Dunia Rahmat: Episode 01.


DUNIA RAHMAT: Memahami Arti kata Rahmat dalam Perbedaan Pendapat

01: Rahmatkah kita
***
…pada setiap saat menusia butuh rahmat dan selalu ingin menebarkannya…


Thalib Habiburrahman sedang dalam perjalanan pulang dari Majelis Taklim. Dia telah menempuh paruh pertama perjalanannya bersama Al-Fata. Mereka membicarakan tentang game online terbaru. Al-Fata beranggapan bahwa kehidupan manusia seperti sebuah game yang sangat canggih yang dikontrol oleh admin gamenya. Thalib tidak terlalu sepakat. Tentunya kehidupan manusia bukan sekedar potongan perangkat lunak, bukan juga hanya dunia yang bisa diakses dengan data seluler semata!
          Ketika sampai di persimpangan Ibnu Rusyd, mereka berpisah. Thalib tinggal di daerah pinggiran kota dan jaraknya dari Masjid Jamik tempat Majelis Taklim hampir dua kali lebih jauh dari tempat tinggal Al-Fata. Tidak ada rumah lain di sebelahnya. Jadi rumah itu seakan-akan berada di ujung dunia. Di dekat situ terdapat hutan yang cukup lebat.
Dia berbelok menuju Siratal Mustaqim. Di ujung jalan ada tikungan tajam, yang dikenal dengan Sinapet Road’s. Orang-orang jarang melewati jalan itu, kecuali hanya pada akhir pekan saja.
Di awal bulan Februari ini, beberapa pepohonan telah dikelilingi buah yang bertandan cantik nan indah bak taman firdaus. Pohon rambutan telah diselimuti warna merah buah yang siap untuk di panen.
Sungguh luar biasa alam ini, betapa semuanya bersemi pada musim ini! Apa yang membuat limpahan warna merah yang melekat pada buah-buahan yang bermunculan dari bumi yang mati kemudian mendapatkan kehangatan setelah sisa-sisa banjir yang berakhir menghilang?
Ketika Thalib membuka pintu kamar rumahnya, dia memandang ke komputer yang selalu digunakannya untuk bermain game. Biasanya ada banyak hal yang dicari menggunakan komputer tersebut dan ada juga beberapa riwayat tentang resep masakan yang dibuka oleh kakaknya. Tumpukan halaman browser sering dilewatinya begitu saja sebelum dia memulai pencarian baru berkaitan dengan bahan yang akan dibuat untuk tugas kampus.
Sering kali ada beberapa e-mail yang masuk ke akunnya yang menanyakan kabar abangnya. Abang Thalib bukanlah abang biasa, dia adalah nahkoda sebuah tanker minyak besar, dan selalu berpergian hampir sepanjang tahun. Selama beberapa minggu ketika dia berada di rumah, dia akan sibuk kesana kemari untuk membuat rumah agar enak dan nyaman bagi Thalib dan kakaknya. Namun ketika dia berada di laut, dia tampaknya sangat jauh.
Berbagai bahan di-browsing agar mendapatkan data untuk tugasnya, tiba-tiba dia memasuki sebuah akun yang bernama Thalib (waaah J namanya sama dengan namaku). Pintu kamar yang sejak tadi terbuka di tutup, dengan teliti dia memerhatikan kata demi kata yang disusun dengan seksama, apa isinya? tidak disebutkan informasi lengkap tentang penulisnya.
Setelah membuka halaman browser tersebut, tertulis kata yang sangat sederhana yang berbunyi Siapakah yang menjadi rahmat di dunia ini?
Tidak ada kata yang lain, hanya itu kalimatnya dan diakhiri dengan tanda tanya besar.
Dia kembali me-refresh halaman tersebut, mungkin ada yang tidak terbaca semua karena pengaruh wifi yang tinggal sedikit paket datanya.
Apa maksud kalimat tersebut?
Thalib memastikan kembali bahwa kamarnya telah terkunci dengan baik agar kakaknya tidak sembarangan memasukinya. Namun sebagaimana biasa kucing yang diberi nama Jeumpa selalu berada di kamar Thalib untuk menemani kesehariannya.
Ketika kakak Thalib sedang gundah gulana (galau), dia akan menyebut rumah mereka dengan sebutan kandang. Hal ini dikarenakan Thalib sangat menyukai binatang. Dia memiliki kolam besar di belakang rumahnya yang berisikan ikan mas, mujaer, gurame, bahkan ada satu lele raksasa sebesar paha orang dewasa. Dia juga mendapatkan lima ekor burung jalak di hutan samping rumahnya yang dinamai dengan Sigam, Sinong, Siwet, Sigabuk dan Siseungap. Semua binatang itu dijadikan teman untuk bercerita dan melepas penat setelah menempuh ruwetnya kehidupan kuliah. Bahkan abangnya pernah memberikan seekor kuda agar bisa bersenang-senang sekaligus menjadi hobi yang menarik, namun kuda yang diberi nama Ruméh tersebut mati beberapa bulan yang lalu karena penyakit yang dideritanya.
Thalib melemparkan Smartphone-nya ke tempat tidur dan memberikan makanan untuk kucing peliharaannya. Lalu dia duduk memikirkan isi blog yang tadi dia buka.

Siapakah yang menjadi rahmat di dunia ini?
Dia tidak tahu pasti, dia berpikir mungkinkah semua makhluk yang baik itu adalah rahmat, tentu saja. Namun yang pasti pada setiap saat menusia butuh rahmat dan selalu ingin menebarkannya, tapi apakah Thalib juga bisa menjadi rahmat? Dia benar-benar belum mengerti sepenuhnya mengenai rahmat tersebut.
Thalib mulai memikirkan sesuatu yang sama sekali tidak dipahaminya, sebagai pemuda yang baru hijrah ke jalan yang lebih baik, sepertinya dia belum menjadi rahmat. Lalu siapa orang yang menjadi rahmat di dunia ini? Yaaaa mungkin para ustaz yang mengajar di pengajian tersebut adalah rahmat. Namun ustaz itu memiliki guru lain, lalu apakah rahmat yang ada padanya itu berpindah kepada guru dari ustaz tersebut?
Dengan gambaran kalimat yang aneh terbayang dikepalanya dia beranjak ke lemari yang ditempel cermin besar di depannya. Thalib berdiri di depan cermin dan menatap dirinya yang masih memakai baju koko serta sarungnya, dia menatap mata orang yang ada di depannya dan bertanya apakah kamu sudah menjadi rahmat di dunia ini? Apakah jenggot yang baru tumbuh itu merupakan syarat agar engkau menjadi rahmat bagi dunia? Pria yang di dalam cermin tidak menjawab pertanyaan Thalib. -Yaaa kalau pria itu menjawab maka akan menjadi pengalaman yang paling menyeramkan yang pernah dialaminya.-

Bukankah aneh jika kita tidak mengetahui bahwa apakah kita sudah menjadi rahmat di dunia ini? Sudah adakah manusia yang benar-benar dinyatakan sebagai rahmat di dunia ini?
Saya rasa pasti ada manusia itu, lalu siapa? siapa manusia yang menjadi rahmat di dunia ini, apakah aku, kamu atau dia? Ketika memikirkan soal-soal yang muncul dikepalanya seketika dia teringat penjelasan gurunya, bahwa sebenarnya ada manusia yang telah diberikan gelar rahmat, dia adalah Nabi Muhammad Saw., ustaz bilang gelar tersebut terdapat dalam Alquran yang agung namun surat yang keberapa? dia lupa lanjutan penjelesan gurunya itu.
Berangkat dari cermin, dia mengambil Smarphone-nya dan membuka Alquran yang baru di download beberapa hari yang lalu, di mencoba mencari pada menu pencarian yang ada pada Aplikasi Alquran dengan kata kunci “Rahmat”…. Banyak sekali ayat yang menyebutkan kata rahmat; QS. Al-Baqarah ada 6 ayat, Ali Imran ada 6 ayat, An-Nisa’ ada 4 ayat, Al-An’am 6 ayat, Al-A’raf 14 ayat, At-Taubah 4 ayat, Yunus 4 ayat, Hud 10 ayat, Yusuf 4 ayat, Al-Hijr 1 ayat, An-Nahl 2 ayat, Al-Isra’ 8 ayat, Al-Kahfi 5 ayat, Maryam 4 ayat, Al-Anbiya’ 4 ayat, Al-Mu’minun 2 ayat, An-Nur 5 ayat, Al-Furqan 1 ayat, An-Naml 4 ayat, Al-Qasas 5 ayat, Al-‘Ankabut 3 ayat, Ar-Rum 5 ayat, Luqman 1 ayat, Al-Ahzab 3 ayat, Fatir 1 ayat, Ya-Sin 2 ayat, Sad 2 ayat, Az-Zumar 3 ayat, Ghafir 2 ayat, Fussilat 1 ayat, Asy-Syura 3 ayat, Az-Zukhruf 1 ayat, Ad-Dukhan 2 ayat, Al-Jasiyah 3 ayat, Al-Ahqaf 1 ayat, Al-Fath 1 ayat, Al-Hujurat 1 ayat, Al-Hadid 2 ayat, Al-Mujadilah 1 ayat,  Al-Mulk 2 ayat, Al-Insan 1 ayat, Al-Mursalat 1 ayat, Al-Kausar 1 ayat.
Semua ayat di atas menyebutkan kata rahmat, namun dia belum menemukan kalimat yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad adalah rahmat, ayat ke berapa dan surat yang manakah itu? Thalib yang baru berhijrah mulai kebingungan memikirkan banyaknya isi dalam Alquran yang tidak bisa sama sekali dia hafal bahkan walau hanya nama surat saja, bagaimana mungkin aku menjadi rahmat jika nama surat dalam Alquran saja aku tidak hafal! Ya Allah ampunkan hamba-Mu ini.
Kini Thalib punya masalah yang mengganggu dan menjadi tanggung jawabnya untuk mencari solusi tersebut. Siang ini hanya dalam waktu satu jam dia telah dihadapkan pada tiga masalah. Masalah pertama dia berhenti mencari data untuk bahan kuliahnya gara-gara tulisan di blog tersebut. Yang Kedua, satu pertanyaan sulit yang tertera dalam tulisan tersebut. Ketiga adalah siapa yang orang yang menulis pertanyaan tersebut dan siapa pemilik blog itu. Namun walaupun Thalib merasa sulit menjawab pertanyaan itu, dia yakin permasalahan tersebut pasti bisa diselesaikan dengan baik olehnya, Insyaallah.

To Be Continued...

***

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

FIKIH: FASAKH NIKAH DENGAN ALASAN SUAMI MISKIN

'Ibrah 1: TSUNAMI 'itu' UNTUK SIAPA?

FIKIH 1: TEORI FASAKH DALAM FIKIH DAN HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA

USHUL FIQH: Kaidah Maqasidiyah

FIKIH 2: KONSEP NAFKAH DALAM FIKIH DAN HUKUM POSITIF DI INDONESIA

USHUL FIQH 1: POSISI IJTIHAD: Sebagai Metode Penggalian Hukum Islam

'Ibrah 2: 4 Mutiara Hilang Karena 4 Mungkara

Dunia Rahmat: Episode 02.

USHUL FIQH: FUNGSI FATWA SEBAGAI SOLUSI DALAM PERMASALAHAN HUKUM ISLAM (Analisis Sejarah & Perkembangannya)