'IBRAH 8: PERAN PEMUDA TERHADAP KEBANGKITAN ISLAM

 Download Pdf di sini

PERAN PEMUDA TERHADAP KEBANGKITAN ISLAM

 

 Muhammad Habibi, S.Hi.

muhammadhabibiemz@gmail.com

Mahasiswa Magister Fiqh Modern

Pascasarjana Universitas Islam Negeri Banda Aceh

 

Pendahuluan

Tulisan ini akan menguraikan tentang peran pemuda terhadap kebangkitan Islam. Hal ini ditulis karena, di satu sisi pemuda sebagai generasi penerus, memiliki kekuatan untuk melaksanakan sebuah tindakan yang nyata, artinya dengan kemampuan yang dimiliki pemuda, sebuah wilayah dapat berkembang dengan baik dan maksimal. Usia muda adalah masa paling produktif karena dianggap memiliki puncak kekuatan yang diapit dengan dua jenis kelemahan. Kelemahan pertama karena masih dalam usia kanak-kanak yang belum mampu berbuat apa-apa dengan kehendaknya dan selanjutnya kelemahan kedua yaitu usia tua, karena sudah sudah tidak dapat berbuat apapun lagi dalam kehidupan dengan kekuatan yang dimilikinya. Artinya, masa muda merupakan masa yang sangat penting untuk diisi dengan hal-hal yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, negara dan bahkan agamanya sendiri. Lalu apa startegi yang dapat dilakukan oleh pemuda agar mampu membangkitkan Islam menjadi lebih berkembang? Inilah yang akan diuraikan lebih lanjut dalam tulisan ini.

Namun perlu diketahui pula bahwa, masa muda yang penuh anugerah produktifitas yang tinggi, terkadang dicemari dengan hal-hal yang tidak tepat, dan itu dapat terlihat dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagai contoh yang familiar adalah bebasnya pergaulan para pemuda sekarang ini hingga menghasilkan perilaku yang kurang baik, tidak disiplin, dan tidak memiliki akhlak terpuji. Banyak kasus yang sudah terjadi di negara kita Indonesia yang semua “ketidakpujian” tersebut bisa berdampak terhadap mencemarkan kehidupan diri sendiri, memalukan sanak keluarga, merendahkan derajat bangsa dan bahkan dapat menghancurkan agamanya sendiri, dan inilah hal yang paling di khawatirkan dalam agama Islam. Untuk itulah, menurut penulis sangat penting untuk menguraikan beberapa poin yang terkait dengan hal tersebut, agar dapat dijadikan pedoman untuk para pemuda, khususnya pemuda Islam sehingga mampu meningkatkan semangatnya dalam mengembangkan potensi yang ada pada diri sendiri dan untuk agama khususnya.

Kedudukan Pemuda dalam Al-Qur’an dan Hadis

Al-Qur’an telah memberikan petunjuk mengenai sikap keteladanan orang tua dalam mendidik anak-anaknya melalui penggambaran Luqman. Dalam memberikan wasiat-wasiat kepada putranya, Luqman adalah figur seorang ayah yang sangat bijaksana. Itulah sebabnya ayat yang menceritakan tentang Luqman didahului dengan pujian kepadanya. Luqman adalah orang yang mendapatkan hikmah, dan apabila setiap manusia telah memperoleh hikmah, maka ia telah menerima kebajikan yang luar biasa.

Dan sungguh telah kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: ‘Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur pada dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. Dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberikan pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar” (Luqman: 12:13)

Sedangakan pada ayat 16 sampai dengan 19, wasiat Luqman kepada putra-putranya berkaitan dengan:

“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau dilangit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya): sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesunggunya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.”

Luqman yang digambarkan dalam al-Qur’an sebagai sosok pribadi seorang ayah yang bijaksana, merupakan cermin pendidikan bagi orang tua Muslim dalam mendidik putra-putrinya. Dalam wasiat-wasiat tersebut mengandung hakikat pendidikan anak yang mendasar, dengan arah tujuan yang jelas tanpa membutuhkan pemikiran rumit.

Melihat kisah arif Luqman dalam al-Qur’an tersebut, orientasinya jika dikaitkan dengan kehidupan pemuda dalam bermasyarakat tidak lepas dari didikan orang-orang yang telah lebih dahulu muda yaitu para sesepuh atau orang tua sendiri. Hubungan di antara keduanya harus ada kolaborasi tentang bagaimana memikirkan masa depan. Sebagai orang tua, bertugas untuk memberikan arahan terhadap generasi sebagai penerus penegakan agama Islam, bangsa dan Negara. Sebab banyak orang tua maupun tokoh masyarakat enggan memberikan mandat atau kesempatan dalam hal-hal tertentu atau jika dalam bahasa organisasi pengkaderan terhadap para pemuda saat ini minim dilakukan oleh orang tua, sehingga tidak jarang para pemuda kehilangan dasar-dasar hidup bermasyarakat secara lokal maupun universal yang dimiliki oleh para sesepuhnya. Semua itu terjadi karena masih ada saja kebanyakan orang tua -walaupun tidak semuanya- berfikir jika sebuah peran penting diberikan kepada kaum muda, seakan-akan martabat dan kedudukannya hilang dimata masyarakat.

Sebenarnya tidak cukup jika para pemuda menunggu dan diberikan nasihat saja oleh orang tua maupun guru. Tapi juga harus ada upaya dari pemuda itu sendiri atau kesadaran beban dan tanggung jawab yang nyata dipundaknya. Sebab jika bukan pemuda yang akan memberi perubahan dan meneruskan perjuangan siapa lagi?. Oleh karena itu tidak heran bapak proklmasi Republik Indinesia Ir. Soekarno mengatakan: ‚Berilah aku sepuluh pemuda maka akan ku goncang dunia‛. Tentu ungkapan ini bukanlah hanya kata tanpa fakta, sebab secara nyata pemuda telah memberikan bukti pada dunia bahwa mereka adalah agen perubahan. Seperti yang terjadi tahun 80-an, pemudalah yang mampu membubarkan orde baru demi terciptanya Indonesia yang lebih berkeadilan.

Yusuf al-Qardhawi memberikan gambaran kepada pemuda yang tergambar dalam tulisan diatas dikategorikan sebagai generasi idaman. Generasi idaman adalah generasi yang tak asing bagi orang-orang yang membaca al-Qur’an dan mempelajari As-Sunnah.[1] Siapa saja yang membaca al-Qur’an, niscaya menjumpai ciri-ciri generasi idaman tersebut di banyak ayat dan surah. Antara lain dalam surat al-A’raf ayat 181:

“dan diantara orang-orang yang kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan” (Al-A’raf:181).

Setelah mengangkat tokoh besar Luqman yang terekam dalam al-Qur’an sebagai pokok pembahasan dalam kaitannya sebagai teladan orang tua muslim mendidik anak atau lebih jelasnya mendidik generasi penerus atau anak pemuda, selanjutnya akan dibahas seperti apa perhatian Nabi Muhammad saw terhadap kaum Pemuda. Rasulullah saw senantiasa memberikan pengarahan kepada kaum muda untuk mengikuti jalan kebajikan. Dalam sebuah hadis beliau menegaskan:

“Saya wasiatkan para pemuda kepadamu dengan baik, sebab mereka berhati halus. Ketika Allah mengutus diriku untuk menyampaikan agama yang bijaksana ini, maka kaum mudalah yang pertama-tama menyambut saya, sedangkan kaum tua menentangnya.”

Kemudian beliau membacakan ayat al-Qur’an, artinya: …“Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras.Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orangyang fasik. (Al-Hadid: 16)

Dalam hadis yang lain, beliau bersabda:

“Raihlah lima perkara sebelum datangnya yang lima: masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum datangnya sakitmu, kayamu sebelum datangnya miskinmu, kesempatanmu sebelum datangnya kesempitanmu dan dan hidupmu sebelum engkau mati”. (H.R. An-Nasai)

Kehidupan di masa muda sangat berarti bagi setiap kehidupan manusia. Karena kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Tidak ada pemuda yang mendapatkan naungan ilahi selain yang senantiasa menghambakan dirinya kepada Allah. Rasulullah saw menegaskan tentang beberapa hal yang harus dilakukan guna membimbing kepribadian para pemuda. Diantaranya adalah sebagai berikut:

“Hai para pemuda, barangsiapa kuasa beristri hendaklah segera berumah tangga untuk menjaga kehormatan.Tapi barang siapa tidak kuasa melakukannya, hendaklah berpuasa untuk mejadi penawarnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

“tidak ada satu pemberian pun yang lebih mulia selain pemberian budi pekerti luhur kepada puteranya”

“Seorang ayah yang mendidik kesopanan kepada anak-anaknya lebih mulia daripada bersedekah setiap hari sebesar satu sha’.”

“Hai Ghulam (panggilan sayang kepada anak), saya ajarkan kepadamu beberapa kalimat: “jagalah semua ajaran Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (ajaran) Allah, pasti engkau akan menjumpai Allah di hadapanmu. Jika engkau mengharapkan sesuatu, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau minta bantuan, minta tolonglah kepada-Nya”.

Masih bayak ayat dan hadis yang lain tentang petunjuk mengenai pendidikan Islam kepada kaum mudanya. Namun yang lebih utama dikemukakan di sini adalah bahwa Islam sangat memperhatikan pembentukan kepribadian para pemuda. Selagi masih ada, mereka diarahkan agar memiliki budi pekerti yang luhur. Digambarkan oleh Rasulullah saw dalam hadis di atas betapa halusnya hati kaum muda. Mereka masih dalam kesucian hati, tidak banyak kotoran yang melekat di dalamnya. Itulah sebabnya, tatkala pertama kali Islam hadir di tengah kehidupan manusia, merekalah yang mula-mula menyambutnya. Dengan ketulusan dan kesucian hati, mereka siap membela perjuangan Rasulullah saw, dan menentang tradisi para sesepuh mereka yang sesat.[2]

Oleh karena itu Rasulullah saw menganjurkan kepada para orang tua untuk mendidik putra-putranya selagi mereka masi kecil. Saat-saat seperti itulah merupakan waktu yang tepat untuk mengarahkan kepribadian mereka, sebelum mereka mengenal sisi kehidupan yang lain. Penanaman budi pekerti yang baik kepada anak-anak dinilai oleh Nabi sebagai perbuatan yang lebih baik daripada pemberian sedekah kepada orang lain.

Kepada remaja yang telah menginjak usia dewasa, Islam menganjurkan agar segera melangsungkan pernikahan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari bergejolaknya nafsu seksual yang tidak terkendali. Bila anjuran tersebut belum mampu dilaksanakan, berpuasa merupakan langkah yang terbaik untuk meredam nafsu birahi.

Masa muda hendaknya dimanfaatkan untuk melakukan perbuatan yang baik, sebab kesempatan itu hanya datang satu kali dalam rentang kehidupan manusia di dunia. Tenaga yang masih segar di tambah dengan semangat yang menyala merupakan modal utama untuk mengejar kesempatan emas menyongson masa depan yang gemilang melalui ilmu pengetahuan. Pada saat usia menua nanti, kesempatan itu tidak banyak diharapkan. Karena sejalan dengan bertambahnya umur, kesehatan semakin menurun dan semangat hidup juga melemah. Itulah sebabnya, selagi masih menunjukkan ketegaran di kala usia muda, kesempatan menunaikan kewajiban membela agama Allah hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya.[3]

Apabila hidup kita diabdikan guna kepentingan agama, niscaya Allah akan senantiasa melindungi dan memayungi setiap gerak langkah kita. Kemanapun kaki kita melangkah untuk mencari rezeki maupun kepentingan lainnya, hidayah Allah senantiasa menaungi. Maka kemudahan akan selalu menyertai serta terhindar dari segala malapetaka. Oleh karena itu, hendaknya semua tindakan kita hanya tertuju untuk mengharap ridha Allah swt semata. Dialah Yang Maha Perkasa di atas alam raya ini. Dia telah menetapkan rezeki dan semua keputusan yang berhubunga dengan mahluk-Nya. Rasulullah saw juga menganjurkan kepada kaum remaja muslim untuk senantiasa menunaikan shalat dan menjadikan sebagai kebiasaan yang baik. Sebab shalat merupakan ibadah wajib yang dapat mencegah dari perbuatan jahat sebagaimana di jelaskan dalam al-Qur’an.

Nabi juga memberikan pengarahan kepada para orang tua untuk senantiasa memperhatikan perkembangan kepribadian anak-anaknya. Misalnya di kala mereka menginjak usia remaja, para orang tua hendaknya memisahkan tempat tidurnya. Dalam usia-usia peralihan seperti inilah, para remaja sedang berproses mencari bentuk dirinya. Maka sudah sepatutnya mereka mendapatkan pengawasan dan bimbingan yang lebih besar agar kepribadian jiwanya tumbuh dengan baik. Hal ini sangat penting bagi perjalanan hidup mereka selanjutnya. Pendidkan budi pekerti sangat menentukan bagi kehidupan sang anak. Dengan mendidik mereka sedini mungkin, kepribadian dan akhlaknya akan tumbuh menurut arah yang ditentukan oleh ajaran-ajaran Islam guna memperoleh kebahagiaan hidup sejati. Itulah yang di maksud penulis dengan istilah kehidupan pemuda Islam dengan spirit istilah sunnah. Hal ini sebenarnya sama dengan ungkapan ilmuan hadis modern ‘living hadis’ atau‘ihyaa’ as-Sunnah’. Namun yang dijadikan objek adalah pemuda Islam Indonesia yang membawa semangat kehidupan sehari-hari dalam menjalani kehidupan bermasyrakat. Sebelum lebih jauh kita bahas inti permasalahan, penulis akan sekilas menjelaskan pengertian sunnah. Mengenai pengertian sunnah para ilmuan Islam sangat varian mendefinisikannya, namun saya akan mengambil perspektif ilmuan fiqih saja yang lebih mendekati kriteria pembahasan secara amaliah. Menurut ulama fiqih, sunnah adalah semua amalan yang berpahala ketika dikerjakan dan tidak berdosa ketika ditinggalkan.

Jika kita melihat perhatian yang begitu besar dilakukan oleh Nabi, tentu harus ada suatu disiplin ilmu yang harus dijadikan mediasi untuk memperoleh pemahaman. Berbicara as-Sunnah, tidak bisa lepas dari panduan hadis sebagai rujukan utama umat Islam. Di kalangan sahabat senantiasa memahami dan melaksanakan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhamamd saw. Segala problem kehidupan keseharian baik individu maupun bermasyarakat serta bernegara ditanyakan langsung kepada Nabi saw. Namun, seiring dengan wafatnya Rasulullah saw. para sahabat kemudian mendiskusikannya dan saling cek dan ricek untuk mendapatkan hadis yang diinginkan dan sekaligus melaksanakannya.[4]

Melihat konteks diatas, jika dikaitkan dengan saat ini pemuda Islam Indonesia harus lebih semangat belajar dan mencari berbagai macam solusi untuk memecahkan masalah-masalah yang ada di Indonesia sekarang ini. Perkembangan zaman seharusnya tidak menjadi masalah bagi para pemuda kita. Namun perkembangan itu sendiri dijadikan sebuah spirit untuk membuktikan kehebatan sebagai pemuda dengan lebih intens belajar dan memahami ajaran agama. Jangan dijadikan alasan bahwa taat agama adalah orang yang ketinggalan zaman, tapi dengan taat itulah kita buktikan relevansi dan eksistensi agama itu sendiri. Dengan gaya tetap kekinian tapi tidak menyimpang ajaran agama, sosial dan etika. Maka kata Muhammad al-Fatih[5] kehidupan ummat muslim dalam berbangsa dan berbudaya juga dapat dimanifestasikan dengan baik melalui pesan yang dibawa Rasulullah saw dan tuntunan yang dibangun selama beliau menjadi utusan Allah swt.[6]

Keberadaan pemuda di Indonesia sesungguhnya dapat menjadi aset yang berharga bagi masa depan bangsa ini ke arah yang lebih baik dan mampu berdiri sejajar dengan bangsa lain dalam segala bidang.[7] Dengan tetap mempertahankan keislaman dan keindonesiaanya tanpa terpengaruh dengan ajaran-ajaran yang bersifat anarkis, lebih-lebih menentang ideologi Pancasila. Karena memperthankan identitas itu sangat mahal dan sangat berharga, dari sana lah bangsa akan punya nilai. Berawal dari pemuda yang cerdas dan selalu melakukan aksi perubahan yang lebih baik dengan berpedoman pada al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad saw.

Dalam bukunya yang berjudul Al-Jailu Nasrul Mansyuud Yusuf Qardhawi mengatakan: “siapa saja menelaah as-Sunnah dan membaca al-Hadis, niscaya mengetahui jelas generasi idaman ini dengan matahatinya dan mengenalinya secara rinci. Tentu berbicara tentang generasi yang dimaksud disana adalah para pemuda. Nabi saw. Melihat generasi semacam ini adalah generasi yang selamat di anatara tujuh puluh tiga golongan yang binasa. Generasi semacam ini adalah generasi yang tidak mengikuti hawa nafsunya seperti anjing yang setia terhadap majikannya. Mereka tidak akan keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, bahkan mereka selalu komitmen kepada ajaran Rasulullah saw. dan para sahabatnya”.[8]

Berkaitan dengan pentingnya peran pemuda, penulis teringat cerita seorang pemuda yang ingin mendaftarkan dirinya sebagai prajurit dalam sebuah peperangan yang dipimpin Rasulullah saw. Ia datang membawa pedang yang panjang pedangnya itu melebihi tinggi badannya. lalu dengan tegas Rasulullah saw. menolak niatannya karena ia belum memiliki seni berperang. Lalu pemuda itu pulang dan berdiskusi dengan ibunya, lalu ia terus belajar dan mencari kelebihan yang ia miliki sehingga ia pun menemukan bahwa ia pandai menulis dan berbahasa. Dikemudian hari Rasulullah saw. mengangkat beliau sebagai sekretaris pribadi, dialah Zaid bin Tsabit.[9]

Melihat kisah di atas ada dua poin yang perlu dicermati, yaitu semangat perjuangan (struggle) dan selalu berupaya menggali potensi diri. Keberanian Zaid bin Tsabit bisa dijadikan kiblat untuk selalu mengobarkan api perjuangan menjaga agama dan bangsa. Segala hal ia coba baik berperang namun ditolak karena faktor usia. Tapi kesempatan bukan berarti musnah demi perjuangan menjaga agama dan bangsa, tapi dia mencoba menggali potensinya sebagai jurnalis sehingga diangkat menjadi sekretaris pribadi Nabi yang namanya harum sampai saat ini bahwa ia adalah orang yang berperan besar dalam pengkodifikasian al-Qur’an.

Ada sebuah hadis, artinya: “Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Waki' berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Najih -ia tsiqah (terpercaya) - dari Abu Imran Al Jauni dari Jundub bin Abdullah ia berkata; "Ketika kami bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, pada saat itu kami merupakan sosok pemuda-pemuda yang kuat. Kami belajar iman sebelum mempelajari al-Qur’an, kemudian kami mempelajari al-Qur’an, maka dengan begitu bertambahlah keimanan kami.”

Dalam hadis ini dijelaskan peran seorang pemuda yang memiliki ketangguhan dan semangat yang tinggi dalam belajar. Bisa kita tinjau untuk menjadi pemuda Islam yang baik tidak cukup hanya belajar saja atau kecerdasan Inteleketual saja, namun juga tak kalah pentingnya adalah kecerdesan spiritual dan emosional sebagai penyeimbang jiwa dan raga agar tercipta pemuda yang cerdas dan taat dan berdampak membawa agama dan bangsa bermartabat.[10]

Dari kutipan hadis diatas bisa diambil pelajara bagaimana pemuda Islam Indonesia semesstinya. Sehingga mereka benar-benar menjadi generasi harapan untuk waktu yang terus berlanjut. Tiada lain yaitu harus menguasai ilmu pengetahuan, menghormati akal, percaya pada bukti, menolak cerita bohong, tidak mengikuti prasangka dan keinginan hawa nafsu. Suatu generasi yang mempelajari al-Qur’an, berpikir itu wajib, merenung adalah ibadah, mencari ilmu adalah jihad, dan bersikap statis atas tradisi kuno karena sekedar kekunoannya adalah suatu kebodohan dan kesesatan. Dan sesungguhnya taklid buta kepada nenek moyang dan kepada para pembesar adalah suatu kerusakan dan kehancuran. Itulah sebabnya generasi idaman ini senantiasa berpikir sebelum menetapkan sesuatu, belajar sebelum beramal, meneliti adil sebelum mempercayai, berencana sebelum melaksanakan sesuatu. Dan tidak hendak menerima ketetapan tanpa ada bukti dan tidak menerima pengakuan sebelum ada data.[11] Karena tidak jarang pemuda Islam Indonesia terkecoh dan tertipu baik dari segi keilmuan maupun social. Semua itu terjadi karena antusias mencari pengetahuan, mengantisipasi kesalahan, kekeliruan bahkan manipulasi sangat minim. Akan tetapi jika kita giat dan kiat menepis semua itu, pemuda Islam akan tangguh seperti yang tergambar dalam hadis tersebut dengan gemar mempelajari al-Qur’an beserta isinya pada Nabi Muhammad saw.

Peran Pemuda Terhadap Kebangkitan Islam

Pemuda adalah aset suatu bangsa maupun Agama. Pemuda merupakan aset yang sangat mahal dan terpenting dalam kehidupan, selain memiliki kemampuan berpikir secara kritis dan progresif pemuda menjadi harapan masa depan.[12] Peran pemuda dalam setiap episode sejarah kehidupan suatu bangsa telah terbukti nyata. Sejarah telah mencatat dengan tinta emasnya, bahwa peran pemuda sangat penting dalam proses perubahan suatu bangsa. Bukan hanya sejarah bangsa modern saja, namun bangsa-bangsa atau kaum terdahulu pun tidak terlepas dari kontribusi pemuda di dalamnya.

Yusuf Al-Qardhawi seorang ulama besar Mesir kontemporer berkata, "Apabila ingin melihat suatu negara di masa depan, maka lihatlah pemudanya hari ini". Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda memiliki peranan besar dan penting bagi suatu bangsa. Terlebih di masa yang akan datang, kenapa? Karena generasi mudalah yang akan meneruskan estafet kepemimpinan di masa yang akan datang untuk menggantikan para pemimpin yang sekarang.

Berbicara dampak berarti kita berbicara konsekuensi atau akibat dari suatu sebab. Masa depan adalah akibat, maka ciptakanlah sebab yang baik. Jika dikontekstualisasikan dalam kehidupan pemuda sebagai agent of change in a relegiont and a state, maka yang perlu diperhatikan adalah bagaimana perkembangan dan pola kehidupan pemudanya. Karena pola kehidupan akan mempengaruhi sebuah kehidupan pribadi maupun social, lebih-lebih pada kehidupan pribadi-agama (man and relegion) maupun pribadi-negara (man and state).

Sebagai garis pembatas, sikap yang harus dilakukan oleh kaum muslimin terutama kaum muda, pertama, Islam, secara individu, menganjurkan kepada kita menangkal segala informasi atau data yang masih perlu dipertanyakan dengan bekal keimanan dan ketakwaan yang tangguh (klarifikasi). Yakni, dengan membentuk individu muslim dengan kepribadian yang islami semaksimal mungkin; misalnya, dengan mengadakan ruang dialektik atau pengajian secara intensif, yang akan mempengaruhi cara berfikir dan bersikap seseorang terhadap realitas kehidupan. Pemahaman Islam yang demikian harus benar-benar tertancap dalam benak generasi muslim atau kaum muda, agar mereka memiliki benteng yang kuat, untuk menyaring segala informasi yang diterimanya. Dengan cara in, mereka akan mampu memilah dan memilih segala informasi.

Kedua, kehidupan pemuda tidak bisa lepas dari kehidupan masyrakat, tentu harus ada upaya yang harus dilakukan agar membawa kemaslahatan pada lingkungan, yaitu amar ma’ruf nahi munkar. Sikap tegas dan frontal diperlukan jika terjadi ada ketidakseimbangan yang terjadi dalam masayrakat. Pemuda harus memasang sikap dengan sigap mentutas habis informasi-informasi miring terkait isu yang menjelek-jelekkan Islam. Seperti yang sangat marak di media-media elektronik saat ini. Karena masyarakat hanya sebatas mengkonsumsi saja, maka perlu adanya peringatan dan kepedulian terkait informasi miring yang akan merusak ideologi bahkan keimanan masyarakat terhadap agamanya sendiri.

Ketiga, persatuan dan kesatuan kaum muslimin. Berbagai usaha kita akan sulit terwujudkan secara sempurna kalau tidak didukung oleh kekuasaan dan kekuatan yang besar. Jaringan komunikasi yang terorganisasi secara rapi, dan lobi-lobi politik Yahudi, tidak mungkin kita hadapi secara individu. Karena itu, kita sangat memerlukan adanya persatuan dan kesatuan kaum muslimin seluruh dunia. Itulah upaya ketiga yang mesti kita lakukan untuk menghapuskan media Barat tehadap dunia Muslim. Persatuan umat Muslim seluruh dunia dalam rangka menyelesaikan permasalahan-permasalahan tidak mungkin terealisasi tanpa suatu institusi.

Inilah beberapa contoh pemuda Islam di zaman salafus sholeh.

1.         Usamah bin Zaid 18 tahun. Memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu.

2.         Sa’ad bin Abi Waqqash 17 tahun. Yang pertama kali melontarkan anak panah di jalan Allah. Termasuk dari enam orang ahlus syura.

3.         Al-Arqam bin Abil Arqam 16 tahun. Menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasul Shallallahu’alahi wasallam selama 13 tahun berturut-turut.

4.         Zubair bin Awwam 15 tahun. Yang pertama kali menghunuskan pedang di jalan Allah. Diakui oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai hawari-nya.

5.         Zaid bin Tsabit 13 tahun. Penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penerjemah Rasul Shallallu’alalihi wasallam. Hafal kitabullah  dan ikut serta dalam kodifikasi Al Qur’an.

6.         Atab bin Usaid. Diangkat oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai gubernur Makkah pada umur 18 tahun.

7.         Mu’adz bin Amr bin Jamuh 13 tahun dan Mu’awwidz bin ‘Afra 14 tahun. Membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin, pada perang Badar.

8.         Thalhah bin Ubaidullah 16 tahun. Orang Arab yang paling mulia. Berbaiat untuk mati demi Rasul Shallallahu’alaihi wasallam pada perang Uhud dan menjadikan dirinya sebagai tameng bagi Nabi.

9.         Muhammad Al Fatih 22 tahun. Menaklukkan Konstantinopel ibu kota Byzantium pada saat para jenderal agung merasa putus asa.

10.     Abdurrahman An Nashir 21 tahun. Pada masanya Andalusia mencapai puncak keemasannya. Dia mampu menganulir berbagai pertikaian dan membuat kebangkitan sains yang tiada duanya.

11.     Muhammad Al Qasim 17 tahun. Menaklukkan India sebagai seorang jenderal agung pada masanya.

Kisah yang tak terhitung dalam goresan sejarah Islam. Cukuplah hal itu sebagai pengingat keagungan pemuda dalam masyarakat Islam. Semoga Allah membimbing kita & anak-anak kita menjadi pemuda Islam yang tangguh

Kiat Pemuda Islam untuk Sukses

Sebagai pemuda muslim, kita dianjurkan untuk memiliki sikap optimis dalam usaha membangkitkn, mengembangkan dan mempertahankan kejayaan Islam. Usaha tersebut mampu dilakukan oleh setiap individu, artinya semua pemuda Islam wajib hukumnya berusaha terus menerus mengembangkan Islam. Lalu langkah apa saja yang harus dilakukan oleh pemuda Islam? berikut ada empat strategi yang dapat dikembangkan oleh pribadi individu agar dapat sukses dan tentunya dapat mengembangkan Islam menjadi lebih baik dari masa ke masa.

1.         Itqanul Imániyyah (Memperteguh Komitmen Keimanan yang Berbasis)

Maksud dari memperteguh keimanan adalah dalam menjalani kehidupan, pemuda muslim sudah seharusnya dilimuti dengan nuansa ibadah kepada Allah dan mesti yakin terhadap komitmen keimanan. Keimanan yang seperti apa yang dimaksud? yaitu keimanan yang berbasis (iman yang mempunyai dasar-dasar). Seorang pemuda yang memiliki iman seperti itu, sudah tidak memiliki rasa takut terhadap apapun. Lihatlah bagaimana Al-Qur’an menjelaskan dalam Surah Fushilat ayat 30: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

2.         Tadabburul Astaqbaliyyah (Memandang ke depan dengan percaya diri dan optimis)

Sebagai seorang pemuda kita harus dapat melihat ke depan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hal ini karena Allah berfirman: Rahmatku meliputi segala sesuatu. Oleh karenanya kita dianjurkan untuk terus melihat ke depan dengan penuh optimis, dengan cita-cita yang tinggi, hal ini karena Allah Rahmat Allah sangatlah luas. Al-Qur’an menjelaskan dalam Surah Al-A’raf ayat 155: “Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan Kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki.[13] Engkaulah yang memimpin Kami, Maka ampunilah Kami dan berilah Kami rahmat dan Engkaulah pemberi ampun yang sebaik-baiknya”.

3.         Tahshinu ash-Shana’iyyah (Berusaha dan bekerja dengan dinamis)

Para pemuda harus memiliki iman yang berbasis, masa depan yang optimis, dan ketiga kerja dengan dinamis. Oleh karenanya Islam memerintahkan kita semua untuk berkerja, Allah berfirman: Kerjalah kalian, Allah akan menyaksikan, dan Rasul dan Orang beriman karya kamu. Lihat Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 105. Kita harus bekerja dengan rajin, tidak perlu orang lain mengetahuinya cukup Allah lah yang melihat pekerjaan yang kita lakukan. Oleh karenanya tidak perlu khawatir terhadap pekerjaan yang kita lakukan, seperti Para pemuda yang baru menikah, atau yang akan menikah tidak perlu merasa takut dan merasa susah karena harta ketiadaan harta, tanpa harta akar pemasalahan, siapapun bisa berkerja, berusaha dengan kemampuan yang dimiliki.

Sebagaimana syair aceh, Meutan harta cit punca paké, beuna tapiké hai kaom muda, hanjeut di kanto tajak dalam glé, yak tarék kawé jak mita rusa. Nyoe hanjeut meupukat jak mat go kawé, hanjeut meupandé jak seuon raga. Hanjeut bak lada, gisa bak pade, talo bineh glé tanaman muda. Meunyoe jak sikula sambong beu manyang beutrok bak jenjang pasca sarjana. Menyoe duk bak keude beu le that barang, menyoe meuheut keu tukang beusunggoh kerja. Pileh paleng get cit ilme agama, ilme tamita sampoe beu manyang, Meunyoe jeut keu teungku senang hai taulan, pahala intan ile sampoe an maté.

4.         Do’aut takhlishiyyah (Memohon kepada Allah secara khalish)

Setelah berusaha secara zahir maka jangan kesampingkan berusaha secara batin dengan cara berdoa kepada Allah sang maha pemberi. Kita tidak perlu cemas, Allah kaya, tidak perlu khawatir Allah memiliki segalanya. Lihatlah sejarah pada zaman Nabi, orang yang ikut berperang melawan nonmuslim. Non muslim sangatlah banyak, sampai sahabat-sahabat Nabi takut, sehingga Allah berfirman: berapa banyak kejadian golongan sedikit dapat mengalahkan golongan banyak dengan izin Allah, dan Allah beserta orang-orang sabar. Al-Baqarah ayat 249.

Lalu siapa yang ditolong oleh Allah? jawabannya adalah orang yang dekat dengan Allah. Laksana orang yang dekat dengan presiden maka dialah yang akan diberikan pekerjaan oleh presiden. Maka dalam hal ini Allah berfirman: Sujudlah dan dekatkanlah. Jika kita medekatkan diri kepada Allah dengan cara sujud dan mendekatkan diri, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Abu Bakar, ketika berada dalam Gua Tsur, ketika bersembunyi dengan nabi, dari kejaran kafir Qurasy dan mereka semakin dekat dengan tempat persembunyian nabi maka pada saat itu mereka (qurasy) pun mengatakan inilah tempat persembunyian mereka (Nabi Muhammad dan Abu Bakar), perkataan mereka membuat gemetar Abu Bakar sampai keluar keringat, betapa tidak jika mereka mengetahui keberadaan mereka, maka keduanya akan dibunuh oleh kafir Qurasy. Maka pada saat itu Nabi berkata, Jangan takut jangan khawatir, sungguh Allah bersama kita, seketika  Bakar kembali tenang dan semangat.

Penutup

Dari penjelasan di atas, dapat penulis simpulkan beberapa hal, Pertama terkait ciri dan karakteristik ajaran Islam dianggap bangkit apabila terpeliharanya lima poin pokok, yaitu: 1) terpelihara agama (Hifzu al-Dín), 2) terpelihara Jiwa (Hifzu Nafs), 3) Terpelihara Akal (Hifl ‘Aql), 4) terpelihara Nasab/keturunan (Hifzu Nasl), 5) Terpelihara Harta kekayaan, (Hifz Mál). Apabila semua hal ini terpilahara dengan baik dalam suatu wilayah, maka wilayah tersebut dianggap telah bangkit dan berkembang.

Kedua, terkait dengan hal-hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pemuda agar perannya dapat terwujud dalam bentuk Islam yang kaffah, yaitu: 1) Itqanul Imániyyah (Memperteguh Komitmen Keimanan yang Berbasis). 2) Tadabburul Astaqbaliyyah (Memandang ke depan dengan percaya diri dan optimis). 3) Tahshinu ash-Shana’iyyah (Berusaha dan bekerja dengan dinamis). 4) Do’aut takhlishiyyah (Memohon kepada Allah secara khalish).

 

 



[1] Dr. Yusuf al-Qardhawi, “Generasi Idaman”, (Jakarta: Media Da’wah, 1990), hlm. 30

[2] Hasan Al Banna dkk, Pemuda Militan, (Solo:CV. Pustaka Mantiq, 1992), hlm. 63

[3] Hasan Al Banna dkk, Pemuda Militan, (Solo:CV. Pustaka Mantiq, 1992), hlm. 64

[4] Muhammad al-Fatih Suryadilaga, “Kontekstualisasi Hadis dalam Kehidupan Berbangsa dan Berbudaya” dalam journal KALAM, Volume 11, Nomor 1, Juni 2017, hlm. 217

[5] Salah satu Dosen dan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam bidang Ilmu Tafsir dan Hadis

[6] Muhammad al-Fatih Suryadilaga, “Kontekstualisasi Hadis dalam Kehidupan Berbangsa dan Berbudaya” dalam journal KALAM, Volume 11, Nomor 1, Juni 2017, hlm. 216

[7] Wahyu Ishardino Satries, “PERAN SERTA PEMUDA DALAM PEMBANGUNAN MASYARAKAT” Jurnal Madani Edisi I/Mei 2009, hlm. 90

[8] Yusuf Qardhawi, “Generasi Idaman”, (Jakarta: Media Da’wah, 1990), hlm. 36

[9] Hasan Al Banna dkk, Pemuda Militan, (Solo:CV. Pustaka Mantiq, 1992), hlm. 50

[10] Asef Umar Fakhruddin, “Peran Generasi Muda dalam Keberlangsungan Pendidikan Islam”, Dalam Journal INSANIA|Vol. 11|No. 2|Jan-Apr 2006, hlm. 2

[11] Yusuf Qardhawi, “Generasi Idaman”, (Jakarta: Media Da’wah, 1990), hlm. 41-42

[12] Wahyu Ishardino Satries, “Peran Serta Pemuda Dalam Pembangunan Masyarakat”, Jurnal Madani Edisi I/Mei 2009, hlm. 89

[13] Perbuatan mereka membuat patung anak lembu dan menyembahnya itu adalah suatu cobaan Allah untuk menguji mereka, siapa yang sebenarnya kuat imannya dan siapa yang masih ragu-ragu. orang-orang yang lemah imannya Itulah yang mengikuti Samiri dan menyembah patung anak lembu itu. akan tetapi orang-orang yang kuat imannya, tetap dalam keimanannya.

Komentar

  1. Alhamdulillah banyak pelajaran penting dan faedah yang saya dapatkan setelah membaca artikel ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, semoga Allah memberkahi kita semua.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

FIKIH: FASAKH NIKAH DENGAN ALASAN SUAMI MISKIN

Dunia Rahmat: Episode 01.

'Ibrah 1: TSUNAMI 'itu' UNTUK SIAPA?

FIKIH 1: TEORI FASAKH DALAM FIKIH DAN HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA

USHUL FIQH: Kaidah Maqasidiyah

FIKIH 2: KONSEP NAFKAH DALAM FIKIH DAN HUKUM POSITIF DI INDONESIA

USHUL FIQH 1: POSISI IJTIHAD: Sebagai Metode Penggalian Hukum Islam

'Ibrah 2: 4 Mutiara Hilang Karena 4 Mungkara

Dunia Rahmat: Episode 02.

USHUL FIQH: FUNGSI FATWA SEBAGAI SOLUSI DALAM PERMASALAHAN HUKUM ISLAM (Analisis Sejarah & Perkembangannya)