Kisah 6: SISA ROTI SARAPAN PAGI TEMANKU
SEKEPING
SISA ROTI SARAPAN PAGI TEMANKU
Hari itu di sebuah sekolah, dilakukan pemeriksaan segala hal yang
dilarang masuk di lingkungan sekolah seperti handphone berkamera, foto, gambar,
surat-surat cinta, dan lain-lain. Para siswi menerima perintah ini dengan
senang hati. Tim membuka tas-tas para siswi di depan mereka. Semua tas bersih
berisi buku-buku, pena, dan peralatan kebutuhan sekolah lainnya.
Saat itu, di ujung ruangan Zahra yang memandang kepada tim
pemeriksa dengan pandangan terpecah dan mata nanar. Tangannya memegang erat
tasnya. Pandangannya semakin tajam setiap giliran pemeriksaan semakin dekat
pada dirinya. Dia semakin erat memegang tasnya. Dalam hati ia berkata, "Ya Allah
semoga mereka tidak akan membuka tas saya".
“Tolong buka tasnya anakku”, kata seorang guru pada Zahra.
Siswi itu terhenyak, tidak langsung membuka tasnya. Dia diam,
menatap wanita yang ada di depannya, tetapi tetap mendekap tas ke dadanya.
“Berikan tasmu nak”, kata pemeriksa itu dengan lembut.
Namun tiba-tiba Zahra berteriak keras, “Tidaaaak..!
Teriakan
itu memancing pemeriksa lainnya. Merekapun berkumpul di sekitar siswi tersebut.
Apa gerangan rahasia yang dia sembunyikan?
Para siswipun kaget dan semua mata terbelalak. Ruangan tiba-tiba
sunyi. Semua terdiam. Ketua tim pemeriksa memerintahkannya duduk dan
menenangkan situasi. Zahrapun mulai tenang.
Kepala sekolah bertanya, “Apa yang engkau sembunyikan di dalam
tas wahai anakku?”
Dengan perasaan galau, Zahra membuka tasnya. Tapi ternyata tidak
ada sesuatupun yang di larang ada di dalam tasnya. Tidak ada apa-apa di dalam
tasnya kecuali sisa makanan (roti). Yaa, itulah yang ada di dalam tasnya.
Ketika ditanya kepada zahra mengapa dia tidak mengizinkan tasnya untuk
diperiksa.
Setelah menarik nafas panjang, dengan raut wajah sedih dia menjawab, “ini adalah
sisa-sisa roti sarapan pagi dan jajanan para teman-temannya, yang masih tersisa
separoh atau seperempatnya di dalam bungkusnya. Kemudian saya kumpulkan dan saya
makan sebagiannya. Sisanya saya bawa pulang untuk keluarga saya di rumah, untuk
ibu dan adik-adik saya, agar mereka memiliki sesuatu yang bisa disantap untuk
siang dan makan malamnya. Kami adalah keluarga miskin, tidak memiliki
siapa-siapa. Alasan saya tidak membuka tas, agar saya tidak malu dihadapan
teman-teman, saya takut mereka akn menjahui saya jika mengetahui kondisi seperti ini.”
Setelah mendengar pengakuan ini, tiba-tiba suara tangis meledak di
ruangan tersebut. Semua yang hadir tidak sanggup menahan air mata sebagai tanda penyesalan atas perlakuan buruk
dan tidak memperdulikan Zahra.
Sahabatku… Apakah kehidupan Zahra dan banyak orang seperti dia itu merupakan takdir? Karena itu mereka tetap dalam kemiskinannya? Bagaimana keadaannya jika
kita membantunya, apakah dia akan terlepas dari kukungan kemiskinan. Bukankan
itu juga takdir?
TAKDIR
ZAHRA ADA DI TANGANMU SAHABAT, mari kita bertindak….

Komentar
Posting Komentar