para penulis.
c. Belajar Bahasa Indonesia
Dengan belajar bahasa yang baik anda dapat menuliskan gaya tulisan dengan benar sessuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Namun ini memerlukan
waktu yang lama, sehingga dapat menghasilkan/menggunakan bahasa yang baik, betul, dan tidak banyak bertele-tele.
d. Mulailah menulis
Tulislah apapun yang ingin anda tulisa, jangan pernah takut salah daam menulis. Tuangkan ide-ide anda dalam bentuk tulisan sebaik mungkin yang dapat anda lakukan, jangan sampai takut salah menjadi kendala dalam menulis karya-karya yang akan anda buat.
Selanjutnya, apapun yang telah pernah anda tulis, yang pernah dibuang, namun simpanlah semua tulisan tersebut untuk menjadi acuan anda dalam berkembang menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Ide yang telah anda tulis dengan kerangka berpikir anda tersebut harus anda hormati. Ketika anda mulai tulis jangan harap itu menjadi sempurna, namun anggaplah tidak pernah sempurna agar menjadi motivasi untuk selalu berkembang dalam dunia literasi.
K. Pertemuan kedua belas; tentang Metode Penelitian: Telaah Pustaka (Literature Review)
1. Deskripsi Materi (Video)
a. Judul Materi : Metode Penelitian: Telaah Pustaka (Literature
Review)
b. Tanggal Publikasi : 28 Mei 2020
c. Tanggal ditonton : 31 Mei 2020
d. Link Youtube : https://youtu.be/R-gt0YAti9M
e. Tingkat Pertemuan : Pertemuan Kedua belas.
f. Durasi Video : 17.46 menit
2. Substansi Materi
Dalam materi ini, kita akan menjelaskan tentang sebuah topik yang cukup penting untuk penelitian yaitu berkaitan dengan Telaah Kepustakaan. Topik ini menjadi krusial karena “telaah pustaka” harus mampu disajikan oleh peneliti untuk meyakinkan pembaca tentang paham dan mengerti studi yang dilakukan. Telaah pustaka adalah satu rangkaian studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti ketika hendak menulis proposal atau artikel ilmiah. Mengapa telaah pustaka menjadi penting untuk dibahas?
Jawabannya adalah; pertama, telaah pustaka merupakan salah satu kepedulian kita terhadap apa yang telah dilakukan peneliti sebelumnya untuk melihat topik yang sama, judul yang serupa, dan bidang ilmu yang sama dengan kita. Kedua, telaah pustaka penting dengan tujuan untuk mengisi ruang yang kosong sebagai bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan sehingga telaah pustaka yang kita lakukan, nantinya akan menjadi acuan bahwasanya apa yang kita lakukan ini tidak terputus dengan apa yang pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Ketiga, telaah pustaka menjadi penting untuk menunjukkan signifikansi penelitian yang kita lakukan. Kalau seorang peneliti tidak mampu menunjukkan signifikansi, arti penting riset yang dilakukan, maka proposal/artikel/penelitian tersebut masih diragukan keseriusan calon peneliti tersebut. Kalau dia tidak serius dalam membuat telaah pustaka, kita dapat melihat dan menyiratkan bahwa peneliti tidak mengerti tentang kegiatan yang sedang dilakukan.
Dari beberapa kegiatan penulisan baik jurnal, artikel, maupun penelitian ada kesan bahwasanya telaah pustaka merupakan sesuatu yang sangat sederhana, bahkan kadang-kadang dia hanya menyenaraikan list atau daftar atau menjelaskan beberapa karya sebelumnya, tetapi ketika kita baca apa yang dia tulis tersebut sebenarnya hanya untuk mengisi kekosongan tanpa mampu mengaitkan dengan diskursus keilmuan, inilah yang penting untuk diperbaiki dikalangan para peneliti di daerah kita. Artinya tidak hanya daftar kajian orang lain yang ditulis dalam proposal kita, namun bisa tidak kita mengaitkan antara diskursus keilmuan dari telaah pustaka yang telah dilakukan. Ini menjadi poin penting ketika kita tahu bobot proposal yang dikerjakan layak dijadikan sebagai sebuah kontribusi dalam rimba pengetahuan di langkah selanjutnya.
Berikutnya adalah kemampuan dia melakukan klasifikasi yang sebenarnya bukan hanya telaah pustaka yang menyebutkan karya orang lain, tetapi klasifikasi ini mampu membuat klaster-klaster dari telaah kita. Telaah pustaka dapat menunjukkan poin penting dalam sebuah kajian yang hendak dilakukan. Bahkan terkadang telaah pustaka akan “nampak” pada latar belakang masalah, jika yang menulisnya adalah orang-orang yang memiliki kapabilitas untuk menulis, artinya tidak hanya dicantumkan dalam poin “telaah pustaka” saja.
Tidak ada kesepakatan tentang jumlah telaah pustaka yang harus dicantumkan dalam proposal penelitian. Ada yang mengatakan lima tahun terakhir, adapula yang mengatakan tiga tahun terakhir. Namun pemateri punya prinsip bahwa, ketika seseorang sedang melakukan proses telaah pustaka maka yang harus dilakukan yaitu; 1) Proses klasfikasi bentuk kajian. 2) Signifikansi kajian anda setelah melakukan sekian banyak telaah pustaka.
Sebagian orang kebingungan dalam menentukan pada level manakah yang paling penting ketika kita melakukan telaah pustaka? Saran yang patut diterima yaitu; ushakan telaah pustaka yang dilakukan dalam bentuk jurnal yang bereputasi yang berbahasa asing, karena jurnal merupakan publikasi yang paling update dibandingkan buku. Selain jurnal, tulisan yang dapat dijadikan sebagai telaah pustaka adalah Desertasi, Tesis, Monograf, penelitian, buku-buku terkini yang murni hasil riset.
Dari sini, hal yang penting untuk diketahui adalah melakukan telaah pustaka tidak sesederhana yang pikirkan, namun butuh proses pendalaman karena telaah pustaka juga terkait dengan tinjauan teori, perkembangan studi yang dilakukan peneliti dalam topik yang kita kaji. Signifikansi dari telaah pustaka menjadi cukup sentral, menjadi komponen terpenting dari rumusan masalah dan latar belakang masalah. Hal yang penting berikutnya yaitu melakukan konseptualisasi ilmu pengetahuan dari telaah pustaka yang dilakukan menjadi sangat penting.
L. Pertemuan ketiga belas; tentang Metode Penelitian: Cara Membedakan antara Proposal dengan Bab Pendahuluan (bab 1).
1. Deskripsi Materi (Video)
a. Judul Materi : Metode Penelitian: Cara Membedakan antara
Proposal dengan Bab Pendahuluan (bab 1)
b. Tanggal Publikasi : 02 Juni 2020
c. Tanggal ditonton : 03 Juni 2020
d. Link Youtube : https://youtu.be/Bz0B1GkbLnc
e. Tingkat Pertemuan : Pertemuan Ketiga belas.
f. Durasi Video : 13.17 menit
2. Substansi Materi
Materi ini akan menlanjutkan topik metode penelitian yang berkaitan dengan Cara membedakan antara Proposal dengan Bab Pendahuluan. Ada kekeliruan pemahaman yang sering ditampilkan oleh seorang mahasiswa yang menganggap Proposal dan Bab 1 adalah hal yang sama. Jika ada yang berpandangan demikian maka hal itu sangat disayangkan, karena dua hal tersebut merupakan model yang berbeda. Jika anda menulis proposal (Propose) yang artinya melamar, sedangkan bab satu sebenarnya adalah hasil penelitian, jadi ini adalah perbedaan yang cukup signifikan. Karena itu, ketika ada laporan skripsi, tesis atau desertasi yang masih menyajikan proposal mereka pada Bab Satu, maka itu adalah hal yang sangat keliru dan patut disayangkan.
Proposal berusahan menyajikan sebuah fakta, data awal (studi pendahuluan), dan menjelaskan mengapa penelitian yang dilakukan tersebut penting untuk dilakukan. Sedangkan dalam bab satu merupakan apa yang sudah ditemukan dalam penelitian. Untuk menulis pendahuluan kita memerlukan waktu yang cukup lama, karena pendahuluan merupakan pengantar para pembaca untuk memahami isi dari skripsi, tesis, desertasi kita. Membuat pendahuluan adalah yang susah, karena dari pendahuluan kita dapat memberikan nama dari riset yang sedang kita tulis dalam bab dua, dan bab-bab selanjutnya. Jika kita masih menyajikan proposal di tempat yang seharusnya pendahuluan, maka sebenarnya itu bukanlah hasil riset, tetapi itu merupakan sesuatu yang berdiri sendiri, sehingga bab satu, ban dua, bab tiga, dan bab empat tidak memiliki koherensi (keterkaitan). Karena itu banyak diantara laporan penelitian, baik skripsi, tesis dan desertasi yang masih menyajikan proposal dalam bab satu tersebut. Dan jika dipaksakan untuk menggantinya, terkadang mahasiswa merasa kebingungan dalam membuat laporan penelitian.
Dalam bab satu, latar belakangnya harus dirubah total, artinya dalam latar belakang yang awalnya untuk rumusan masalah. Namun dalam bab satu, latar belakangnya untuk mengantarkan agar laporan penelitian yang kita lakukan dapat dipahami dengan baik. Begitu juga dengan rumusan masalah, tidak perlu menulis rumusan masalah yang tidak punya jawaban dalam riset yang kita lakukan. Karena itu, menulis pendahuluan lebih sulit dibandingkan dengan menulis bab-bab selanjutnya, hal ini dikarenakan di Pendahuluan, kita mengantar, yang hantaran yang dilakukan tersebut untuk memberikan kesinambungan antara bab satu, bab dua, bab tiga dan bab empat. Uniknya, banyak riset yang kita baca sekarang ini yang tidak memiliki koherensi antara teori dengan hasil penelitian.
Menulis pendahuluan yang baik, dia akan mampu memberikan sebuah jawaban pada ujung kajian kita yaitu pada bagian kesimpulan. Tetapi, dalam rumusan masalah ada beberapa hal yang perlu dijawab, jawaban inilah yang perlu dijawab pada bab-bab setelah bab satu. Pada pendahuluan, seorang penulis harus memberikan batasan-batasan tentang apa yang akan kita tulis dalam laporan nantinya. Dalam pendahuluan, kita harus benar-benar memberikan nama bidang keilmuan apa yang sebenarnya desertasi atau tesis yang kita buat.
Selanjutnya, pada pendahuluan kita menyajikan tentang pertanyaan kajian yang benar-benar hendak dijawab, bukan pertanyaan penelitian yang tidak ada jawabannya. Selama menulis laporan penelitian, peneliti harus fokus pada apa yang menjadi Sign Pose Questions yang anda sajikan dalam pendahuluan, kemudian itulah yang harus dijawab. Pendahuluan juga akan memberikan anda sebuah kekuatan memberikan fondasi dari penelitian anda.
Dari sini, perlu dipahami bahwa, ketika anda sudah selesai membuat proposal, maka sekian persen penelitian akan selesai, tetapi penelitian anda akan terselesaikan dengan baik jika mampu dan mau menulis pendahuluan dengan baik akan susah dipahami meskipun fakta dan data yang anda sajikan sangat menarik.
M. Pertemuan keempat belas; Metode Penelitian: Apa yang Anda Lakukan Setelah Proposal Anda Disetujui
1. Deskripsi Materi (Video)
a. Judul Materi : Metode Penelitian: Apa yang Anda Lakukan
Setelah Proposal Anda Disetujui
b. Tanggal Publikasi : 12 Juni 2020
c. Tanggal ditonton : 12 Juni 2020
d. Link Youtube : https://youtu.be/eOF4FHFEY5E
e. Tingkat Pertemuan : Pertemuan Keempat belas.
f. Durasi Video : 13.35 menit
2. Substansi Materi
Materi ini akan menjelaskan tentang hal-hal yang harus dilakukan oleh peneliti ketika proposal yang diajukan telah disetujui. Hal ini sangat penting, karena ada beberapa peneliti yang sama sekali tidak mengetahui apa yang harus dilakukan setelah proposalnya disetujui atau diseminarkan, bahkan kadang-kadang kita menganggap proposal tadi itu adalah bab satu, sehingga dia langsung meloncat pada bab dua, padahal itu adalah sesuatu yang perlu diluruskan. Dalam materi ini akan dijabarkan beberapa tips yang perlu dilakukan ketika telah selesai seminar proposal.
a. Mencari literature
Tugas yang harus dilakukan pertama sekali setelah seminar dilakukan adalah mencari literatur sebanyak mungkin, dokumen, dan apapun yang dapat mendukung peneliti pada aspek dokumentasi atau kepustakaan. Pada fase ini, kita harus melihat kembali tentang apa dan bagaimana kontruksi keilmuan yang hendak kita bangun, dan ini perlu dilakukan secara kontinu sampai peneliti menyelesaikan riset.
b. Persiapan turun ke lapangan
Hal yang paling sering terjadi adalah ketika peneliti yang turun ke lapangan mendapatkan masalah yang tidak sama dengan apa yang dibayangkan ketika menulis proposal penelitian. Bahkan terkadang, ada peneliti yang sangkin idealisnya sehingga ketika sampai di lapangan untuk memulai riset sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Bagi peneliti untuk kajian tesis atau desertasi, pemateri membagi proposal ke dalam beberapa kategori, 1) proposal yang diajukan berbahaya atau tidak, 2) riset yang dilakukan banyak membutuhkan modal atau tidak, 3) apakah riset yang dilakukan melibatkan sesuatu yang sangat sensitif, 4) kemampuan peneliti untuk melakukan riset.
c. Mengingat rumusan masalah yang diusulkan
Rumusan masalah menjadi hal yang sangat sentral dan mesti terus diingat agar tidak mengajukan masalah terhadap hal-hal yang membuat anda menjadi bermasalah. Usahakan dalam setiap kegiatan yang anda lakukan ketika riset untuk selalu mengingat rumusan masalah yang anda ajukan dalam proposal. Peneliti hanya perlu fokus kepada rumusan masalah ketika berada di lapangan.
d. Menyiapkan perencanaan yang matang (Plan A, B dan C)
Semua prosedur yang harus disiapkan segera dipersiapkan sebelum menuju ke lapangan. Biasanya penelitian kualititatif yang membutuhkan data lapangan akan sulit di dapatkan jika peneliti tidak tahu tentang daerah yang sedang diteliti, terlebih jika responden merasa terancam dengan penelitian yang kita lakukan. Jika memang tempat tertentu tidak bisa dilakukan penelitian, maka peneliti harus secepat mungkin mencari tempat lain untuk melakukan riset.
e. Mengumpulkan data
Peneliti harus menulis data apapun yang didapatkan ketika di lapangan. Ini bertujuan agar kita mendapatlkan sebanyak mungkin data yang ada di lapangan, dan itu yang akan dikontruksi ulang. Namun terkadang ada beberapa responden yang tidak nyaman jika kita merekamnya, maka ketika selesai berjumpa dengan mereka segera tulis apa yang anda ingat, dan segera membuat diari bagaimana kesan anda, apa saja yang anda rasakan ketika anda berjumpa dengan responden atau informan.
N. Pertemuan kelima belas; Webinar: Covid-19 dalam Studi Masa Depan
1. Deskripsi Materi (Video)
a. Judul Materi : Webinar: Covid-19 dalam Studi Masa Depan Tanggal Publikasi : 20 Juni 2020
b. Tanggal ditonton : 20 Juni 2020
c. Link Youtube : Part I: https://youtu.be/2jMNnsoq_ao
Part II: https://youtu.be/YxS4fVmcw4M
d. Tingkat Pertemuan : Pertemuan Kedua.
e. Durasi Video : Part I; 33.09 menit
Part II; 04.05 menit
2. Substansi Materi
Materi ini disampaikan dalam Webinar STAI Tgk di Rundeng Meulaboh tentang Covid-19 dalam Studi Masa Depan. Materi ini disampaikan mengingat pemateri telah membuat dua buku tentang Masa Depan, edisi pertama dan edisi kedua. Jadi dalam materi kali ini, ada beberapa argumen yang ingin dinarasikan terkait Covid-19 dan Studi Masa Depan.
Argumen pertama adalah “Bagaimana mana jika tidak”. Maksudnya adalah bagaimana jika tidak ada Covid-19 pada tahun 2020? Itu ada sebuah pertanyaan jika peneliti melakukan riset tentang Covid-19. Maka yang akan terjadi adalah sebagaimana biasanya. Biasanya akan terjadi perang, dan dugaan pemateri, ketika melakukan penelitian tentang Global Studies memang diprediksi pada tahun 2020 akan terjadi konflik besar-besaran antara Iran dan Amerika. Jadi pada saat itu sudah dimulai atau paling tidak hampir dimulai, namun karena faktor tertentu perang tersebut belum terjadi. Kalaupun pada tahun 2020 perang, maka dampak yang akan ditimbulkan yaitu; Proses melokalisir persoalan dunia. Timur Tengah sebagaimana biasanya akan menjadi industri perang, selanjutnya persoalan ekonomi juga akan ikut dalam industri perang, dan yang paling krusial adalah perpindahan manusia dari Timur Tengah ke Eropa, persoalan imigran, persoalan identitas, persoalan kemanusiaan akan muncul sebagaimana biasanya. Bisa dibayangkan jika tahun 2020 terjadi perang antara Iran dan Amerika, maka kita tidak akan lockdown di Indonesia, kita akan tetap kuliah seperti biasa, dan kita akan menikmati visual-visual perang yang di tampil di layar kaca. Namun ini semua tidak terjadi. Dalam prediksi masa depan ini disebut dengan “keadaan yang tidak menentu”. Artinya hampir semua negara tidak memiliki persiapan menghadapi pandemi Covid-19, sehingga memunculkan kepanikan global. Kalau dulu kepanikan global dimunculkan akrena teroris, isu tentang senjata pemusnah massal. Namun sekarang hal yang ditakuti adalah sejenis virus. Para Global Players jika terjadi perang dia hanya akan menjalankan bisnis seperti biasanya. Berkaitan dengan Global Players ada sebuah ungkapan, “Sangat sedikit aktor pemain global, tetapi sangat banyak korbannya”.
Pandemi Covid-19 tidak pernah dibayangkan oleh Global Player menjadi virus yang mempengaruhi seluruh dunia. Terkadang kita sering membawa permasalahan Conspiracy (Konsprirasi). Jadi banyak orang mengatakan virus ini dibuat oleh negara A, kemudian negara B yang membuat Penawarnya, yang selanjutnya negara C yang akan memproduksi secara massal obat tersebut. Kita terlalu banyak mendapatkan informasi, dan informasi yang didapatkan tersebut tidak ada persiapannya. Kalau persoalan global yang pernah terjadi sudah ada persiapan tertentu oleh pihak tertentu, namun permasalahan “Pandemi” ini menjadi persoalan yang tidak pernah ada persiapan sebelumnya. Lalu bagaimana proses tatanan dunia dibentuk ketika pandemi terjadi? Sekarang muncul istilah New Normal yang ada dalam kondisi pandemi, selanjutnya banyak orang yang saling salah-menyalahkan, dan berbagai persoalan lain yang timbul akibat pandemi Covid-19.
Sebenarnya tidak ada persoalan dengan tokoh dan negara tertentu, namun yang yang penting diketahui yaitu bagaimana Pandemi Covid-19 bisa muncul di tahun 2020? Jadi interpretasi apa yang dapat kita berikan ketika muncul pada tahun 2020 ini?
Apabila kita melihat dari segi “Perangkaan”, 2020 ini adalah 2 tambah 2 sama dengan 4, dan empat (4) adalah angka “ujian”, artinya ini merupakan tahun yang penuh ujian dan ujiannya dihadapi secara global. Pada tahun 2020 banyak terjadi “perubahan tatanan dunia”, sekarang banyak yang diistilahkan dengan “Planetari Civilization” (Peradaban Planetari), jadi ini adalah era baru setelah terjadinya proses “Globlalisasi”. Setelah terjadi proses globalisasi, maka akan terjadi peradaban “Planetari”. Dan dugaan kuat, tahun 2020 merupakan titik “keberangkatan” umat manusia dalam memasuki peradaban baru yang itu dimotori dengan sebuah konsep yaitu “Hyper Connecnetd Society”, artinya manusia yang sangat diperdekatkan dengan teknologi digital, internet dan telah membentuk peradaban baru. Dalam hal ini, -dugaan kuat pemateri- kemunculan Covid-19 merupakan sebuah babak baru dari peradaban dunia, dan prediksinya adalah “jika tahun 2020 terjadi pandemi Covid-19 yang betul-betul menjadi global (menjadi permasalahan global dan semua negara merasakan dampaknya), maka akan terjadi peradaban baru dalam bentuk “Planetari Civilazation”. Hal ini karena setelah menghadapi ujian puncak secara global, dimana semua negara menghadapinya dan semua kelompok merasakannya, orang-orang tidak punya kekuatan penuh untuk melawan Virus Corona ini. Fenomena ini merupakan sebuah “balapan” peradaban manusia yang dengan itu memunculkan peradaban baru. Artinya, siapapun yang berhasil (baik komunitas, bangsa, negara) dalam menghadapi pandemi Covid-19 maka kita akan menjadi “New Players” atau “New Actors” tokoh baru dalam peradaban baru yang dikenal dengan Peradaban Planetari. Jadi ini merupakan ujian terhadap kemanusiaan, ujian terhadap kesehatan, ujian tentang tatanan kehidupan, dan ujian ini dihadapi oleh semua negara mulai negara paling maju seperti Ameri, China, beberapa negara di Eropa, Asia Tenggara termasuk Indonesia menghadapi persoalan ini secara bersamaan. Kita tidak perlu mencari “kambing hitam” yang akan banyak bicara teori Conspirasy, tetapi begitu ujian ini dapat dilewati ini, dia akan mampu membuat sebuah tatanan baru kehidupan yang sudah difasilitasi oleh jaringan “Internet”. Tatanan baru kemanusiaan yang difasilitasi oleh jaringan internet ini[9] dirasakan oleh manusia selama pandemi Covid-19, artinya Kita tidak bisa kemana-mana, tapi kita dapat berbuat apa saja dan kita bisa kemana-mana. Ini telah difasilitasi oleh jaringan internet dan ini yang muncul kemudian “Transhumanism” kemudian “kedaulatan internet” dan terciptanya sebuah New Generation.
Indonesia sekarang memiliki konsep “New Normal” yang tidak pernah dijumpai dimanapun termasuk di kamus. Namun terkadang ini bukan lagi New Normal, namun bisa Up Normal, pemateri lebih nyaman menyebut “Tatanan baru” dunia setalah pandemi ini akan berubah total. Jadi beberapa negara yang kuat dalam industri perang, negera tersebut akan memikirkan ulang apakah kekuatan dalam industri perang tersebut akan mampu menjadi Riil Global Player di masa depan? atau nanti dimasa depan, Global Players adalah mereka yang Who can Connec, Who can Control, artinya siapa yang mampu mengontrol, siapa yang mampu memproduksi dan siapa yang mampu mereproduksi kesadaran manusia. Jika berbicara tentang “Transhumanism”, ketika kita mampu melewati ini, maka bisa jadi kita semakin “imun”, manusia semakin “otonom” dengan dirinya sendiri, dan dia akan mudah dikontrol di masa yang akan datang. Balapan yang dilakukan oleh manusia ini akan menghasilkan New Generation. Contohnya sekarang ada generasi yang lulus sekolah, naik kelas tanpa ujian terlebih dahulu dan itu tidak mengurangi kecerdasan seseorang maka bisa jadi di tahun-tahun berikutnya tidak akan ada lagi ujian-ujian selanjutnya. Contoh berikutnya, kalau kita melihat dosen hari ini memberikan matakuliah cukup dengan “daring” mungkin tahun-tahun ke depan akan dipikirkan untuk tidak lagi di kelas. Jadi perubahan ini “New Normal” adalah sebuah tatanan baru yang selalu muncul setelah ada perang, pandemi, musibah dan ini terjadi.
Hal yang dapat digaris bawahi dalam kajian ini adalah dulu bentuk pengetahuan awal di Barat mengandaikan manusia seperti binatang, maka di ambillah ilmu biologi menjadi ilmu sosiologi, dan tidak ada yang membicara teknologi dalam pembahasannya. Kemudian berubah ke bentuk pengetahuan dalam bentuk intuisi, ada saatnya pengetahuan di ambil dari bahasa (lahirlah hermeunetic), pengetahuan dari pengalaman lahirlah fenomenologi. Apa yang disampaikan disini adalah dasar atau fondasi untuk menggambarkan dampak dari Covid-19 terhadap masa yang akan datang.
PENUTUP
Dari pembahasan yang telah dijelaskan di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal dari setiap poin, yaitu:
Lima hal yang menjadi peta bagaimana agama dikaji melalui ilmu sosial, yaitu; kajian terhadap naskah, tentang para penganut (sikap, prilaku dan penghayatan), RITUS (Ritual, ibadah, lembaga), Alat, Gerakan kaagamaan yang timbul dalam masyarakat.
Level riset yang dapat dilakukan oleh peneliti adalah; pertama, hanya mendeskripsikan data. Kedua, Mendeskripsikan data dan muulai menggunakan teori di dalam penelitiannya. Ketiga, Mendeskripsikan daa dan mampu menelaah dengan beberapa teori. Keempat, Mendeskripsikan data plus teori, lalu memunculkan suatu teori baru. (S3) Kelima, Mendeskripsikan data lalu memiliki dampak bagi suatu kebijakan. Keenam, Perenungan lalu muncul suatu teori.
Spirit keilmuan dibagi tiga, pertama values jika diturunkan kan kembali menjadi kekuatan etika/ethics, berikutnya yang membentuk moral yang biasanya menurunkan tingkah laku/behavior yang kemudian memunculkan social action/aksi sosial, yang selanjutnya membentuk sebuah kebudayaan/culture. Kedua, religion/agama, di bawahnya akan memunculkan Art, Dari seni muncul Meaning/makna, yang selanjutnya melahirkan kajian tentang simbol, dan kemudian muncul Socio Cultural dan memunculkan Ritual. Ketiga, Intelektual, yang melewati proses Reasoning yang kemudian melahirkan apa yang disebut dengan Meditation atau kontemplasi, yang berikutnya akan memuncukan System of Ideas dan akan memberikan diskusi dan cakrawala yang cukup mendalam, dalam kajian filsafat/Philosophy yang seterusnya melahirkan pola pikir atau Paradigm.
Teori adalah sebuah penjelasan yang menguraikan antara dua atau lebih dari variabel. Ada beberapa persoalan yang signifikan antara teori, metodologi dan philosophy. Pertama, Teori berusaha mengkronstuksi sebuah model suatu persitiwa yang dengan itu dapat menjelaskan sebab atau akibat kejadian suatu peristiwa atau dapat menjelaskan sebab suatu kejadian secara konseptual. Kedua, Metodologi lebih banyak berbicara prosedur/proses konstruksi teori dan mengujinya atau lebih banyak bicara tentang cara bekerja. Ketiga, Filosofi lebih banyak berbicara tentang epsitemologi, ontologi ddan kerangka semantik, dan penggabungan antara pekerjaan teori dan metodologi.
Lima hal yang harus dipersiapkan oleh seorang peneliti ketika hendak menyiapkan proposal penelitian. Pertama, Memahami betul akar filosofis kerangka keilmuan yang sedang digeluti. Kedua, Mempelajari dan memahami perkembangan ilmu. Ketiga, Berupaya untuk memahami studi Islam dari sudut lintas dan multi disiplin ilmu. Keempat, Menguasai pendekatan. Kelima, Memahami cara menyajikan hasil karya ilmiah.
Cara berpikir konseptual dapat ditempuh dengan empat cara; Pertama, jangan mengukur ilmu sendiri dengan ilmu orang lain. Kedua, Mengetahui posisi Anda dalam rimba Ilmu Pengetahuan. Ketiga, memahami siapa yang produsen pemikiran, Keempat, alasan kenapa kita harus berpikir.
Cara Memahami Rasa dalam Kebudayaan ini yaitu; pertama, siapapun yang ingin mempelajari teori kebudayaan, tentang hal-hal yang bersifat fenomena, harus membaca bukunya Gadamer yang menjelaskan bagaimana para filosof memahami rasa. Kedua, Jangan pernah meremehkan setiap sesuatu yang anda rasakan, sesuatu yang diberikan oleh aspek sebuah rasa, baik itu kuliner atau apapun yang ada dalam kehidupan sehari-hari anda. Karena setiap rasa itu memiliki keunikan. Ketiga, kalau anda sudah mampu memahami rasa, maka tidak akan sulit dalam memahami sebuah kebudayaan dalam masyarakat. Dan poin ketiga ini adalah hal yang sangat penting untuk dipahami oleh mereka yang ingin mendalami tentang kebudayaan.
Cara menulis karya ilmiah dapat dilakukan empat cara berikut; pertama, membaca. kedua,Mengerti pendekatan. Ketiga, Belajar bahasa Indonesia dengan Baik dan benar Keempat, Mulai menulis sejak dini.
Hal yang penting untuk diketahui adalah melakukan telaah pustaka tidak sesederhana yang pikirkan, namun butuh proses pendalaman karena telaah pustaka juga terkait dengan tinjauan teori, perkembangan studi yang dilakukan peneliti dalam topik yang kita kaji. Signifikansi dari telaah pustaka menjadi cukup sentral, menjadi komponen terpenting dari rumusan masalah dan latar belakang masalah. Hal yang penting berikutnya yaitu melakukan konseptualisasi ilmu pengetahuan dari telaah pustaka yang dilakukan menjadi sangat penting.
Berkaitan dengan penulisan karya ilmiah, ketika anda sudah selesai membuat proposal, maka sekian persen penelitian akan selesai, tetapi penelitian anda akan terselesaikan dengan baik jika mampu dan mau menulis pendahuluan dengan baik akan susah dipahami meskipun fakta dan data yang anda sajikan sangat menarik.
Hal yang harus dilakukan ketika proposal sudah disetujui, yaitu; Pertama, mencari literature Kedua, persiapan turun ke lapangan. Ketiga, Mengingat rumusan masalah yang diusulkan. Keempat, Menyiapkan perencanaan yang matang (Plan A, B dan C). Kelima, Mengumpulkan data.
Penting untuk digaris bawahi dalam kajian ini adalah dulu bentuk pengetahuan awal di Barat mengandaikan manusia seperti binatang, maka di ambillah ilmu biologi menjadi ilmu sosiologi, dan tidak ada yang membicara teknologi dalam pembahasannya. Kemudian berubah ke bentuk pengetahuan dalam bentuk intuisi, ada saatnya pengetahuan di ambil dari bahasa (lahirlah hermeunetic), pengetahuan dari pengalaman lahirlah fenomenologi. Apa yang disampaikan disini adalah dasar atau fondasi untuk menggambarkan dampak dari Covid-19 terhadap masa yang akan datang.
[1] Untuk melihat Profil Channel Youtube Kamaruzzaman Bustaman Ahmad, Ph.D, pemabaca dapat mengunjungi link berikut ini. https://www.youtube.com/user/krmane/videos
[2] Sebagaimana diketahui bahwa, jumlah pertemuan dalam satu matakuliah per semester di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry diharuskan mencapai enambelas (16) pertemuan. Matakuliah Metodologi Penelitian/Penulisan Tesis yang diasuh oleh Bapak Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Ph.D, pada Unit Fiqh Modern juga mengikuti aturan dasar ini, yaitu enam belas (16) pertemuan walaupun dalam masa Pandemi Covid-19. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 28 Februari 2020 di gedung Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang menjelaskan tentang pengantar matakuliah. Pertemuan kedua sampai dengan kelima belas tentang materi kuliah melalui video di Youtube Channel Bapak Kamaruzzaman Bustamam Ahmad Ph.D. Hal ini dilakukan mengingat kondisi Pandemi Covid-19 yang sudah menyebar luas, termasuk di Aceh, untuk menghindari hal tersebut, kegiatan belajar-mengajar dilaksanakan secara Daring (Dalam Jaringan). Sebagai penutup perkuliahan, pertemuan yang keenam belas, mahasiswa diberikan tugas final (Ujian Akhir Semester), untuk menyelesaikan dua hal; 1) me-review materi dari video yang pernah menjadi bahan kuliah dari pertemuan kedua sampai dengan pertemuan kelima belas, 2) Menyiapkan Proposal Tesis yang memuat; Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Telaah Pustaka, Kerangka Teori, Struktur Bab, dan Daftar Pustaka.
[3] Materi pada pertemuan ini diberikan kebebasan memilih oleh dosen pengasuh untuk melihat materi (video) yang paling sesuai dengan matakuliah Metodologi Penelitian/Penulisan Tesis, dan penulis memilih judul Cara Menulis Karya Ilmiah (Part I), karena materi (video) inilah yang paling sesuai dengan matakuliah penulis ambil.
[4] Maksud dari tingkat pertemuan ini adalah urut-urutan pertemuan dalam perkuliahan pada matakuliah Metodologi Penelitian/Penulisan Tesis yang diasuh oleh Bapak Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Ph.D, di unit Fiqh Modern semester genap tahun ajaran 2019-2020 M.
[5] (Gabriel Abend, 2008).
[6] (Charles Taylor, 1989)
[7] (Lioyd, 1986)
[8] (Sibeon, 2004)
[9] Sedikit kita berbicara tentang kajian Pertahanan. Hari ini banyak orang yang melihat perubahan yang terjadi dinamika Fibrasi manusia yang disebut Hyper Mind Connected dan ini menjadi sebuah balapan baru dalam global Arena dan siapapun yang menang –tidak bicara tentang negara super power tetapi lebih berbicara pada “Siapa yang mampu mengonekkan yang lain” terhadap diri kita, jadi tidak lagi berbicara sangat kuat dalam sistem pertahanan, namun bagaimana anda mampu mengonekkan Interest orang lain kepada Interestnya.









Komentar
Posting Komentar