SEJARAH 1: PENGARUH PEMIKIRAN SAINTIS ISLAM ABAD KLASIK TERHADAP PERKEMBANGAN DUNIA BARAT MODERN
PENGARUH PEMIKIRAN SAINTIS ISLAM ABAD KLASIK TERHADAP PERKEMBANGAN DUNIA BARAT MODERN (Sebuah Kajian Historis)
Muhammad
Habibi, S.Hi
Email:
muhammadhabibiemz@gmail.com
Abstrak: Tulisan ini akan mengupas tentang pengaruh keilmuan tokoh muslim bidang sains sejak Abad Klasik terhadap perkembangan Abad Modern dunia barat dewasa ini. Kajian ini penting dilakukan karena, tokoh Islam (khususnya abad klasik) telah memberikan goresan spektakuler dalam berbagai keilmuan dan membuat ajaran Islam ketika itu dipenuhi dengan cahaya pengetahuan yang luar biasa. Permasalahan yang akan diuraikan berkaitan dengan eksistensi sainstis Islam sebagai salah satu perkembangan peradaban Islam di zaman klasik dan pengaruh keilmuan Islam terhadap sejarah perkembangan dunia barat modern. Metode penulisan yang digunakan dalam artikel ini adalah penelitian kepustakaan (Library Research). Hasil penelusuran didapatkan data bahwa; zaman klasik muncul Saintis Islam yang pemikirannya sangat berjasa untuk dunia modern saat ini seperti; 1) Jabir bin Ḥayyan yang hidup 722-804 M ahli di bidang kimia, farmasi, fisika, filosofi, dan astronomi. 2) Al-Khawarizmi (780-850 M) seorang ahli pada bidang matematika, astronomi, astrologi, dan geografi yang berasal dari Persia. 3) Al-Kindi (801-973 M), berperan sebagai filosof pertama dalam dunia Islam. 4) Ar-Razi (865-925 M) Dia termasuk salah seorang yang terampil melakukan tahapan proses kimia, seperti distuasi, kristalisasi, sublimasi, kalsinasi, sintesa, serta berbagai macam analisis lainnya. 5) Ibnu Al-Haiṡam (965-1040 M) seorang saintis Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. 6) Al-Biruni (973-1048 M) ahli bidang gravitasi dijuluki sebagai “bapak astronomi” di kalangan ilmuwan. 7) Ibnu Sina (980-1037 M) ahli matematika, dokter, ensiklopedis, dan filosof. 8) Al-Idrisi (1100-1165 M) adalah ilmuwan pertama yang berhasil menciptakan atau membuat globe (peta dunia) dan ahli geografi. Pengaruh pemikiran Saintis Islam yang berlangsung sejak abad ke-12 M akhirnya menimbulkan sebuah gerakan dengan nama Renaisans (Kebangkitan Kembali) pada abad ke 14 M di kalangan tokoh barat. Gerakan Reformasi gereja ketika abad ke-16 M, gerakan Rasionalisme di abad ke-17 M, revolusi industri serta pencerahan (aufklaerung) pada abad ke-18 M. Di antara bidang yang menjadi pengaruh besar yaitu dalam bidang; pertanian, industri, metodologi keilmuan, angka arab dan matematika kedokteran, astronomi dan ilmu pasti, filsafat, ilmu sejarah dan sosiologi.
Kata Kunci: Saintis Islam, Abad Klasik, Dunia Barat Modern.
Pendahuluan
Artikel ini akan menjelaskan tentang fakta yang berkaitan dengan pengaruh keilmuan-(baik karya atau epsitemologi berpikir) saintis[1] Islam Abad Klasik[2] terhadap perkembangan Dunia Barat Modern.[3] Hal ini, penting untuk diuraikan lebih lanjut karena, disatu sisi tokoh Islam (khususnya abad klasik) telah memberikan goresan penting dalam berbagai keilmuan yang membuat ajaran Islam ketika itu dipenuhi dengan cahaya pengetahuan yang luar biasa.[4] Perkembangan ilmu pengetahuan saat itu sangat pesat, hal ini dipengaruhi dari berbagai faktor, seperti karena terhubungnya antara pemerintah (khalifah), pemikir (ulama) dan praktisi (hakim). Banyaknya orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda saat itu berbondong-bondong untuk masuk agama Islam juga sangat mempengaruhi perkembangan ajaran dan keilmuan Islam.
Namun di sisi yang lain, ketika Timur (dalam hal ini wilayah Islam) sedang menikmati cahaya peradaban yang begitu tinggi, ternyata di wilayah jajahan Romawi Kristen mengalami kegelapan dan kebodohan.[5] Walaupun pada akhirnya Eropa berkembang menjadi pesat juga karena mendapatkan sumbangsih dari orang-orang Islam. Di antaranya adalah transmisi keilmuan Islam ke Eropa. Transmisi ini berupa kontak langsung ataupun para sarjana Eropa belajar pada orang Islam yang saat itu mengalami masa kejayaan yang sangat gemilang. Lalu apa saja jenis ilmu pengetahuan yang disumbangkan Islam hingga menjadikan kemajuan barat semakin berkembang, dan siapa saja sainstis Islam yang berjasa melakukan berbagai penelitian, kuatkah argumen yang mengatakan bahwa dunia barat berkembang sampai saat ini karena pengaruh keilmuan Islam? inilah yang akan diuraikan relatif lebih rinci dalam makalah ini.
Dari uraian latar belakang masalah di atas, maka penulis akan menjelaskan masalah utama, yaitu tentang bagaimana eksistensi sainstis Islam sebagai salah satu peradaban Islam di zaman klasik dan pengaruh keilmuan Islam terhadap sejarah perkembangan dunia barat modern?
Untuk menjawab permasalahan di atas, kajian ini menggunakan metode penilitian kualitatif dengan jenis penulisan berupa kajian kepustakaan (Library Reaserch) untuk menemukan data-data terhadap permasalahan yang dikaji. Data yang penulis gunakan merupakan data sekunder berupa tulisan-tulisan berkaitan dengan Sejarah Peradaban Islam, seperti; 1) Karya Phillip K. Hitti dengan judul History of the Arabs, terbitan New York, Palgrave Macmillan pada tahun 2002. 2) Sejarah Peradaban Islam karya Dr. Siti Zubaidah tahun 2016. 3) Kitab Sejarah Peradaban Islam Terlengkap, karya Abdul Syakur Al-Azizi tahun 2014. Data yang telah ditemukan kemudian dianalisa untuk diketahui yang manakah sejarah sebagai As a Fact dan sejarah As a Written berkaitan dengan tokoh sains dan pengaruhnya terhadap perkembangan dunia barat modern. Teknik penulisan mengikuti panduan penulisan tesis dan desertasi Pascasarjana Universitas Islam Negeri Ar-Raniry tahun 2018.
Eksistensi Saintis Islam Zaman Klasik
Memulai kajian ini penulis mengutip pernyataan Harun Nasution, bahwa pemikiran rasional berkembang pada zaman Islam klasik (650-1250 M). Pemikiran ini dipengaruhi oleh persepsi tentang bagaimana tingginya kedudukan akal seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis. Persepsi ini bertemu dengan persepsi yang sama dari Yunani melalui filsafat dan sains Yunani yang berada di kota-kota pusat peradaban Yunani di Dunia Islam Zaman Klasik, seperti Alexandria (Mesir), Jundisyapur (Irak), Antakia (Syiria), dan Bactra (Persia).
Hal itu dibuktikan dengan fakta sejarah bahwa puncak kejayaan Islam bidang sains terjadi antara abad ke-8 (delapan) hingga ke-13 (tiga belas) Masehi, yang kemudian dikenal dengan abad keemasan (golden era). Khusus pada bidang ilmu-ilmu eksakta dan kealaman, tokoh awal yang sangat menonjol adalah Muhammad bin Musa Al-Khwarizmi (780-850 M) sebagai penemu ilmu al-Jabar dan sistem perhitungan desimal dari angka 0-9. Al-Khwarizmi juga yang perdana meletakkan dasar-dasar sine, cosine, dan trigonometri dalam dasar-dasar ilmu logaritma. Karya spektakulernyanya berjudul Hisb Al-Jabr wa Al-Muqbalah (Perhitungan Aljabar dan Persamaan) sudah pernah diterjemah oleh Gerhard of Gremano dan Robert of Chaster ke dalam bahasa Eropa pada abad ke-12. Karya ini juga menjadi buku induk yang dipakai di berbagai universitas di Eropa hingga abad ke-16 M.
Achmad Baiquni mengutip George Sarton dalam History of Science yang menerangkan bahwa terdapat para tokoh[6] atau ilmuwan muslim yang sangat menonjol, di antaranya: Ibnu Ḥayyan, Al-Khwarizmi, Ar-Razi, Al-Mas‘udi, Abul Wafa’, Al-Bairuni (Al-Biruni), dan Umar Khayyam. Selama 350 tahun, sains dimonopoli oleh umat Islam yang berkebangsaan Arab, Turki, Afghanistan, dan Persia. Mereka adalah tokoh-tokoh di bidang kimia, aljabar, kedokteran, geografi, matematika, fisika, dan astronomi.[7] Kemunculan tokoh atau ilmuwan dari Eropa baru muncul setelah abad ke-11 M, di mana pengaruh dari para ilmuwan muslim tersohor di belahan Barat (khususnya Spanyol), seperti: Al-Zahrawi (936-1013 M), Ibnu Al-Kattani (951-1029 M), Ibnu Ṭufail (1105- 1185 M), dan Ibnu Rusyd (1126- 1198 M).
Bidang matematika, astronomi, dan optik Islam mempunyai ilmuwan yang berasal dari Irak bernama Ibnu Al-Haiṡam atau di Eropa dikenal dengan nama Al-Hazen (965-1040 M). Karya monumentalnya berjudul Kitb Al-Manzhir (Buku Optik) yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin dengan nama Opticae Thesaurus dan menjadi buku rujukan hingga abad ke-16 M di beberapa negara di Eropa.[8] Karya Al-Hazen ini juga mendapat apresiasi dari ilmuwan Jerman bernama Johannes Kepler (1571-1630 M) yang ahli di bidang matematika dan atronomi.
Perkembangan ilmu-ilmu sains (khususnya di bidang ilmu alam dan eksakta) dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya:
1. Spirit keilmuan yang diperoleh dari sumber keagamaan (khususnya Al-Qur’an dan hadis Nabi Saw) yang menganjurkan pentingnya menuntut dan mengamalkan ilmu pengetahuan. Ada banyak ayat-ayat sains yang memberikan insprasi bagi para Saintis muslim. Misalnya; 1) QS. Al-Anbiya’ [21]: 30, tentang keterpaduan langit dan bumi yang kemudian dipisah; 2) QS. Aż-Żariyat [51]: 47, tentang meluasnya atau berkembangnya langit; 3) QS. Fuṣṣilat [41]: 9-11, tentang waktu penciptaan dua masa dan pengadaan isi selama empat masa untuk bumi; 4) QS. As-Sajadah [32]: 4, tentang penciptaan langit dan bumi dalam enam masa; dan beberapa ayat sains lainnya.[9]
2. Ilmuan muslim memiliki hubungan khusus dengan ilmuwan Yunani, khususnya dalam bidang perkembangan intelektual. Sebagaimana diketahui bahwa tradisi intelektualisme Yunani (Hellenisme) memberi pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan sains di dunia Islam, khususnya pada rentangan abad ke-8 hingga ke-13 Masehi yang dikenal dengan nama the golden age (masa keemasan) dunia Islam. Di masa kekhalifahan Umayyah, sudah mulai dikembangkan “tradisi penulisan naskah” di atas kertas yang diadopsi dari negeri Tiongkok (China). Pemerintahan Muawiyah (Umayyah) melakukan transaksi material dengan ilmuwan dan juru tulis dari Yunani dan Romawi untuk menerjemahkan naskah-naskah kuno Yunani ke dalam bahasa Arab. Kemudian pada kekhalifahan Abbasiyah, pusat pemerintahan yang awalnya di Damaskus (Suriah) saat di bawah kekhalifahan Umayyah, dipindah ke Bagdad, Irak. Saat perpindahan ke Bagdad inilah, peradaban Islam berhasil menghimpun empat (4) peradaban besar; dua (2) sebelumnya sudah terjalin saat kekhalifahan Umayyah, dan dua (2) lagi peradaban yang baru terjalin antara Persia dan India.
3. Atmosfer keilmuan dan tradisi ilmiah yang sangat mendukung saat itu. Seperti di ketahui, ada beberapa kota yang menjadi pusat keilmuan dan intelektualisme Islam, misalnya; Bagdad (Irak), Kairo (Mesir), Damaskus (Syiria), dan beberapa kota di Persia (Iran). Kemudian di belahan Barat seperti Cordova sebagai pusat kejayaan Islam di Andalusia (Spanyol) yang sekaligus menjadi jembatan ilmu pengetahuan yang menyebar ke Eropa.[10]
Berikut akan disebutkan secara ringkas biografi beberapa Saintis Islam, khususnya yang berkaitan dengan ilmu kealaman dan eksakta.
1. Jabir bin Ḥayyan (722-804 M)
Nama lengkapnya adalah Abu Musa Jabir bin Ḥayyan yang lebih dikenal dengan Ibnu Ḥayyan, sementara di dunia Barat terkenal dengan nama Geber. Ibnu Ḥayyan diperkirakan lahir di Kufah, Irak, pada tahun 722 M dan wafat pada tahun 804 M. Dia seorang muslim yang ahli di bidang kimia, farmasi, fisika, filosofi, dan astronomi. Kepakarannya dalam bidang ilmu ini, membuat dunia memberinya gelar dengan sebutan bapak kimia modern (the father of modern chemistry). Gelar ini sangat layak disandangnya karena sepuluh (10) abad sebelum ahli kimia Barat bernama John Dalton (1766-1844 M) mencetuskan teori molekul kimia, dia telah menemukannya di abad ke-8 M. Ibnu Ḥayyan bekerja keras meneliti bidang ilmu kimia di sebuah laboratorium dengan serangkaian uji coba (eksperimen). Dalam karirnya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Uniknya, alat yang digunakan dibuat sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan dan hewani.
Setelah sempat berkarir di Damaskus, dia pun dikabarkan kembali ke Kufah. Dua abad pasca-kepulangannya, dalam sebuah penggalian jalan telah ditemukan bekas laboratorium tempat sang ilmuwan berkarya. Dari tempat itu ditemukan peralatan kimianya yang hingga kini masih menarik perhatian para peneliti, serta sebatang emas yang cukup berat.
Sumbangan Ibnu Ḥayyan di bidang kimia antara lain terlihat dalam penyempurnaan proses kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi, dan penguapan serta pengembangan instrumen (alat) untuk melakukan berbagai proses tersebut. Dia telah mampu mengubah persepsi tentang berbagai kejadian alam yang pada saat itu dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat diprediksi, menjadi suatu ilmu sains yang dapat dimengerti dan dipelajari oleh manusia. Dia pula yang menemukan asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, asam asetat, tehnik distilasi dan tehnik kristalisasi. Dia juga yang menemukan larutan aqua regia (dengan menggabungkan asam klorida dan asam nitrat) untuk melarutkan emas. Selain itu, Ibnu Ḥayyan berhasil menyempurnakan proses dasar penguapan, pencairan, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi. Apa yang dihasilkannya itu merupakan teknik-teknik kimia modern.
Ibnu Ḥayyan yang pertama mengaplikasikan penggunaan mangan dioksida pada pembuatan gelas kaca. Dia yang pertama kali mencatat tentang pemanasan anggur akan menimbulkan gas yang mudah terbakar. Hal inilah yang kemudian memberikan jalan bagi Al-Razi untuk menemukan etanol.
2. Al-Khawarizmi (780-850 M)
Tokoh kedua bernama lengkapnya adalah Muhammad bin Musa Al-Khwarizmi atau Al-Khawarizmi. Di dunia Barat (Eropa), Al-Khawarizmi dikenal dengan nama Al-Cowarizmi, Al-Ahawizmi, Al-Karismi, Al-Goritmi, Al-Gorismi, dan beberapa cara ejaan lainnya. Al-Khawarizmi dilahirkan di Bukhara dan besar di Khawarism (sekarang Khiva), wilayah Uzbekistan, pada tahun 780 M dan meninggal tahun 850 M di Bagdad. Al-Khawarizmi ahli pada bidang matematika, astronomi, astrologi, dan geografi yang berasal dari Persia. Istilah “algoritma” diambil dari nama ilmuwan ini.
Al-Khwarizmi dikenal sebagai tokoh Islam yang berpengetahuan luas. Pengetahuan dan keahliannya bukan hanya dalam bidang syariat, tapi di dalam bidang falsafah, logika, aritmatika, geometri, musik, ilmu hitung, sejarah Islam, dan kimia. Al-Khawarizmi juga dikenal sebagai guru aljabar di Eropa. Dia telah menciptakan pemakaian Secans dan Tangen dalam penyelidikan trigonometri dan astronomi dan pernah memperkenalkan angka-angka India serta cara-cara perhitungan India pada dunia Islam.
Al-Khawarizmi merupakan ilmuan yang dianggap paling berjasa dalam pembuatan sistem angka yang kita kenal sekarang ini, sekurang-kurangnya dari segi penggunaan dan penyebarannya ke Barat. Angka-angka yang telah biasa kita pakai disebut angka Arab, yang pada mulanya diperkenalkan oleh seorang ilmuwan bidang astronomi dari India bernama Sidharta yang bekerja di majelis ilmu milik Khalifah Al-Mansur. Tentu saja, sistem angka (yang dalam bahasa Arab disebut Hindi) sudah dipergunakan di India. Angka yang dari India itu disebut Raqam Al-Hindi, terdiri dari 1,2,3,4, dan 5. Kemudian Al-Khawarizmi menciptakan angka 6,7,8, dan 9 yang selanjutnya diciptakan angka 0 (nol). Dengan demikian, Al-Khawarizmi lah yang menyempurnakan sistem angka sehingga menjadi deret hitung 0-9 yang dipakai hingga sekarang.
Algebra atau aljabar merupakan nadi matematika. Istilah aljabar baru muncul setelah Al-Khawarizmi menulis Hisab al-Jibra wa al-Muqabalah. Karya al-Khawarizmi ini telah diterjemahkan oleh Gerhard of Gremano dan Robert of Chaster ke dalam bahasa Eropa pada abad ke-12 M.
Selain konsep dalam matematika, bidang astronomi juga membuat al-Khawarizmi terkenal. Astronomi dapat diartikan sebagai ilmu falaq (pengetahuan tentang bintang-bintang yang melibatkan kajian tentang kedudukan, pergerakan, dan pemikiran serta tafsiran yang berkaitan dengan bintang). Di bawah Khalifah Al-Ma’mun, sebuah tim astronom yang dipimpinnya berhasil menentukan ukuran dan bentuk bundaran bumi. Penelitian ini dilakukan di Sanjar dan Palmyra. Hasilnya hanya selisih 2,877 kaki dari ukuran garis tengah bumi yang sebenarnya. Sebuah perhitungan luar biasa yang dapat dilakukan pada saat itu.
3. Al-Kindi (801 M - 873 M)
Al-Kindi memiliki nama lengkap Abu Yusuf Yaqub bin Ishaq bin Ṣabbah bin Imran bin Ismail bin Muhammad bin al-Asy‘ath bin Qais al-Kindi. Al-Kindi lahir di Kufah, Irak, pada 801 M dan meninggal pada 866 M. Al-Kindi hidup di masa beberapa khalifah yang berkuasa saat itu, yaitu: Khalifah Al-Amin (809-813 M), Al-Ma’mun (813-833 M), Al-Mu’tasim (833-842 M), Al-Wathiq (842-847 M), dan Al-Mutawakkil (847-861 M). Setelah zaman Aristoteles usai, sejarah tidak mencatat lagi generasi penerus para filosof terdahulu hingga lahirlah sosok filosof muslim pertama pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyyah (132-656 H). Ayahnya meninggal dunia semasa ia kanak-kanak. Kakeknya bernama Asy‘aṡ bin Qais dikenal sebagai sahabat Nabi. Jika ditelusuri nasabnya, Al-Kindi masih keturunan Yaqrib bin Qaṭam yang berasal dari daerah Arab Selatan dan dikenal sebagai raja daerah Kindah.[11]
Al-Kindi ahli dalam berbagai bidang, seperti geometri, astronomi, astrologi, aritmatika, musik (yang dibangunnya dari berbagai prinsip aritmatis), fisika, medis, psikologi, meteorologi dan politik. Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu, termasuk kedokteran, membuatnya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan. Menurut Al-Naẓim, selama berkutat dan bergelut dengan ilmu pengetahuan di Bait al-Hikmah, Al-Kindi telah melahirkan 260 karya. Di antara sederet buah pikirnya itu telah dituangkan dalam risalah-risalah pendek yang tak lagi ditemukan. Karya-karya yang dihasilkannya menunjukan bahwa Al-Kindi adalah seorang yang berilmu pengetahuan yang luas dan dalam.
Ratusan karyanya itu dipilah ke berbagai bidang, seperti filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik, dan meteorologi. Bukunya yang paling banyak adalah geometri sebanyak tiga puluh dua (32) judul. Filsafat dan kedokteran masing-masing mencapai dua puluh dua (22) judul. Logika sebanyak sembilan judul dan fisika dua belas (12) judul. Belum terdeteksi keberadaan data terkait judul karya-karya al-Kindi tersebut. Dedi Supriadi menyebutkan jumlah karangan Al-Kindi sebenarnya sukar dideteksi karena dua sebab. Pertama, penulis-penulis biografi tidak sepakat penuturannya tentang jumlah karangannya. Ibn An-Naẓim dan Al-Qafṭi menyebut dua ratus tiga puluh delapan (238) risalah (karangan pendek) dan Ṣa‘id al-Andalusi menyebutnya lima puluh (50) buah, sedangkan sebagian dari karangan tersebut telah hilang musnah. Kedua, di antara karangannya yang sampai kepada kita, ada yang memuat karangan-karangan lain.[12]
4. Ar-Razi (865 M - 925 M)
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar-Razi atau di Barat dikenal dengan nama Rhazes. Ar-Razi dilahirkan di kota Rayy, Iran dan mengembara untuk mempelajari berbagai bidang keilmuan di Bagdad, Irak, sebagai pusat peradaban di masa kejayaan Islam saat itu.[13] Dia termasuk salah seorang yang terampil melakukan proses-proses kimia, seperti distuasi, kristalisasi, sublimasi, kalsinasi, sintesa, serta berbagai macam analisis lainnya. Dia juga yang berhasil menerapkan ilmu kimia dalam bidang kedokteran. Ia sukses mengobati penyakit melalui reaksi yang terjadi di dalam tubuh pasien. Dia mempunyai keahlian menemukan cologne yang disarikan dari sejenis tumbuh-tumbuhan.
Ar-Razi termasuk ilmuwan muslim pertama yang berhasil mendiagnosa dan menyembuhkan penyakit cacar. Karya Ar-Razi berjudul Al-Judar wal Hasbah (Cacar dan Campak) adalah buku pertama yang membahas tentang cacar dan campak sebagai dua wabah yang berbeda.[14] Diagnosa Ar-Razi terhadap penyakit cacar mendapat pujian yang diabadikan dalam Encyclopedia Britannica (1911), seperti tertulis sebagai berikut, “Pernyataan pertama yang paling akurat dan terpercaya tentang adanya wabah ditemukan pada karya dokter Persia pada abad ke-9, yaitu Rhazes, yang menjelaskan gejalanya secara jelas, patologi penyakit yang dijelaskan dengan perumpamaan fermentasi anggur dan cara mencegah wabah tersebut.”
5. Ibnu Al- Al-Haiṡam (965 M-1040 M)
Nama lengkapnya adalah Abu Ali Muhammad al-Hassan bin Al-Haiṡam. Dia lebih dikenal sebagai Ibnu Haiṡam, yang lahir di Basrah pada 965 M dan meninggal di Kairo tahun 1039 M. Di Barat, dia lebih dikenal dengan nama Alhazen. Dia seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Penelitiannya banyak mengenai cahaya. Dia menghasilkan banyak karya di bidang-bidang tersebut.
Di antara banyak karya Al-Haiṡam, terdapat karya monumentalnya berjudul Kitab Al-Manaḍir (Buku tentang Optik). Kitab yang ditulis pada abad ke-11 M itu terdiri dari tujuh volume. Isinya tidak hanya membahas masalah optic, melainkan juga membahas tentang fisika, matematika, anatomi, mekanik, astronomi dan psikologi. Namun, studi tentang optik mendapat perhatian dan porsi yang lebih banyak dalam Kitab al-Manaḍir.
Ibnu Haiṡam banyak memberi pengaruh dalam perkembangan keilmuan Islam dan dunia. Para ilmuwan Eropa banyak melakukan penelitian atas karya-karya Ibnu Haiṡam, di antaranya Roger Bacon, seorang ilmuwan Inggris abad ke-13 M, yang dalam penelitiannya mengenai penggunaan matematika dalam ilmu alam, banyak menggunakan hasil-hasil eksperimen Ibnu Al-Haiṡam.
Teori-teori optiknya jauh lebih tinggi dari apa yang dihasilkan Ptolemeus. Bahkan, menurut John William Draper, Ibnu Haitsam merupakan orang pertama yang memperbaiki kekeliruan konsep Yunani tentang penglihatan. Informasinya tidak hanya didasarkan pada hitotesis dan perkiraan saja, tetapi pada penelitian anatomis dan pengkajian geometris.
Terkait sains, menurut Ibnu Haiṡam, cahaya fajar bermula apabila matahari berada di garis 19 derajat di ufuk timur. Warna merah pada senja juga akan hilang apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk barat. Dalam kajiannya, dia juga telah berhasil menunjukkan posisi cahaya, seperti bias dan pantulan cahaya.
Ibnu Haiṡam juga membuat eksperimen terhadap kaca yang dibakar, yang kemudian memunculkan teori lensa pembesar. Teori itu telah digunakan oleh para saintis di Itali untuk menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia. Yang lebih menakjubkan adalah Ibnu Haitsam telah menemukan prinsip isi padu udara sebelum seorang saintis bernama Trricella mengetahui masalah itu 500 tahun kemudian. Ibnu Haiṡam juga menemukan teori gravitasi sebelum Issaac Newton mengetahuinya. Selain itu, teori Ibnu Haiṡam mengenai jiwa manusia sebagai satu rentetan perasaan yang bersambung-sambung secara teratur telah memberikan ilham kepada saintis Barat untuk menghasilkan gambar. Teorinya ini telah membawa kepada penemuan film, seperti yang kita tonton pada masa kini.
6. Al-Biruni (973 M - 1048 M)
Nama lengkapnya adalah Abu Raihan Muḥammad bin Aḥmad Al-Biruni. Dia merupakan matematikawan Persia, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filosof, pengembara, sejarawan, ahli farmasi dan guru, yang banyak menyumbang kepada bidang matematika, filsafat, dan obat-obatan.
Al-Biruni seangkatan dengan Al-Haiṡam dan Ibnu Sina dan menjadi salah satu ilmuwan serba-bisa yang juga diperhitungkan di masa-masa kejayaan Islam. Seperti halnya ilmuwan muslim abad pertengahan lainnya, Al-Biruni juga menguasai banyak bidang ilmu. Namun yang paling menonjol adalah bidang gravitasi. Itulah sebabnya, Al-Biruni dijuluki sebagai “bapak astronomi” di kalangan ilmuwan.
Kepiawaian dan kecerdasan Al-Biruni merangsang dirinya mendalami sekitar ilmu astronomi. Dia misalnya memberikan perhatian yang besar terhadap kemungkinan gerak bumi mengitari matahari. Sayangnya, bukunya yang membicarakan soal ini hilang. Namun ia berpendapat, seperti pernah ia sampaikan dalam suratnya kepada Ibnu Sina bahwa gerak eliptis lebih mungkin daripada gerak melingkar pada planet. Al-Biruni konsisten mempertahankan pendapatnya tersebut, dan ternyata di kemudian hari terbukti kebenarannya menurut ilmu astronomi modern.
Prestasi paling menonjol di bidang fisika ilmuwan Muslim yang pertama kali memperkenalkan permainan catur ke negeri-negeri Islam ini adalah tentang penghitungan akurat mengenai timbangan 18 batu. Selain itu, ia juga menemukan konsep bahwa cahaya lebih cepat dari suara. Dalam kaitan ini, Al-Biruni membantah beberapa prinsip fisika Aristotelian seperti tentang gerak gravitasi langit, gerak edar langit, tempat alamiah benda serta masalah kontinuitas dan diskontinuitas materi dan ruang.
7. Ibnu Sina (980-1037 M)
Nama lengkapnya adalah Abu Ali Ḥusein bin Abdillah bin Ḥasan bin Ali bin Sina, yang lebih dikenal sebagai Ibnu Sina. Di dunia Barat, Ibnu Sina dikenal dengan nama Avicenna. Dia adalah ilmuwan berkebangsaan Persia yang dikenal sebagai matematikawan, dokter, ensiklopedis, dan filsuf yang terkenal di zamannya. Dia seorang astronom, apoteker, ahli geologi, logician, paleontologist, fisika, penyair, psikolog, ilmuwan, tentara, negarawan, dan seklaigus seorang guru. Untuk yang terakhir, Ibnu Sina dijuluki sebagai Al-Syaikh Ar-Rais (Guru Besar Utama).
Dalam berbagai sumber disebutkan bahwa sejak berumur 10 tahun, Ibnu Sina sudah berhasil menghafalkan Al-Qur’an dan menguasai ilmu tafsir, hadis, fikih, dan beberapa ilmu agama Islam lainnya. Kemudian sejak berumur 16 tahun sudah menguasai kedokteran. Pada usia 17 tahun, Ibnu Sina berhasil menyembuhkan seorang raja di Bukhara, yaitu Nuh bin Manṣur, setelah semua tabib terkenal yang diundang gagal menyembuhkan sang raja tersebut. Sebagai balasannya, sang raja memberinya hadiah yang besar dan berharga. Namun Ibnu Sina menolaknya dan lebih memilih untuk membaca buku-buku perpustakaan kerajaan.
Ibnu Sina memiliki banyak keahlian, sebagaimana para ilmuwan muslim pada umumnya. Namun yang paling menonjol di antara keahliannya adalah di bidang medis atau kedokteran. Karya monumentalnya telah menjadi rujukan para akademisi kedokteran di Eropa. Bahkan, buku ini menjadi standar kedokteran Cina sejak zaman dinasti Han. Buku ini tidak hanya diterjemahkan dalam bahasa Inggris, tapi juga telah diterjemahkan dalam bahasa Ibrani, Latin, Perancis, Spanyol, Italia dan sebagainya.
8. Al-Idrisi (1100-1165 M)
Nama Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad al-Idrisi al-Qurtubi al-Hasani al-Sabti. Dia lebih dikenal sebagai al-Idrisi. Di dunia Barat, namanya lebih dikenal sebagai Dreses atau Edrisi. Dia adalah ilmuwan pertama yang berhasil menciptakan atau membuat globe (peta dunia) dan ahli geografi.
Dua abad sebelum Marcopolo menjelajahi samudera, dia sudah memasukkan seluruh benua seperti Asia, Eropa, Afrika dan Utara Equador ke dalam peta yang diciptakannya. Al-Idrisi menggabungkan pengetahuan dari Afrika, Samudera Hindia, dan Timur Jauh yang dikumpulkan para penjelajah dan pedagang Islam dalam bentuk peta Islam, dan juga dari informasi yang dibawa oleh pelayar-pelayar Normandia untuk membuat peta paling akurat di dunia di masa pra-modern, yang diletakkan sebagai ilustrasi Kitab Nuzhat al-Muṣtaq miliknya, (Latin: Opus Geographicum) diterjemahkan “Hiburan untuk Manusia yang Rindu Mengembara ke Tempat-Tempat Jauh”.
Al-Idrisi menginspirasi pakar geografi Islam lainnya seperti Ibnu Batutah, Ibnu Khaldun, Piri Reis dan Barbary Corsairs. Petanya juga menginspirasi Christopher Columbus dan Vasco Da Gama. Karya teks geografi al-Idrisi, Nuzhatul Mushtaq, sering dikutip oleh para pendukung teori hubungan Andalusia-Amerika pra-Columbus.
Sebenarnya banyak sekali ilmuan muslim (saintis Islam) yang ada di zaman klasik, namun delapan tokoh ini sudah cukup memadai untuk disebutkan.
Posisi Andalusia sebagai Jembatan antara Islam dan Dunia Barat
Bagian ini akan dijelaskan mengenai posisi strategis wilayah Andalusia yang menjembatani antara keilmuan dalam Islam dengan dunia Barat. Dunia Islam pernah mencapai masa keemasan pada bidang sains, teknologi, dan filsafat tepatnya di bawah Dinasti Abbasiyah yang memerintah sekitar abad-8 sampai abad-15 sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Lebih lanjutnya bahwa sarjana muslim menjadi perantara bagi kemajuan ilmu pengetahuan di dunia modern saat ini. Dari dunia Islam, Ilmu pengetahuan mengalami transmisi, diseminasi dan proliferasi ke dunia Barat yang mendukung muculnya zaman Renaisans[15] di Eropa. Melalui dunia Islam, barat mendapat akses untuk mendalami dan mengambangkan ilmu pengetahuan modern.[16]
Manusia modern lebih banyak berhutang dari pada yang disangkanya kepada sarjana-sarjana Islam abad pertengahan. Mereka menjadi ahli kimia, dokter, ahli ilmu bintang, ahli matematika, ahli ilmu bumi, ahli muslim lainnya, bukan hanya menghidupkan disiplin-disiplin ilmu pengetahuan Yunani, melainkan memperluas jangkauannya, meletakkan dan memperkuat dasar-dasar, tempat tumpuan bagi terbitnya ilmu pengetahuan modern.[17] Bidang sains merupakan sumbangan terbesar peradaban Islam kepada dunia modern, tetapi buah yang diproduksi tenyata lambat matangnya. Tidak lama setelah kebudayaan Moor (Arab Spanyol) terbenam dalam kegelapan, maka raksasa yang dilahirkannya bangkit dalam keperkasaannya. Bukan hanya sains yang telah menghidupkan kembali Eropa, melainkan pengaruh peradaban Islam yang lainnya juga menghidupkan Eropa.[18]
Dalam sejarah, Andalusia merupakan daerah yang sangat hebat ketika masuk dan berkembangannya Islam di sana. Masuknya Islam ke Spanyol tepatnya setelah Abdur Rahman ad-Dakhil (756M) berhasil membangun pemerintahan yang berpusat di Andalusia dan pertengahan abad ke-9 M, Islam telah meliputi seluruh Spanyol. Phillip K. Hitti mengungkapkan bahwa kaum Muslimin Spanyol telah menorehkan catatan yang paling mengagumkan dalam sejarah intelektual pada abad pertengahan di Eropa. Antara abad 2-7H/8-13M, cendikiawan dan ulama Islam telah membawa perkembangan kebudayaan dan peradaban penting ke seluruh pelosok dunia. Di samping itu mereka juga merupakan peranan yang menghubungkan ilmu dan filsafat Yunani klasik sehingga khazanah kuno itu ditemukan kembali. Tidak hanya sebagai mediator, tetapi mereka juga memberikan beberapa penambahan dan proses transmisi sedemikian rupa sehingga memungkinkan lahirnya pencerahan di Eropa Barat. Dalam semua proses tersebut bangsa Arab-Spanyol mempunyai andil yang sangat besar.[19]
Para pencari ilmu dari Eropa Barat telah berduyun-duyun mendatangi Andalusia untuk menimba ilmu. Kejayaan ini mencapai puncaknya pada abad ke-11 M. ketika para ulama dan pakar muslim berdatangan ke Andalusia dari Iraq, Syam dan Mesir, karena pemerintah Muslim Andalusia benar-benar memberi tempat terhormat bagi para ilmuwan. Mereka memboyong literatur-literatur dari Timur dalam berbagai ilmu ke Andalusia. Dinamika keilmuan dan peradaban ini terus berlanjut sekalipun kekuasaan muslim Spanyol tercabik-cabik.[20] Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika pada saat kekhilafahan Islam berkuasa saat itu Spanyol menjadi pusat pembelajaran (centre of learning) bagi masyarakat Eropa dengan adanya Universitas Cordova.
Universitas di Andalusia (Spanyol) biasa menjadi ajang pertemuan para akademis dan ruang pembacaan publik tempat untuk membacakan puisi-pusi asli atau menyampaikan pidato. Salah satu slogan favorit yang tertera di atas portal masuk Universitas berbunyi “Dunia hanya terdiri atas empat unsur: pengetahuan yang bijak, keadilan penguasa, doa orang saleh dan keberanian kesatria.”[21]
Di Universitas Andalusia ini banyak kaum intelektual menimba ilmu, dan dari negeri tersebut muncul nama-nama ulama besar seperti Imam al-Syaṭibi pengarang kitab Al-Muwafaqat, sebuah kitab tentang Uṣul Fiqh yang sangat berpengaruh; Ibnu Hazm Al-Andalusi pengarang kitab Al-Faṣl fi al-Milal wa al- Ahwa’ wa an-Nihal, sebuah kitab tentang perbandingan sekte dan agama-agama dunia, di mana bukti tersebut telah mengilhami penulis-penulis Barat untuk melakukan hal yang sama.
Semaraknya pengembangan ilmu pengetahuan Islam di Spanyol juga diikuti dengan banyaknya perpustakaan tersebar di Spanyol yang jumlah bukunya sangat fantastis. Sejarah mencatat, perpustakaan di Cordova pada abad 10 Masehi mempunyai enam ratus ribu (600.000) jilid buku. Perpustakaan Al-Hakim di Andalusia mempunyai berbagai buku dalam empat puluh (40) kamar yang setiap kamarnya berisi delapan belas ribu (18.000) jilid buku. Sementara ratusan tahun sesudahnya (abad 15 M), menurut catatan Catholik Encyclopedia, perpustakaan Gereja Canterbury yang merupakan perpustakaan dunia Barat yang paling kaya saat jumlah bukunya tidak melebihi seribu delapan ratus (1.800) jilid buku.[22]
Andalusia saat itu menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tempat cendikiawan dan ulama Islam di Barat dan Cordova serta menjadi kota raksasa Islam yang menerangi dunia dengan cahaya gilang-gemilang sehingga universitasnya pada saat itu juga dipenuhi oleh banyak mahasiswa Katolik dari Perancis, Inggris, Jerman dan Italia. Pada masa itu, para pemuda Kristen dari berbagai negara di Eropa dikirim berbondong-bondong ke sejumlah perguruan tinggi di Andalusia guna menimba ilmu pengetahuan dan teknologi dari para ilmuwan muslim.
Nama-nama seperti Gerard dari Cremona; Campanus dari Navarra; Aberald dari Bath; Albert dan Daniel dari Morley yang telah menimba ilmu demikian banyak dari para ilmuwan muslim, untuk kemudian pulang dan menggunakannya secara efektif bagi penelitian dan pengembangan di masing-masing bangsanya. Dari sini kemudian sebuah revolusi pemikiran dan kebudayaan telah pecah dan menyebarluas ke seluruh masyarakat dan seluruh benua. Para pemuda Kristen yang sebelumnya telah banyak belajar dari para ilmuwan muslim, telah berhasil melakukan sebuah transformasi nilai-nilai yang unggul dari peradaban Islam yang kemudian diimplementasikan pada peradaban mereka (Barat) yang selanjutnya berimplikasi terhadap kemajuan diberbagai bidang ilmu pengetahuan.
Apalagi setelah Toledo jatuh ke tangan Kristen pada tahun 478 H/1085M,[23] menjadikan kota itu sebagai pusat saluran utama proses peralihan khazanah ilmu pengetahuan Islam yang berbahasa Arab ke Eropa. Di Toledo Uskup Bear Raymond I (520-547H/1126-1152M) membangun sekolah khusus penterjemah dan sekolah kajian orientalisme yang pertama di Eropa, atas permintaan para pendeta dengan tujuan utama untuk mempersiapkan para misionaris Kristen ke kalangan Islam. Penterjemah dari Toledo yang paling produktif adalah Gerard Cremona, telah menterjemahkan ke dalam bahasa Latin karya berbahasa Arab sebanyak tujuh puluh satu (71) judul.[24]
Pada akhir abad 7 H/ 13 M ilmu pengetahuan dan filsafat Arab telah dipindahkan ke Eropa yang bergerak dari Todelo melalui Pyrenees, Provence dan Alpine terus ke kawasan Lorraine, Jerman, Eropa Tengah dan daratan Inggris Raya. Sebagai pusat peradaban Islam Andalusia telah memberikan kontribusi yang besar terhadap tumbuh dan berkembangnya peradaban modern di dunia Eropa.
Pengaruh Keilmuan Islam terhadap Perkembangan Dunia Barat Modern
Transmisi pemikiran dan sains Islam ke Barat pada awal abad pertengahan melewati beberapa tahap.[25]
Pertama, sekolompok sarjana Barat mengunjungi wilayah-wilayah muslim untuk melakukan kajian-kajian pribadi. Constantinus Africanus dan Adelhard adalah perintis-perintisnya. Kemudian disusul oleh para pelopor dari Italia, Spanyol dan Perancis. Mereka menghadiri seminari-seminari muslim untuk belajar matematika, filsafat, kedokteran, kosmografi, dan lain-lain. Dalam waktu singkat mereka menjadi calon-calon Profesor di Universitas- Universitas pertama di Barat, yang dibangun dengan menyontoh dari seminari- seminari muslim tersebut.
Kedua, bermula dengan pendirian Universitas-Universitas pertama Barat. Gaya arsitektur, kurikulum dan metode pengajarannya persis sama dengan yang ada di seminari-seminari muslim. Pertama seminari Palermo didirikan di kerajaan Napoli (Naples). Oleh Raja Frederick II, kemudian Universitas-Universitas penting berdiri di Padua, Toulause, baru di Leon.
Ketiga, pada tahab ini sains Islam berhasil ditransmisikan ke Perancis dan wilayah-wilayah Barat melalui Italia. Seminari-seminari di Bologna dan Mont Rellier didirikan pada awal abad ke-13, kemudian Universitas Paris di buka (1213 M).
Sementara itu, sains Islam sampai ke Inggris dan Jerman lewat Universitas- Universitas Oxford dan Kala yang didirikan dengan pola yang sama.
Berkenaan dengan pendirian Universitas-Universitas ini, Herbert A. Davies mengatakan: “Mereka (orang-orang Muslim) mendirikan Universitas-Universitas besar selama berabad-abad melebihi yang dipunyai oleh Eropa Kristen. Universitas Bagdad, Kairo, Cordova, khususnya yang termasyhur Universitas Al-Azhar Kairo (kini sudah berumur lebih dari sepuluh abad) memiliki mahasiswa sebanyak 12 ribu orang. Perpustakaan-perpustakaan besar dibangun, beberapa di antaranya berisi ratusan ribu jilid buku yang semuanya terdaftar dan tersusun rapi. Banyak orang Kristen yang belajar di Universitas Cordova, yang selanjutnya membawa ilmu dan kebudayaan ke negeri-negeri mereka, pengaruh universitas Spanyol (Islam) atas Universitas Paris, Oxford dan Universitas- Universitas yang mereka bangun di Italia tentunya sangat besar”.[26]
Pengaruh pemikiran dan sains Islam yang berlangsung sejak abad ke-12 M akhirnya menimbulkan gerakan Kebangkitan Kembali (Renaisans) pada abad ke 14 M, gerakan Reformasi gereja pada abad ke-16 M, gerakan Rasionalisme pada abad ke-17 M, revolusi industri serta pencerahan (aufklaerung) pada abad ke-18M.[27] Penting kiranya penulis sebutkan beberapa percikan cahaya Islam terhadap perkembangan dunia barat modern dewasa ini, yaitu:
1. Pertanian
Bangsa Arab sangat mahir dalam bidang pertanian, mereka bertani berdasarkan ilmu, mereka dengan serius memasukkan berbagai -macam tumbuhan ke Spanyol seperti tebu, pohon tut (buahnya dimakan dan daunnya untuk ulat sutra), padi, kapas, buah-buahan dan lain-lain. Mereka pandai bercocok tanam dan irigasi. Penelitian ilmiah mereka tentang pertanian, perkebunan dan pertanahan dibukukan. Mereka pemerhati unggulan dalam penelitian tersebut adalah Ibn al-Awam al-Isybili tahun 586 H (1190 M). Dalam Kitab al-Falahah, diuraikan berbagai macam tanah, bermacam-macam pupuk dan menerangkan cara membudidayakan lima ratu delapan puluh lima (585) macam tumbuhan dan lima puluh (50) macam buah. Lebih dari itu dalam kitab tersebut juga menjelaskan tentang cara merawat, gejala-gejala penyakit dan cara membasmi hama tanaman. Jadi ilmu pertanian telah rampung kodifikasinya pada abad pertengahan abad keemasan Islam.[28]
Warisan Islam yang satu ini tidak dipungkiri oleh orang-orang Spanyol karena ada seribu dalil yang bisa membuktikannya. Sampai sekarangpun mereka masih mengenang pernyataan seorang Arab (Islam) “segala sesuatu di Dunia ini terdapat di Sevilla hingga susu burung pipit”.[29]
2. Industri
Sebagian hasil industri telah dimasukkan oleh kaum Muslim ke Spanyol, di antaranya adalah produksi Kertas. Pabrik kertas pertama di Eropa adalah di Asbania pada pertengahan abad ke-12 M dan pusat industri pertama adalah di Balansia, Syathiba dan Toledo. [30] Berbagai macam peralatan dari tambang seperti pisau, pedang ada di sana, hiasan-hiasan dan ukiran dari tambang juga ada.[31] Industri yang paling penting adalah inovasi senjata api yang disebut “Barud” (pistol) adalah murni penemuan orang Arab Muslim.[32]
3. Metode Keilmuan
Barat menganggap bahwa Roger Bacan adalah penemu metode keilmuan, ini adalah pengingkaran sejarah, Briffault menyatakan bahwa Roger tak lebih dari utusan sains dan metode muslim pada Eropa Kristen. Dia belajar Bahasa Arab di Perancis pada tahun 1240-1250 M dan 1257-1268 M, dengan modal bahasa Arab ia belajar ilmu pasti dan ke-Islaman lalu menerjemah dari bahasa Arab apa yang belum diterjemah dan Opus Majusnya adalah hasil plagiat dari Al-Syifa karya Ibn Sina.[33] Kemudian datang Francis Bacon (1561-1627) menyebarkan teori induksi dan deduksi dan metode eksperimen lewat karya-karyanya yang dianggap standar.
4. Angka Arab dan Matematika
Muhammad Ibn Musa al-Khawarizmi (780-850 M) adalah perintis aljabar, bukunya “Al-Jabr wa Al-Muqabalah” adalah buku yang menyebarkan penggunaan angka- angka arab dan sistem persepuluhan. Tanpa itu semua matematika dan aritmatika modrn tidak terbayangkan. Beberapa rumus ilmu ukur, termasuk mengenai segi tiga, daftar logaritma dan sistem persepuluhan adalah penemuannya, bukan penemuan John Naiper (1550-1617) atau Simon Stevin (1548-1620).[34]
5. Kodokteran
Cukuplah dijadikan sebagai satu contoh bahwa Ibnu Sina (980-1307 M) dengan karyanya al-Qanun fi at-Ṭibb yang menjadi referensi utama sampai abad ke-19. Terutama tentang penyakit saraf. Dapat dikatakan bahwa antara abad ke-13 sampai abad ke-16 tidak ada ahli kedokteran Barat yang bisa melepaskan diri dari pengaruh Ibn Sina.[35]
Tokoh lain adalah Ibn Nafis (687 H) adalah penemu pertama aliran darah, sedang Az-Zahrawi Abu Al-Qasim Khalaf (404 H/1013 M) adalah dokter ahli bedah yang sangat terkenal dan bukunya menjadi rujukan berabad-abad lamanya.
Fakta yang telah dijelaskan di atas merupakan beberapa contoh dari ratusan saintis muslim di segala bidang yang berkembang pesat pada abad pertengahan di mana Eropa (Barat) sedang kelam dan gulita. Hal ini perlu dikuak kembali dalam rangka mencari ruh dari perkembangan ilmu pengetahuan di era global ini sehingga generasi Muslim tidak silau dan buta dibuatnya, akan tetapi bagaimana mengembalikan kejayaan itu dengan nafas-nafas keislaman sebagaimana para ulama dulu khususnya yang hidup di abad pertengahan. Adakah caranya? hanya umat muslim sekarang ini yang mampu menjawabnya.
6. Astronomi dan Ilmu Pasti
Dalam bidang ini, sarjana Islam al-Khawarizmi banyak sekali menyumbang dengan karya karyanya dan mempunyai pengaruh terbesar atas pelik pelik ilmu pasti di abad pertengahan. Ia menulis buku Al-jabr wa al-Muqabalah, suatu buku standar ilmu pasti. Buku tersebut memuat daftar astronomi yang tertua dan al- Khawarizmi merupakan orang pertama yang menyusun buku ilmu berhitung dan aljabar. Kitab inilah yang memperkenalkan ilmu aljabar serta nama itu sendiri di benua Eropa. Pengaruhnya diperkuat dengan kenyataan bahwa “alogarisme” untuk waktu yang lama berarti “aritmatik” dan dewasa ini digunakan sebagai metode untuk mengkalkulasi yang kini telah dibakukan. Begiu pula bapak kimia Islam, Jabir Ibnu Ḥayyan (721-815M). Kitab kimianya merupakan buku yang paling berpengaruh di Eropa dan Asia sampai sesudah abad 14.
7. Filsafat
Sumbangan Islam pada dunia barat dalam hal filsafat adalah Ibnu Rusyd (1126- 1198M), dan Al-Kindi (809-873M). Ibnu Rusyd dikenal sebagai komentator pemikiran Aristoteles, karenanya dijuluki Aristoteles II, pengaruhnya sangat menonjol atas pendukung filsafat skholastik Kristen dan berbagai pemikiran sarjana Eropa pada Abad pertengahan. Sedang Al-Kindi terkenal dengan metode filsafatnya yang menggabungkan dalil-dalil Plato dan Aristoteles dengan cara Neo-Platonis.
8. Ilmu Sejarah dan Sosiologi
Dalam ilmu sejarah dan sosiologi, muncul nama Ibnu Khaldun (1332-1406 M) dengan karya Muqaddimah-nya yang telah memberikan sumbangan dan pengaruh terhadap pemikiran sarjana barat. Dialah yang pertama kali mengemukakan teori perkembangan sejarah, baik berdasarkan penyelidikan faktor faktor jasmani dan iklim, maupun kekuatan moral dan rohani.
Inilah beberapa pengaruh besar yang ditimbulkan dari pemikiran saintis Islam zaman klasik terhadap perkembangan dunia barat modern sebagaimana kita lihat sekarang ini.
Kesimpulan
Perkembangan ilmu-ilmu sains (khususnya di bidang ilmu kealaman dan eksakta) dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya 1) Spirit keilmuan yang diperoleh dari sumber keagamaan (khususnya Al-Qur’an dan hadits Nabi Saw) yang menganjurkan pentingnya menuntut dan mengamalkan ilmu pengetahuan. 2) Ilmuan muslim memiliki hubungan khusus dengan ilmuwan Yunani, khususnya dalam bidang perkembangan intelektual. 3) Atmosfer keilmuan dan tradisi ilmiah yang sangat mendukung saat itu. Dari faktor ini muncullah beberapa orang Saintis Islam, seperti; 1) Jabir bin Hayyan yang hidup 722-804 M dan kemudian menjadi ahli di bidang kimia, farmasi, fisika, filosofi, dan astronomi. Kepakarannya dalam bidang ilmu ini, membuat dunia memberinya gelar dengan sebutan bapak kimia modern (the father of modern chemistry). 2) Al-Khawarizmi (780-850 M) ahli pada bidang matematika, astronomi, astrologi, dan geografi yang berasal dari Persia. Istilah “algoritma” diambil dari nama ilmuwan ini. 3) Al-Kindi (801-973 M), berperan sebagai filofof pertama dalam dunia Islam. Al-Kindi ahli dalam berbagai bidang, seperti geometri, astronomi, astrologi, aritmatika, musik (yang dibangunnya dari berbagai prinsip aritmatis), fisika, medis, psikologi, meteorologi, dan politik. Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu, termasuk kedokteran, membuatnya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan. 4) Ar-Razi (865 M - 925 M) Dia termasuk salah seorang yang terampil melakukan proses-proses kimia, seperti distuasi, kristalisasi, sublimasi, kalsinasi, sintesa, serta berbagai macam analisis lainnya. Dia juga yang berhasil menerapkan ilmu kimia dalam bidang kedokteran. Ia sukses mengobati penyakit melalui reaksi yang terjadi di dalam tubuh pasien. Dia mempunyai keahlian menemukan cologne yang disarikan dari sejenis tumbuh-tumbuhan. 5) Ibnu Al-Haitsam (965 M-1040 M) seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Penelitiannya banyak mengenai cahaya. 6) Al-Biruni (973 M - 1048 M), seperti halnya ilmuwan muslim abad pertengahan lainnya, Al-Biruni juga menguasai banyak bidang ilmu. Namun yang paling menonjol adalah bidang gravitasi. Itulah sebabnya, Al-Biruni dijuluki sebagai “bapak astronomi” di kalangan ilmuwan. 7) Ibnu Sina (980 M - 1037 M) adalah ilmuwan berkebangsaan Persia yang dikenal sebagai matematikawan, dokter, ensiklopedis, dan filsuf yang terkenal di zamannya. Dia seorang astronom, apoteker, ahli geologi, logician, paleontologist, fisika, penyair, psikolog, ilmuwan, tentara, negarawan, dan seklaigus seorang guru. Untuk yang terakhir, Ibnu Sina dijuluki sebagai Al-Syaikh Ar-Rais (Guru Besar Utama). 8) Al-Idrisi (1100-1165 M) adalah ilmuwan pertama yang berhasil menciptakan atau membuat globe (peta dunia) dan ahli geografi.
Andalusia merupakan daerah yang sangat hebat ketika masuk dan berkembangannya Islam di sana. Masuknya Islam ke Spanyol tepatnya setelah Abdur Rahman ad-Dakhil (756M) berhasil membangun pemerintahan yang berpusat di Andalusia dan pertengahan abad ke-9 M Islam telah meliputi seluruh Spanyol. Kaum Muslimin Spanyol telah menorehkan catatan yang paling mengagumkan dalam sejarah intelektual pada abad pertengahan di Eropa. Antara abad 2-7H/8-13M, cendikiawan dan ulama Islam telah membawa perkembangan kebudayaan dan peradaban penting ke seluruh pelosok dunia. Di samping itu mereka juga merupakan peranan yang menghubungkan ilmu dan filsafat Yunani klasik sehingga khazanah kuno itu ditemukan kembali. Tidak hanya sebagai mediator, tetapi mereka juga memberikan beberapa penambahan dan proses transmisi sedemikian rupa sehingga memungkinkan lahirnya pencerahan di Eropa Barat. Dalam semua proses tersebut bangsa Arab-Spanyol mempunyai andil yang sangat besar. Pada akhir abad 7H/13M ilmu pengetahuan dan filsafat Arab telah dipindahkan ke Eropa yang bergerak dari Todelo melalui Pyrenees, Provence dan Alpine terus ke kawasan Lorraine, Jerman, Eropa Tengah dan daratan Inggris Raya. Sebagai pusat peradaban Islam Andalusia telah memberikan kontribusi yang besar terhadap tumbuh dan berkembangnya peradaban modern di dunia Eropa. Pengaruh pemikiran dan sains Islam yang berlangsung sejak abad ke-12 M akhirnya menimbulkan gerakan Kebangkitan Kembali (Renaisans) pada abad ke 14 M, gerakan Reformasi gereja pada abad ke-16 M, gerakan Rasionalisme pada abad ke-17 M, revolusi industri serta pencerahan (aufklaerung) pada abad ke-18M. Diantaranya pada bidang pertanian, industri, metodologi keilmuan, angka arab dan matematika kedokteran, astronomi dan ilmu pasti, filsafat dan ilmu sejarah dan sosiologi.
Daftar Pustaka
Abdul Aziz al-Khuwaithir dkk. Al-‘Alam al-Islami, Wizarah al-Ma’arif-KSA, 1975.
Achmad Baiquni, Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Kealaman, t.tmp. 1997.
Agus Purwanto, Ayat Ayat Semesta: Sisi-Sisi Al-Qur’an yang Terlupakan Bandung: PT Mizan Publika.
Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007.
Anonim, Isybiliyah Humsh al-Gharb wa Tuhfah al-Majd, Majalah al-Wa’y al-Islami, Kuwait: Edisi 252, Dzulqaidah 1405.
Badri Yatim, Sejarah Peradan Islam, Jakarta: Raja Grafindo 2000.
Berkhof, I.H., Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986.
Boys ZTF Pradana, Filsafat Islam, Malang: Umm Pers, 2003.
Burns, Edward Marshl and Philip Lee Ralph, Word Civilization From Ancient to Contemporery, New York: W.W. Norton and Company, 1964.
Dedi Supriadi, Pengantar Filsafat Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2009.
Haidar Baqir, “Jejak-jejak sains Islam Dalam Sains Modern”, Dalam Jurnal Qur’an, Jakarta: edisi Juli-September 1989.
Lembaga Studi Agama Dan Filsafat, Ulumul Qur’an, Vol. 3, Jakarta: 1992,
Lisga Hidayat Siregar, Sejarah Peradaban Islam Klasik, Bandung: Citapustaka Media perintis, 2010.
M. Sahari Besari, Teknologi Nusantara: 40 Abad Hambatan Inovasi, Jakarta: Salemba, 2008.
Madjid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam, Jakarta: Pustaka Jaya, 1986.
Phillip K. Hitti, History of the Arabs, New York: Palgrave Macmillan 2002.
Ridwan Abdullah Sani, Sains Berbasis Alquran, Jakarta: Bumi Aksara, 2015.
Sayyed Hossein Nasr, Science And Civilization in Islam, t.tmp. 2001.
Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof & Filsafatnya, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2012.
[1] Secara harfiah, Saintis memiliki makana ahli ilmu pengetahuan khususnya bidang teknologi dan ilmu kealaman. Istilah “Saintis Islam” merupakan padanan kata yang penulis gunakan untuk menunjukkan keberadaan pakar sains yang berasal dari dunia Islam. Ini penting untuk dijelaskan karena, kata ini sering penulis gunakan dalam makalah ini.
[2] Periodesasi Sejarah Peradaban Islam, dibagi menjadi tiga (3) periode utama, yaitu; 1) Periode Klasik pada 600-1258 Masehi, 2) Periode pertengahan sampai akhir abad 17 Masehi, 3) Dan Periode modern dimulai Abad 18 Masehi sampai dengan sekarang masih berjalan.
Periode klasik memiliki karakteristik sebagai berikut: Pertama, Periode klasik ini yang berlangsung 600-1258 Masehi. Kedua, Terdiri dari tiga (3) fase; Pertama, Penciptaan komunitas islam di Arabia. Kedua Penaklukan Timur Tengah oleh Muslimim dan Muslimat. Ketiga, Nilai Islam merubah mayoritas Timur Tengah. Ciri-ciri utama periode ini adalah perpaduan peradaban Islam dengan Timur Tengah, pola ekonomi dengan monoteistik.
[3] Zaman modern atau zaman kiwari biasanya merujuk pada tahun-tahun setelah 1500 Masehi. Tahun tersebut ditandai dengan runtuhnya Kekaisaran Romawi Timur, penemuan Amerika oleh Christopher Columbus, dimulainya Zeitgeist dan reformasi gereja oleh Martin Luther. Masa modern ditandai dengan perkembangan pesat di bidang ilmu pengetahuan, politik, dan teknologi. Dari akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, seni modern, politik, iptek, dan budaya tak hanya mendominasi Eropa Barat dan Amerika Utara, tetapi juga hampir setiap jengkal daerah di dunia. Termasuk berbagai macam pemikiran yang pro maupun yang kontra terhadap dunia Barat. Peperangan brutal dan masalah lain dari masa ini, banyak diakibatkan dari pertumbuhan yang cepat, dan hubungan antara hilangnya kekuatan norma agama dan etika tradisional. Hal ini menimbulkan banyak reaksi terhadap perkembangan modern. Optimisme dan kepercayaan dalam proses yang berjalan di tempat telah dikritik oleh pascamodernisme sementara dominasi Eropa Barat dan Amerika Utara atas benua lain telah dikritik oleh teori pascakolonial.
[4] Hal ini bisa dilihat dari munculnya banyak cendikiawan yang mampu memahami berbagai disiplin ilmu, seperti; 1) Ibnu Sina dibidang Kedoteran, 2) Ibnu Khaldun dibidang Astronomi, 3) Al-Ghazzali dibidang Ilmu Sosial. dan Masih banyak lagi tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh saat itu.
[5] Sebagai contoh kurangnya ilmu pengetahuan bidang kedokteran di wilayah barat, sebuah kisah Kilyam Dabur yang ketika itu menjabat sebagai wali kota Ṭabariyah menceritakan bahwa ada seorang jawara penunggang kuda yang sakit keras dibawa kepada seorang Uskup Agung untuk mendapatkan pengobatan. Tatkala Uskup melihat Pasien, dia meminta lilin, setelah lilin kami berikan, dia melemaskannya dan membentuknya seperti ruas jari, kemudian masing-masing diletakkan disamping hidungnya. Setelah itu sang jawara meninggal. Kami berkata kepadanya bahwa dia telah meninggal. Dia bilang “ya, dia tadi tersiksa maka saya sumbat lubang hidungnya sampai mati dan tenang beristirahat.” Ini adalah salah satu bentuk keterbelakangan ilmu pengetahuan kedokteran yang dialami dunia Barat ketika itu yang bahkan tidak mampu mengobati pasien yang sedang sakit.
[6] Tokoh sains muslim dalam tulisan ini penulis sebut dengan “Saintis Islam”. Mengutip makna dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sebagaimana makna harfiahnya, saintis artinya ahli ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan alam. Jika dalam tulisan ini ditautkan kata “Islam” di belakang kata “saintis” memiliki arti bahwa, ahli ilmu kealaman yang dimaksud merupakan para cendekiawan muslim yang sangat memahami dan mampu meletakkan dasar-dasar keilmuan sains ketika itu dan menjadi pedoman para ahli sesudahnya. Mengenai siapa saja mereka akan penulis jelaskan pada paragraf selanjutnya.
[7] Achmad Baiquni, Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Kealaman, (t.tmp. 1997), hlm. 67.
[8] Sayyed Hossein Nasr, Science And Civilization in Islam, (t.tmp. 2001), hlm. 130.
[9] Ridwan Abdullah Sani, Sains Berbasis Alquran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2015), hlm. 176.
[10] Berkaitan dengan posisi Andalusia menjadi jembatan penghubung antara Islam dan Dunia Barat akan dijelaskan nantinya.
[11] Boys ZTF Pradana, Filsafat Islam, (Malang: Umm Pers, 2003), hlm. 87.
[12] Dedi Supriadi, Pengantar Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 53.
[13] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof & Filsafatnya, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2012), hlm. 113.
[14] Madjid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1986), hlm. 17.
[15] Zaman Renaisans (abad XIV-XVI) adalah satu abad keemasan (Golden Age) dalam sejarah peradaban barat. Zaman ini merupakan fase transisi yang menjebatani zaman kegelapan (Dark Ages) dengan zaman pencerahan (Enlightenment Age). Dengan lahirnya Renaisans, seberkas kemilau cahaya peradaban barat mulai bersinar. Tanpa Renaisans, Eropa mungkin tidak akan menapaki abad-abad modern dengan begitu cepat. Secara etimologis (bahasa Prancis) Renaisans, berasal dari kata Re, (kembali) dan Neítré (lahir) berarti “kelahiran kembali.” Dalam konteks sejarah barat, istilah ini mengacu pada terjadinya kebangkitan kembali minat yang sangat besar dan mendalam terhadap kekeyaan warisan Yunani dan Romawi kuno dalam berbagai aspeknya. Manusia Renaisans begitu bersemangat mempelajari karya-karya pemikir agung Yunani Kuno seperti Plato, Plotinus dan Aristoteles. Lihat Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007), hlm. 109.
Ada empat indikator pemberian nama Renaisans (kelahiran kembali): Pertama, karena pada masa ini manusia berhasil mencapai prestasi gemilang dalam berbagai bidang seni, filsafat, literatur, sains, politik, pendidikan, agama, perdagangan dan lain-lain. Kedua, Renaisans telah membangkitkan kembali cita-cita, alam pemikiran, filsafat hidup yang kemudian menstrukturisasi standar-standar dunia modern seperti optimisme, hedonisme, naturalisme dan individualisme. Lihat, Burns, Edward Marshl and Philip Lee Ralph, Word Civilization From Ancient to Contemporery, (New York: W.W. Norton and Company, 1964), hlm. 516.
Ketiga, terjadinya kebangkitan kembali minat mendalam terhadap kekayaan warisan Yunani dan Romawi Kuno. Keempat, terjadinya kebangkitan humanisme sekuler yang menggeser orientasi berfikir manusia dari yang bersifat teosentrik menjadi antroposentris. Kelima, terjadinya pemberontakan terhadap gereja yang kemudian muncul kebebasan intelektual dan agama. Dalam hal masa ini telah memaklumkan bahwa manusia sendiri adalah kaidah segala sesuatu yang ada, bukan Gereja atau Alkitab. Lihat Berkhof, I.H., Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986), hlm. 256.
[16] Agus Purwanto, Ayat Ayat Semesta: Sisi-Sisi Al-Qur’an yang Terlupakan (Bandung: PT Mizan Publika), hlm. 23.
[17] Haidar Baqir, “Jejak-jejak sains Islam Dalam Sains Modern”, Dalam Jurnal Qur’an (Jakarta: edisi Juli-September 1989), hlm. 34.
[18] Ibid., hlm. 35.
[19] Phillip K. Hitti, History of the Arabs (New York: Palgrave Macmillan 2002), hlm. 737. Bagi penulis adanya referensi yang kuat seperti karya K. Hitti ini menjadi pendukung yang sangat membantu umat Islam modern dalam mencari jejak-jejak perkembangan Islam di Eropa, khususnya Spanyol serta perkembangan Ilmu pengetahuan disana.
[20] Abdul Aziz al-Khuwaithir dkk. Al-‘Alam al-Islami (Wizarah al-Ma’arif-KSA, 1395/1975), hlm. 146.
[21] Ibid., hlm. 717.
[22] M. Sahari Besari, Teknologi Nusantara: 40 Abad Hambatan Inovasi, (Jakarta: Salemba, 2008), hlm. 58.
[23] Lembaga Studi Agama Dan Filsafat, Ulumul Qur’an, (Jakarta: 1992), Vol 3, hlm. 32.
[24] Lisga Hidayat Siregar, Sejarah Peradaban Islam Klasik, (Bandung: Citapustaka Media perintis, 2010), hlm. 202.
[25] Haedar Baqir, “Jejak-jejak sains Islam Dalam Sains Modern”…, hlm. 55.
[26] Ibid.
[27] Badri Yatim, Sejarah Peradan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo 2000), hlm. 110
[28] Abdul Aziz, Al-‘Alam al-Islami…, hlm. 149.
[29] Anonim, Isybiliyah Humsh al-Gharb wa Tuhfah al-Majd, Majalah al-Wa’y al-Islami (Kuwait: Edisi 252, 1405), hlm. 84.
[30] Abdul Aziz, Al-‘Alam al-Islami,…, hlm. 149.
[31] Ibid, hlm. 157.
[32] Ibid, hlm. 149.
[33] Haidar Baqir, “Jejak-jejak sains Islam Dalam Sains Modern”…, hlm. 57.
[34] Ibid., hlm. 58.
[35] Ibid.
Komentar
Posting Komentar