Dunia Rahmat: Episode 02.



DUNIA RAHMAT: Memahami Arti kata Rahmat dalam Perbedaan Pendapat 

02: Beda itu Rahmat
***
hal utama yang kita butuhkan untuk mendapatkan rahmat dalam perbedaan adalah rasa toleransi…


Thalib yakin dia akan mendapatkan informasi dari penulis blog itu walaupun dia tidak tahu bagaimana caranya. Dia memutuskan untuk tidak menceritakan kebingungannya mengenai siapakah yang menjadi rahmat di dunia ini kepada siapapun, dia akan mencarinya sendiri dan mendapatkan pengetahuan yang lebih dengan kemampuannya.
Di kampus dia sulit memusatkan perhatiannya pada apa yang dijelaskan oleh dosen. Tampaknya mereka hanya membicarakan hal-hal yang tidak penting sama sekali. Mengapa mereka tidak membahas tentang apakah rahmat itu? atau apa saja ciri-ciri manusia yang telah disebut rahmat? atau bagaimana rahmat menjadi ada?
Untuk pertama kalinya Thalib mulai merasa bahwa di kampus dan juga tempat-tenpat yang lain, manusia hanya membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat. Padahal ada masalah serius yang harus dipecahkan.
Apakah ada orang yang dapat menjawab pertanyaan ini? Kalaupun ada apakah jawaban mereka sudah sesuai dengan harapan Tuhan sebagai Pencipta rahmat? itulah yang menjadi persoalannya sekarang.
Thalib merasa bahwa memikirkan tentang hal itu jauh lebih bermanfaat daripada menghafal nama latin berbagai hewan dan tumbuhan, bahkan biji-bijian.
Setelah pelajaran selesai, dia buru-buru meninggalkan kampus sehingga Al-Fata harus berlari mengejarnya.
Tidak lama setelah itu Al-Fata bertanya, “kenapa buru-buru? yuk kita push rank dulu di tempat biasa.”
Thalib mengangkat bahunya “Aku tidak begitu tertarik lagi pada permainan itu.”
Al-Fata kelihatan kaget. “Kamu tidak tertarik? Jika begitu mari kita main futsal, kita ajak kawan-kawan unit gabung.”
Dengan wajah lesu sambil menatap jalan, Thalib menjawab “Aku juga tidak ingin main futsal.”
“Serius! sejak kapan kamu tidak menyukai futsal?”
Thalib sadar ada nada kecewa pada suara dan raut muka sahabatnya.
 “Maukah kamu memberitahuku apa yang terjadi hingga tiba-tiba semangatmu hilang bak debu dihempas topan?”
Thalib menggelengkan kepalanya . “itu…. itu rahasia.”
“Rahasiaaaa??? Waaah jangan-jangan cintamu ditolak Zahara yaaaaa? sudahku bilang jangan mengejarnya, dia itu hanya cocok denganku... hahahaha” tawa Al-Fata membuat Thalib semakin lesu.
“Sudahlah kenapa kau malah menggodaku dengan mengungkit masalah cinta terpendamku padanya? Dia itu memang luar biasa, banyak yang menyukainya, mana mungkin aku mengutarakan cinta pada Zahara sang cahaya mutiara,L Kau sendiri tahu itu kan??
“Hehe iya ngerti-ngerti, tapi aku masih penasaran kenapa kamu tiba-tiba jadi loyo gini?” Al-Fata kembali menyinggung kenapa sahabatnya menjadi murung tak seperti biasanya.
“Entahlah aku juga tidak tahu….” Thalib berusaha merahasiakannya.

Keduanya terus berjalan beberapa saat tanpa mengucapkan sesuatu. Ketika mereka tiba di Tambak Udang milik Haji Jhoni, Al-Fata berkata, “Aku mau menyebrang lewat pinggir tambak itu saja.”
Menyebrang tambak! -itu memang jalan paling cepat untuk Al-Fata, tapi dia hanya melewati jalan itu ketika dia harus buru-buru pulang karena ada tamu atau ada janji dengan guru lesnya.-
 Thalib menyesal telah bersikap buruk padanya, namun apa yang harus dikatakan pada Al-Fata? Bahwa dia dengan tiba-tiba menjadi begitu keasyikan untuk mencari tahu sudahkah saya  menjadi rahmat bagi alam semesta, apakah gelar rahmat hanya ditujukan untuk Nabi Muhammad Saw. saja? sebagaimana yang dikatakan ustaznya itu. Dan bagaimana caranya agar dia juga menjadi rahmat bagi dirinya, keluarganya, sahabatnya, bahkan bagi dunia ini, sehingga dia tidak punya waktu lagi untuk bermain Free Fire ataupun PUBG apalagi futsal yang menghabiskan banyak waktu percuma tanpa ada manfaat sedikitpun. Apakah Al-Fata akan mengerti itu? Aku rasa jika mengatakannya sekarang dia tidak akan mengerti dan mungkin akan segera menjauhiku.
Mengapa begitu sulit agar manusia terserap dalam masalah yang paling penting? yang paling  bermanfaat? yang paling memiliki peluang untuk mendapatkan rahmat? mengapa teman-teman tidak memikirkan bahwa kegiatan yang tidak bermanfaat akan menghancurkan diri sendiri!
Sampai di rumah Thalib merasa jantungnya berdetak lebih kencang, apalagi ketika dia menghidupkan komputer dan bingung memikirkan untuk masuk ke akun blog yang kemarin atau ke akun gmail-nya terlebih dahulu. Kebingungannya buyar setelah melihat ternyata ada kotak masuk di gmail-nya. Pesan itu dari link beasiswa yang telah di daftarnya kemarin lusa dan beberapa pesan dari temannya. Ketika dia memeriksa kembali dengan seksama kotak masuk gmail­-nya tiba-tiba ada satu alamat yang tidak asing baginya, yaaa itu adalah thalibul’ilmi.com, nama akun yang membingungkanku, kenapa dia bisa mengakses alamat gmail ini? Ya Allah apa yang akan terjadi? haruskah aku buka pesannya? Kepanikan melanda pikiran dan hatinya.
Kipas angin yang ada disampingnya dia hidupkan, tidak tahu kenapa hari ini terasa panas tak seperti biasanya.
Bismillahirrahmanirrahim… dia membuka pesan itu dengan menyebut nama Allah Ta’ala. Dia ragu ilmu yang ditulis disana tidak sesuai dengan ilmu keislaman. Namun demikian, dia tidak perlu berburuk sangka, mungkin penulisnya berniat baik.
Sewaktu membukanya, dia melihat tertulis di bagian atas: “‘Ulumul Ikhtilaf. Berhati-hatilah!”
Thalib bangkit dan berlari ke dapur untuk menyiapkan makanan si Jeumpa agar tidak mengganggunya membaca. Tas yang sejak tadi masih di punggungnya dilemparkan ke kasur.
Dia kembali ke depan komputer kemudian membuka pesan yang ada lima pages ketikan Microsoft Word. Thalibpun mulai membaca….


TAHUKAH KAMU TENTANG IKHTILAF ?

Asslamu’alaikum Warahmatullahi Wa Barakátuh…
Penuntut Ilmu yang dirahmati Allah. Pernahkah terbayang oleh kita ternyata diantara manusia banyak yang memiliki hobi. Ada yang suka mengoleksi tas, ada yang senang memiliki banyak sepatu, ada yang suka mencari barang antik seperti koin, keris, cincin dan lain sebagainya, sebagian suka menjahit, yang lain hampir mengisi waktu luangnya dengan memasak, sebagian yang lain dengan olahraga, dan berbagai kesenangan yang ingin mereka kerjakan.
Banyak yang suka membaca. Namun selera membaca terkadang berbeda-beda. Sebagian orang hanya membaca koran, majalah atau bahkan manga One Piece saja, sebagian suka membaca novel cinta, sementara yang lain menyukai buku sosiologi, astronomi, filsafat, dan penemuan-penemuan teknologi.
Jika kebetulan kita tertarik pada motor Sport atau motor Vespa, kita tidak bisa mengajak orang lain untuk ikut menyukai kesenanganku. Jika “aku” suka menonton Channel Youtube yang bertema lucu-lucuan atau penggerebekan artis tengah malam, “aku” harus menyadari bahwa orang lain mungkin menganggap tema tersebut bukanlah tontonan yang baik untuk dilihat.
Walau apapun yang menjadi kesenangan kita semua, pernah tidak kita memikirkan apakah hobi yang selalu dilakukan itu penting bagi kehidupan ini? Apakah itu bermanfaat bagi kita semua? atau sudahkah hobi kita bermanfaat untuk diri sendiri? Jangan-jangan apa yang telah kita kerjakan sebenarnya tidak berguna sama sekali!
Lalu jika hal yang menyenangkan saja tidak bermanfaat untuk diri sendiri, pantaskah kita menjadi rahmat bagi dunia ini?
Sebenarnya apa saja yang bisa dianggap rahmat? Mungkin jika kita bertanya kepada orang yang sedang kelaparan, maka makanan menjadi rahmat baginya. Begitu pula apabila kita bertanya pada orang yang sedang kedinginan, rahmat untuknya adalah kehangatan. Jika kita mengajukan pertanyaan yang sama pada orang yang kesepian atau terasing, mungkin jawabannya adalah ditemani orang lain.
Namun apabila kebutuhan-kebutuhan dasar ini telah terpenuhi masihkah manusia membutuhkan jenis rahmat yang lain? Para pakar menganggapnya ada. Mereka meyakini bahwa manusia tidak bisa hidup dengan roti saja. Sudah pasti setiap manusia membutuhkan makanan. Dan setiap orang membutuhkan cinta dan perhatian. Namun mencintai ilmu tetap lebih bermanfaat daripada mencintai seseorang yang tidak berguna bagimu!
Tertarik pada pertanyaan mengapa kita harus menjadi rahmat bukanlah ketertarikan “sambil lalu” seperti mengoleksi tanaman anggrek semata. Orang-orang yang mengajukan pertanyaan semacam itu ikut serta dalam perdebatan yang cukup lama, apalagi jika penggunaan kata rahmat tersebut disandingkan dengan kata perbedaan. Pernahkah kamu mendengar Perbedaan pendapat adalah rahmat? Kok bisa berbeda menjadi rahmat?
Semalam ada acara di salah satu stasiun tv dengan tema: Beda itu Indah. Bagaimana caranya kita tetap indah jika ternyata kita berbeda dan akankah kita saling percaya jika pilihan kita berbeda. Inilah tugas yang harus kamu selesaikan, bagaimana caranya agar kamu tetap menjadi rahmat di tengah perbedaan.
Iyaa sih, jika kita melihat pelangi memang indah karena perbedaan hingga 7 warna, namun jika dikaitkan dengan agama, apakah Islam akan indah jika mempunyai perbedaan 7 warna?
Sahabat sekalian, pernahkah anda disalahkan karena telah melakukan gerakan dalam shalat yang berbeda dengan kawan anda lakukan padahal itu hanya persoalan cabang saja dalam Islam? Mengapa kita rela bermusuhan hanya untuk mendapatkan sebiji beras? dimana letaknya rahmat dalam perbedaan tersebut jika kita tidak mampu menyikapi keberagaman. Lalu seharusnya bagaimana cara yang harus dilakukan agar bisa mendapatkan rahmat dalam perbedaan pendapat? Namun walaupun demikian satu hal utama yang kita butuhkan untuk mendapatkan rahmat dalam perbedaan adalah rasa toleransi, baik internal maupun eksternal.

            Bagi pecinta ilmu, cara terbaik untuk mendekati “Rahmat” adalah dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan filosofis terhadap berbagai peristiwa dan tindakan yang dilakukan:
Bagaimana cara agar manusia menjadi rahmat bagi dunia ini? apa saja yang harus dilakukan agar rahmat dan keberkahan muncul? Hujan yang turun berkah, udara yang bertiup berkah, tanaman yang tumbuh berkah, barang tambang yang terdapat di dalam bumi berkah. Gempaaa??? BERKAH. Segala-galanya menjadi berkah, bagaimana cara kita mendapatkan itu semua?
 Apakah kamu masih menyimak Thalib? Kita akhiri dulu sampai disini ya… Wassalam.

Thalib benar-benar capek, dia bahkan tidak mampu mengingat kapan dia berhasil mencuri waktu untuk bernafas sementara dia asik membaca.
“Siapa sebenarnya yang menulis ini semua? Apa dia akan menjadi rahmat dengan cara mengajarkanku rahmat?
Thalib melihat jam. Kini jam tiga kurang seperempat.
Astaghfirullah.. aku belum shalat!
Segera dia bergegas untuk melaksanakan shalat Zuhur, kenapa dia malah dilalaikan dengan tulisan ini sampai shalatpun tak ingat, sambil berjalan dia berfikir “bagaimana mungkin saya menjadi rahmat jika shalat yang merupakan tiang agama saja hampir lupa untuk dilakukan”.
Selesai shalat, Thalib kembali melihat komputernya, barangkali masih ada pesan lain yang sudah dikirimkan.
Dia menemukan satu lagi pesan dari orang yang sama, kali ini jumlah halamannya lebih banyak dari sebelumnya. Thalib kembali membaca….

To Be Continued.

***




Komentar

Postingan populer dari blog ini

FIKIH: FASAKH NIKAH DENGAN ALASAN SUAMI MISKIN

Dunia Rahmat: Episode 01.

'Ibrah 1: TSUNAMI 'itu' UNTUK SIAPA?

FIKIH 1: TEORI FASAKH DALAM FIKIH DAN HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA

USHUL FIQH: Kaidah Maqasidiyah

FIKIH 2: KONSEP NAFKAH DALAM FIKIH DAN HUKUM POSITIF DI INDONESIA

USHUL FIQH 1: POSISI IJTIHAD: Sebagai Metode Penggalian Hukum Islam

'Ibrah 2: 4 Mutiara Hilang Karena 4 Mungkara

USHUL FIQH: FUNGSI FATWA SEBAGAI SOLUSI DALAM PERMASALAHAN HUKUM ISLAM (Analisis Sejarah & Perkembangannya)