Kisah 5: Kebaikan pasti dibalas Kebaikan
TABUR ----- TUAI
Pagi Minggu 26 Desember 2004, Maulana bersama dua sahabatnya di SMA, Reza dan Agam, sedang asyik bermain pasir di pantai dekat makam Syiah Kuala Banda Aceh. Mereka membuat patung pasir aneka bentuk. Tiba-tiba bumi bergerak dahsyat. Terdengar suara bergemuruh dari dalam tanah. Banyak orang yang sedang bersantai di pantai itu berteriak memanggil-manggil anaknya. Atau memeluk erat yang anak ada di dekatnya.
Sebagian besar orang tidak mampu berdiri karena dahsyatnya gempa. Mereka duduk, ada yang memegang batu, batang kayu, atau hanya bersandar pada tanah saja. Lima menit berlalu, bumi sudah tenang. Orang-orang kembali menikmati cerahnya pagi di tepi laut berpasir putih itu. Tiba-tiba, dalam sekejap, air laut surut sampai beberapa puluh meter ketengah. Semua orang terkesiap, saling pandang. Lalu, dua sahabat Maulana berlari ke arah air yang surut itu, mengikuti anak-anak yang lain. Mereka mengejar ikan-ikan yang menggelepar di pasir. Anak-anak, bahkan banyak orang tua, menangkapi ikan yang terjebak itu, tak mampu mengejar air surut itu.
Maulana masih terkesima. Rasanya ada yang aneh. Bagaimana mungkin air laut dapat surut demikian cepat? pikirnya. Saat ia masih keheranan memandangi air laut, ia memalingkan wajah pada seorang bapak di sampingnya yang menunjuk-nunjuk ke arah laut, tetapi tanpa kata. Ia menunjuk sekumpulan burung yang bergerak ke daratan. Banyak sekali. Yang aneh, di belakang hewan-hewan cantik itu ada sekumpulan awan hitam, membentuk garis panjang sejajar permukaan laut. Tetapi, mengapa awan itu menyentuh permukaan air?….
Tiba-tiba seorang wanita berteriak, “Air laut naik, air laut naik!” sambil menunjuk kabut tebal itu.
Maulana sadar. Yaaa, kabut itu ternyata gelombang raksana yang bergerak ke pantai. Ia sontak berteriak, “Rezaaa...!!! Agaaam…!!! Larii!!! Air laut naiiik!!!” setelah Maulana berteriak empat kali, barulah Reza dan Agam menyadari apa yang sedang terjadi. Bersama banyak orang, keduanya segera berlari menjauhi pantai mengikuti Maulana.
Gelombang raksasa itu mengempas pantai, menggulung apa saja yang ditemuinya. Pohon kelapa, bakau, bangunan, termasuk makam Syiah Kuala diterjangnya, lalu dibawa ke daratan. Maulana mengerahkan segala daya, mempertahankan diri tetap berada di permukaan air. Zikir Lá Ilaha illallah, tetapi dipertahankannya dalam hati. Mungkin inilah kiamat, pikirnya. Sesekali badannya masuk ke dalam air hitam itu karena ditabrak pohon. Ia melihat banyak orang berusaha berenang. Tetapi ada yang tidak muncul lagi ke permukaan. Entah bagaimana nasib Reza dan Agam.
Sudah hampir satu jam di dalam air, Maulana merasa sangat kepayahan. Badannya mulai lemas. Ia pikir, tidak lama lagi ia akan mati. Ia ingat ayah-ibunya, adik-adiknya. Mudah-mudahan mereka menemukan mayatku, pikirnya. Ia sudah siap mati. Tetapi kemudian dari arah depannya tampak sebuah benda besar terapung menuju ke arahnya. Kasur! Ia segera meraihnya, menaikinya, dan memegangnya erat-erat. “Alhamdulillah,” ucapnya walaupun masih ketakutan. Dua puluh menit kemudian, kasur itu membawanya ke lantai dua sebuah rumah besar. Dua orang dewasa membantunya masuk ke dalam rumah.
Maulana menangis, tetapi tidak ada yang peduli, karena semua orang sedang menangis. Maulana tidak sedang menangisi nasibnya, tapi ia sedang mengenang kejadian dua bulan sebelumnya. Di sebuah sungai kecil dekat rumahnya, seekor anak kucing hampir tenggelam. Kepalanya sudah hilang-timbul di permukaan air. Maulana sigap. Matanya cepat mencari benda yang ada di sekelilingnya. Dengan cepat, ia meraih sekeping styrofoam bekas, lalu dengan cepat ia lemparkan ke arah kucing kecil itu. Binatang itu mengerti. Dengan kaki kecilnya, ia mengayuh mengejar benda putih itu. Dapat! Lalu dengan susah payah ia berhasil menaikinya. Benda pembungkus barang elektronik itu membawanya ke tepi sungai, belasan meter ke hilir. Ia selamat. Maulana mendekatinya. Kucing itu memandangi Maulana sejenak, lalu mengeong dan pergi.
Maulana masih sesenggukan. Ia ingat pesan ustaznya di pesantren, “Ingatlah, Allah akan membalas setiap pekerjaan yang kita lakukan, sekecil apapun. Catatannya ada dalam buku memori kita masing-masing yang dipegang oleh malaikat. Kabaikan akan dibalas dengan kebaikan. Keburukan dibalas dengan keburukan juga. Balasan itu bisa jadi akan kita dapat di dunia. Tetapi, yang pasti akan kita dapatkan di akhirat nanti.” Maulana memandangi air tsunami yang mulai surut.
Bagaimana akhir hidup tergantung dari bagaimana kita memulai dan menjalani hidup. Itulah hukum tabur tuai. Apa yang ditabur, itu pula yang akan dituai kemudian hari. Tuaian bisa berupa penghakiman atau pahala atas kebaikan yang telah dibuat. Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula (QS. ar-Rahman: 60)

Komentar
Posting Komentar