'Ibrah 1: TSUNAMI 'itu' UNTUK SIAPA?
TSUNAMI ‘itu’ UNTUK SIAPA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Asslamu’ailakum Warahmatullahi wa Barakatuh,
Alhamdulillahi Rabbi al-‘Alamín. Nahmaduhu wa Nasta’inuhu wa nastagfiruh.
Asyhádu allá iláha illallah wahdahula syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘Abduhu Wa Rasuluhu, La nabiya ba’dah.
Pembaca yang budiman, tulisan ini ingin mengajak kita semua agar sama-sama menjadi orang yang selalu bertakwa kepada Allah Swt. dengan menjunjung tinggi segala perintah dan menjahui segala larangannya, baik dalam keadaan sendiri maupun sedang bersama teman, kerabat, kekasih (istri), maupun bersama komunitas masyarakat. Semangat amar makruf dan nahi mungkar ini kita salurkan juga kepada sanak keluarga, anak, istri dan seluruh orang yang berada di bawah kewenangan kita, agar bisa mencapai jabatan yang sama, yaitu jabatan takwa.
Sekitar 14 tahun yang lalu, sebuah bencana besar melanda negeri ini. Peristiwa itu digadang-gadang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal itu dikarenakan kejadian tersebut memberikan inspirasi yang kreatif. Tak hanya menghasilkan luka dan duka, tak hanya memberikan cerita derita nestapa, namun juga mendorong umat manusia untuk memikirkan apa, mengapa dan bagaimana mengatasinya?
Penelitian terhadap tsunami dan kebencanaan dilakukan diberbagai wilayah negeri bahkan seluruh dunia karena terinspirasi dari kejadian dahsyaaaat tersebut. Sebelumnya memang pernah terjadi tsunami namun dalam skala yang jauh lebih kecil dan dampak yang sangat-sangat terbatas. Kematian dan kerusakan yang dihasilkan betul-betul dalam jumlah yang sedikit. Namun TSUNAMI 2004 di Aceh. itu disebut-sebut sebagai tsunami terbesar!
Pembaca yang budiman… kumpulan pengkajian dilakukan karena didorong oleh keingintahuan manusia terhadap fenomena alam semesta, maka merekapun mempelajari dari berbagai sisi serta sudut pandang dan dibentuk pusat-pusat bencana, kemudian diajarkan berbagai matakuliah yang berkaitan dengan kebencanaan, melahirkan banyak sekali buku dan karya bahkan terbentuk teori-teori tentang tsunami. Satu di antaranya adalah, kalau terjadi gempa dengan skala tertentu, kedalaman tertentu, dan gempanya berpusat di laut, maka sekian menit setelah gempa itu, akan terjadi tsunami. Ini dicatat dan disebarluaskan di berbagai wilayah negeri ini terutama yang dekat dengan pantai. Dibangunlah semacam warning,semacam alarm, semacam sirine untuk mengingatkan masyarakat yang ada disekitarnya kalau gempa terjadi dengan skala tertentu, dan diprediksikan dalam kedalaman tertentu, berpusat di bawah laut maka akan berbunyi sirine untuk memberikan warning, maka masyarakat yang mengetahui akan berlari ke tempat yang lebih tinggi. Banyaaak sekali pembelajaran tentang gempa dan tsunami dipelajari oleh semua anak negeri.
Yaaa, berhasil manusia memperlajarinya, berhasil mengurai dan mengulasnya, berhasil memberikan pembelajaran-pembelajaran terbaik semampu yang dilakukan oleh manusia. Tetapi beberapa bulan yang lalu gempa terjadi di Palu, setelah warning tsunami dicabut, orang-orang kembali ke kediaman masing-masing, Tsunamipun terjadi! Karena batas waktu yang diukur sebelumnya ternyata meleset…. MANUSIA tak SEMPURNA pengetahuannya. Namun dicoba koreksi kembali. Kalau begitu durasi waktu antara gempa dan tsunami bukan hanya 30 menit, tetapi di perpanjang menjadi 1 ½ jam. Masyarakatpun menjadi lebih pintar, menjadi lebih bijaak, manusiapun menjadi lebih banyak ilmu dan kaya teori, kalau terjadi gempa lagi maka 1 ½ jam kemudian menghindari pantai atau tempat-tempat terdekat dengan lautan.
Beberapa hari yang lalu tsunami kembali terjadi di Banten, tanpa didahului oleh gempa. Awalnya para pemikir pusing kepala, lalu sekarang mereka menyusun teori lagi, menkaji berbagai sisi, memperlajari berbagai aspek yang terhubung dengannya. Kemudian muncul pemahaman bahwa tsunami di Banten terjadi gara-gara anak Krakatau.
Yaaa! kita tidak tahu masa depan, kita tidak mampu memprediksi apa yang terjadi nanti dan esok, boleh jadi tsunami akan diberikan oleh Allah dalam bentuk yang sama sekali berbeda dengan sebelum-sebelumnya. MAUNYA manusia menginsafi benar-benar bahwa pikiran dan pengetahuannya tak sempurna. MAUNYA manusia benar-benar pasrah dan tidak berdaya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam Alquran telah disebutkan bahwa Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan betakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,…. (Alquran Surat Al-A’raf ayat 96). Hujan yang turun berkah, udara yang bertiup berkah, tanaman yang tumbuh berkah, barang tambang yang terdapat di dalam bumi berkah. Gempaaa??? BERKAH. Segala-galanya menjadi berkah. Dengan syarat beriman dan bertakwa!
Empat belas tahun yang lalu, masyarakat yang tinggal sekitaran pantai di Banda Aceh, umumnya menghindari, berlari, berupaya mencari keselamatan, mencari keamanan. Sebagian di antaranya sempat masuk ke dalam mesjid Jamik Kampus Darussalam, Mesjid Kopelma. Sepertinya waktu itu jumlah orang yang mengungsi ke mesjid lebih seribu. Semuanya larut dalam zikir dan takbir serta menangis mencucurkan air mata.
Zikir tersebut dianggap zikir yang paling sempurna, yang paling orisinil, yang paling murni, yang paling asli serta air matapun keluar benar-benar tanpa rekayasa. Jauh lebih asli dan murni dibandingkan dengan 1001 zikir setelah itu, walaupun dipimpin oleh Syekh Samunzir, Ustaz Arifin Ilham, oleh siapapun. Tidak ada getaran sempurna pada zikir-zikir yang pernah dilakukan oleh manusia setelah itu. Ternyata dari sisi ini, musibah membawa berkah, musibah memberikan kedekatan dengan Allah Swt.
Yaaa memang ada luka, memang ada duka, memang ada nestapa, tetapi disana kita merasa berhadap-hadap dengan Allah. Persoalannya sekarang adalah akankah kita menanti dan menunggu bencana-bencana besar baru kita merasa berhadap-hadap dengan Allah???
اَفَاَ مِنْ اََهْلُ الْقُرَى اَنْ يَّأْ تِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُوْنَ.
Maka, apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur?
.اَوَاَمِنَ اَهْلُ الْقُرَى اَنْ يَّأْ تِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُوْنَ.
Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada hari ketika mereka sedang bermain?
Ini adalah rangkaian dan lanjutan dari Surat Al-A’raf ayat 96 sampai 98 untuk menunjukkan betapa iman itu terpenting, betapa takwa itu modal utama. Dengan berbekal iman dan takwa itu, apapun yang terjadi, niscaya berkah!
Manusia bisa lari dari tsunami, manusia bisa saja membuat cara ataupun strategi, tetapi manusia tidak bisa lari dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memang manusia tak perlu lari dari Allah, yang perlu adalah upaya-upaya yang harus kita lakukan sepanjang hari, sepanjang masa, sepanjang waktu, setiap kesempatan untuk mendekatkan diri dengan Allah. Dan mengajak orang-orang terdekat kita serta orang-orang yang mau mendengarkan kita untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah. Wa Lakin Kazzabu Fa Aghaznahum bima kánu yaksibun (Sayang sekali, manusia sering memutarbalikkan fakta). Makna Kazzabu bukan hanya berbohong. Berbohong itu adalah meniadakan yang ada atau mengadakan yang tiada. Sedangkan memutarbalikkan fakta adalah melakukan perlawanan terhadap kenyataan dan terhadap keadaan. Kebenaran tau, tetapi kita cari sisi filosofisnya untuk mengatakan yang benar itu keliru dan salah. Kesalahan itu tercela, tetapi kita cari sisi-sisi baiknya sehingga bisa kita terima walaupun dengan catatan.
Media-media massa diakhir tahun ini menjejali, sejumlah tokoh dimanfaatkan tanpa mereka sadari untuk melafazkan kalimat-kalimat dan lafaz-lafaz yang bisa membawa manusia pada kesyirikan dan kekufuran, tetapi masih saja mencari nilai filosifisnya bahwa ini benar, bahwa ini baik, bahwa ini toleransi, bahwa ini untuk kebersamaan,bahwa ini macam-macam.
اَفَاَ مِنْ اََهْلُ الْقُرَى اَنْ يَّأْ تِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُوْنَ.
Kita tidak boleh merasa aman, jangan sampai saat kita tatap telivisi atau media masa lainnya, atau media sosial atau handphone yang ada ditangan kita sedang kita pandang dengan baik kalimat-kalimat indah yang mengucapkan hal-hal yang berwarna kesyirikan dan kekufuran, lalu bencana datang tiba-tiba, “Meu silop tan metemé soek”.
Pembaca tulisan singkat yang berbahagia, sekali lagi empat belas tahun yang lalu, negeri kita diterpa oleh bencana yang amat sangat dahsyat, yang menyisakan luka dan duka, banyak cerita tetapi terpenting bahwa telah memberikan inspirasi kepada manusia untuk mengatasi dan menghadapinya, banyak teori dan ilmu telah disiapkan mengenai kebencanaan dan cara evakuasinya. Namun ada hal yang perlu diperhatikan, bahwa Allah memiliki lebih dari 1001 cara yang bisa dilakukan. Jika seadainya dikatakan berlarilah ke tempat yang lebih tinggi! Allah dengan mudahnya mengubah tempat yang tinggi menjadi tempat yang paling rendah.
Sekali lagi, bagi kita orang yang beriman, kembali kepada Allah, bukan berlari dari-Nya, jangan berupaya memutarbalikkan fakta. Kebenaran itu nyata, (Al-Haqqu Min Rabbika Falátakunanna Mina al-Muhtadín) Kebenaran sesungguhnya hanya darinya, hanya dari Allah tinggal kita apakah sanggup mengikuti, mengamalkannya, kalau belum sanggup yaa apa boleh buat, berhenti sampai disitu. Tetapi jangan kita terjebak dalam upaya untuk melawan syariat-Nya, untuk mencari sisi-sisi kelemahan, untuk mengatakan bahwa itu keliru, ada yang lain menurut kita yang dibawa oleh orang-orang yang tidak sepaham, tak seagama dengan kita.
Mohon maaf atas segala kekurangan.
Assalamu’alaikum, warahmatullahi wabarakátuh…. :)
Komentar
Posting Komentar