Kisah 3: Kita bisa memilih takdir Allah
Memilih Takdir
Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan
(Al-Baqarah: 195)
Khalifah Umar bin Khattab mengunjungi negeri Syam (Syiria sekarang). Di tengah jalan, beberapa pemimpin pasukan menemuinya, di antaranya: Abu Ubaidah bin al Jarrah. Mereka memberitahu Umar bahwa ada wabah yang sedang melanda negeri Syam. “Tolong panggilkan para pemuka kaum Muhajirin dan Anshar!” perintah Umar. Mereka datang. Setelah menceritakan bahwa wabah kolera tengah melanda negeri Syam, Umar meminta pendapat mereka. Mereka pun berselisih pendapat. Sebagian berkata, “Engkau telah berangkat untuk satu tujuan, maka menurut kami tidak layak lagi engkau kembali.” Sebagian lagi berkata: “Engkau berangkat bersama banyak orang dan para Sahabat Rasulullah saw., maka menurut kami hendaknya engkau tidak perlu pergi menghadapi wabah ini.”
Kemudian Umar berkata: “Istirahatlah kalian!”
Mereka keluar dari ruangan pertemuan.
Umar berkata lagi, “Panggilkan para pemuka Quraisy!” Lalu mereka dipanggil. Umar menanyakan hal yang sama. Hasilnya, tidak ada di antara mereka yang berbeda pendapat. Menurut mereka, ”Engkau hendaknya kembali bersama orang-orang dan jangan pergi ke tempat wabah tersebut.”
Umar pun mengumpulkan seluruh personilnya dan berkata, “Aku akan kembali pulang.” Akhirnya semua orang mengikuti Umar untuk kembali pulang ke Madinah.
Abu Ubaidah bertanya, “Apakah engkau lari dari takdir Allah?” Umar menjawab, “Ya, kita lari dari takdir Allah untuk pindah ke takdir-Nya yang lain. Kalau engkau memiliki seekor unta yang merumput di sebuah lembah yang memiliki dua sisi; satu sisinya subur dan banyak rumputnya sementara satunya lagi kering, pasti engkau menggembala unta itu di tepi yang subur kan? Berarti sama dengan menggembalanya sesuai dengan takdir Allah. Dan jika engkau menggembalanya di tanah yang kering, juga karena takdir Allah, kan?’
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri (QS. ar-Ra`du: 11)
***
Reza, seorang santri, mendatangi tengku-nya di sebuah balai pengajian pesantren untuk melanjutnya pengajian akidah. Hari ini materinya tentang takdir. Ia mengenderai sepeda motor kesayangannya. Dengan serampangan, ia memarkir motornya di tepi jalan masuk pesantren. Beberapa puluh meter ia berjalan menuju balai tempat tengku.
“Assalamu`alaikum teungku?” katanya.
“`Alaikum salam, apa kabar?” jawab tengku dengan berwibawa.
“Alhamdulillah sehat teungku,” wajah Reza ceria.
“Apa kamu sudah parkir motormu di tempat parkir? Sudah dikunci stangnya? Akhir-akhir ini di kampung kita banyak hilang sepeda motor,” teungku membuka pembicaraan.
“Saya parkir di pintu gerbang teungku, tidak saya kunci stangnya. Karena saya pikir, kalau sudah takdir Allah hilang, pasti hilang juga walaupun dikunci; dan kalau sudah takdir tidak hilang, di mana pun kita parkir pasti tidak hilang,” jawab Reza berfilsafat.
Teungku tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kalau kamu kunci baik-baik stangnya, lalu ditambah kunci ganda di peleknya, dan kamu parkir di tempat parkir yang ada penjaganya sehingga motormu tidak dapat dibawa maling, apakah itu bukan takdir?” tanya teungku bertanya. Ia masih tersenyum. Reza terdiam.
“Kita juga berperan menentukan takdir kita. Kalau motormu diletakkan di tepi jalan dan tidak terkunci, berarti kamu ingin takdir motormu dicuri”, lanjut teungku. Tanpa berkata apapun, Reza berdiri, turun dari balai untuk mengamankan motornya. Mata teungku mengikuti langkahnya.
oOo
Komentar
Posting Komentar