'Ibrah 5: Bagaimana hidup yang sebenarnya?

MAKNA HIDUP

Assalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim

Saudara pembaca, semua kita manusia yang berada di atas bumi ini merasa bahwa kita hidup bahkan binatang hitup, tumbuh-tumbuhan hidup, bahkan ada yang berkata bahwa segala sesuatu hidup sesuai dengan hakikat dirinya tanah hidup apabila subur,  tanah yang mati apabila dia gersang tidak dapat ditumbuhi pepohonan.

Manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan, semua hidup untuk mengabdi kepada Allah Swt. Kata orang tanda hidup ada tiga; gerak, rasa dan tahu. Rasa, dibutuhkan dan dialami oleh yang hidup, bukankah ada tumbuhan yang apabila disentuh dia merasa sehingga mengkerut. Binatang, hidup karena dia bergerak, tumbuhanpun hidup karena bergerak ke atas. Dan yang tahu itu juga hidup, semut tahu apabila dia diinjak, apabila dia diganggu, dia akan meronta, demikian seterusnya.

Bagi kita manusia, hidup mestinya berkualitas. Hidup berkualitas menurut Allah Swt., dalam Al-Qur’an dinyatakan: Man ‘Amila Shalihan Min Dzakarin Aw Untsa, Wa Huwa Mu’min Fala Nuhiyannahu Hayatan Thayyiba. dan seterusnya. (siapa yang mengerjakan amal yang shalih amal yang bermanfaat dan dia percaya, maka pastilah kami akan memberi, kami akan anugerahi, kami akan hidupkan dia dengan kehidupan yang berkualitas).

Saudara, kita yang hidup di dunia ini dituntut untuk hidup berkualitas dengan melakukan aneka kegiatan. Saudara Allah telah menjadikan bumi ini mudah untuk kita huni, Allah menjadikannya mustaqar (tempat yang tenang dan stabil), serta mata (kesenangan) tapi yang bersifat sementara, hal ini karena kesenangan yang abadi ada di surga bukan di bumi. Kita hidup di negeri ini bukan untuk kekal tetapi kita akan berajalan hingga pada akhirnya kita akan menemui Tuhan Insyaallah.

Saudara, ketika Nabi Adam ‘Alaihissalam berada di dalam surga, Allah mengingatkannya, hai Adam jangan sampai engkau tergoda oleh Iblis, karena jika demikian akibatnya engkau akan bekerja keras. Mengapa demikian? Karena, lanjut ayat di surat Thaha itu, Innaka alataju’afiha wala Ta’ra (di surga kamu tidak lapar karena makanan tersedia) di surga kamu tidak telanjang karena pakaian ada, di sana kamu tidak kehausan, di sana kamu tidak membutuhkan untuk membangun tempat tinggal karena disana semua tersedia, tetapi kalau kamu turun ke bumi, kamu akan wahai Adam bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok dalam hidup. Memang manusia memiliki kebutuhan Faali yaitu yang amat pokok, makan, minum, sandang pangan dan papan. Hidup harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok itu dan tentunya surga adalah kedamaian abadi, nabi Adam telah menikmati kedamaian itu ketika dia berada di sana, dan disini dia harus dapat untuk mewujudkan bayang-bayang dengan tersedianya kebutuhan pokok manusia dan tersedianya rasa aman dan damai.

Semoga kita berhasil hidup dengan kehidupan yang berhasil dan berkualitas.

Wassalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FIKIH: FASAKH NIKAH DENGAN ALASAN SUAMI MISKIN

Dunia Rahmat: Episode 01.

'Ibrah 1: TSUNAMI 'itu' UNTUK SIAPA?

FIKIH 1: TEORI FASAKH DALAM FIKIH DAN HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA

USHUL FIQH: Kaidah Maqasidiyah

FIKIH 2: KONSEP NAFKAH DALAM FIKIH DAN HUKUM POSITIF DI INDONESIA

USHUL FIQH 1: POSISI IJTIHAD: Sebagai Metode Penggalian Hukum Islam

'Ibrah 2: 4 Mutiara Hilang Karena 4 Mungkara

Dunia Rahmat: Episode 02.

USHUL FIQH: FUNGSI FATWA SEBAGAI SOLUSI DALAM PERMASALAHAN HUKUM ISLAM (Analisis Sejarah & Perkembangannya)